Takziah Menghibur Dan Membesarkan Hati

Innalillahi wa innaillahi rojiun. Hari ini kembali berpulang satu kawan, soeorang kawan dari masa kecil. Dia tentu saja masih muda seusia saya, satu tahun lebih tua usianya. Meninggalkan suami dan 3 anak yang terkecil baru saja dilahirkannya beberapa bulan/minggu lalu.

Sore tadi saya pergi bertakziah ke rumah duka. Rumah kosong yang nyaris sudah tidak ditempati. Rumah dimana saya melihat keluarga ini di masa lalu ceria dan berkumpul tatkala masih ada ibu dan bapak mereka. Bahagia, lengkap dan berkumpul.

Jika mengingat kembali ke masa lalu saya jarang sekali ikut pergi bertakziah selama masih bisa diwakilkan oleh orang tua saya. Mungkin sesekali bertakziah ke teman maupun keluarga teman yang sudah akrab sekali.

Namun sejak meninggalnya bapak saya, saya lebih giat bertakziah ke setiap kenalan saya yang berpulang. Dorongan hati lebih besar dan langkah begitu ringan melakukannya. Mengapa, taukah alasannya?

Saya yang untuk pertama kalinya merasakan kehilangan anggota keluarga ketika bapak saya meninggal dunia merasakan sendiri betapa besarnya hati saya setiap ada saudara, kenalan, kawan bahkan tetangga yang datang bertakziah.

Bertakziah memang salah satunya dimaksudnya untuk mengucapkan rasa bela sungkawa terhadap keluarga seseorang yang meninggal. Kala bertakziah kita diharapkan untuk tidak lupa mengucapkan kalimat2 hiburan sehingga keluarga yang berduka tidak larut dalam kesedihan. Mampu bersabar atas musibah yang sedang diterima dan menjaga lisan untuk selalu mengucapkan hal2 baik mengenai almarhum/almarhumah.

Saya merasakannya sendiri, pernah tau rasanya. Berbondong-bondongnya orang lain bertakziah ketika bapak saya wafat walau tak semuanya bercakap secara pribadi namun hadirnya mereka di rumah seakan membawa pesan bahwa bapak saya adalah seseorang yang berarti bagi mereka. Hadirnya mereka bertakziah menyiratkan keikhlasan mereka mengantarkan bapak saya ke tempat peristirahatan terakhir dan mungkin juga ikhlas memaafkan segala kesalahan bapak terhadap mereka.

Takziah dan ucapan hiburan tamu yang datang membesarkan hati bahwa keluarga saya tidak sendirian. Orang lain pun menyampaikan rasa kehilangan yang sama. Tidak sedikit saya mendengar diantara mereka mengatakan semua kebaikan bapak saya kepada mereka selama hidup. Semuanya melegakan hati dan menentramkan jiwa.

Karena itulah setelah saya tau rasanya saya lebih menggiatkan diri melakukannya kembali kepada orang lain. Hal yang rasanya dulu tidak sering saya lakukan kini saya biasakan menyisihkan waktu. Tidak hanya musibah meninggal, rasanya berlaku juga ketika kita mendapatkan kabar kawan maupun saudara jatuh sakit. Menengoknya menjadi keinginan diri.

Semua karena saya pernah tau rasanya. Takziah menghibur dan membesarkan hati. Dan Allah menyukai kita melakukannya.

Innalillahi wi innaillahi rojiun. Selamat jalan teman, lupakan kehimpitan hidup dan beristirahatlah dengan tenang. Semoga Allah memberikan tempat terbaik dan jalan yang lapang untukmu kembali. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s