Para Pencinta Kucing

saya punya beberapa teman yang sangat suka dan sayang sama kucing. Walau saya bukan salah satu diantaranya, namun seringkali saya seakan menganggap kucing2 teman saya anggota keluarga mereka. Karena seperti itulah teman2 saya memperlakukannya.

Hari ini saya berkunjung ke sebuah keluarga, rumah ibu kost dulu tempat beberapa teman saya ngekost. Saya mengenal si Ule kucing kesayangan Ibu pemilik rumah dan anak tunggalnya. Bahkan Ule diperlakukan seperti anak sendiri, dipanggilnya ade sedangkan kakak adalah anak si ibu yang gadis🙂

Ibu dan anak keluarga itu memperlakukan ule seperti manusia aja. Menyapa, mengobrol, dan hebatnya si Ule seperti mengerti percakapan2 itu. Perasaan dan ekspresi Ule juga disikapi seakan Ule betul anggota keluarga.

Ule di vaksin, diberi makan, ditangisi ketika berhari-hari pergi dari rumah, diomelin ketika ketauan berantem ama kucing lain, sampai pernah di rawat di klinin hewan akibat terluka pasca berantem.

Seminggu ini Ule punya adik, si Puti. Kucing kecil yang baru saja di adopsi. Si Puti dipanggi ade, si Puti manggil Ule Mas (hahaha). Dan pemilik memperlakukan mereka sama seakan dua adik kakak yang bisa saja saling cemburu.

Ada lagi kawan saya di Kampus, Ira. Dia punya kucing bernamaa Ncen. Dari profil pic FB dulu pakai foto ncen, di kantor rasanya semua tau Ncen. Waktu ditinggal ke Paris Ncen pun ditinggal sama suaminnya. Sayang kayaknya Ncen gak bertahan hidup lama setelahnya. Saya lupa kenapa.

Di twitter saya punya teman pasangan suami Istri Vita dan Shandi yang suka sama kucing. Seringkali mendengar mereka mengawinkan, membersihkan kandang2 kucing, sampai menemani melahirkan. Kucingnya di foto dan beberapa yang saya lihat lucu2.

Dahulu tetangga saya nenek tua punya puluhan kucing di rumahnya. Dia sayang sekali. Rumahnya sampai bau kucing. Di zaman saya kecil bahkan saya pernah liat nenek tua yg lain menyusui kucingnya. Hiiy …🙂

Zaman saya SD, saya punya teman yang suka kucing. Jika saya berkunjung ke rumahnya apapun yang di makan teman saya jika kucing itu mengeong maka teman saya itu membagi dua makanannya dengan si kucing. Tangan yang sama dipakai untuk menyodorkan makanan ke si kucing juga ke mulutnya sendiri.

Saya seringkali takjub melihat mereka. Kadang berpikir saking sayang dan meresapi interaksi mereka dengan kucing seringkali kucing seakan mengerti juga berkomunikasi dengan pemiliknya.

Saya tidak terlalu suka dengan hewan peliharaan termasuk kucing. Namun saya tidak takut maupun jijik. Hanya tidak suka aja bersentuhan. Namun beberapa waktu ini saya seakan punya kucing juga sih. Kucing rumah sebelah yang ditinggalkan pemiliknya pindah rumah sementara ke Bandung. Kucing tersebut kerap meminta makan dan kami sediakan makanan. Tapi saya membatasinya hanya sampai situ saja. Tidak ada sentuhan, tidak ingin melayaninya menye2 depan saya. Hanya merasa kewajiban aja terhadap tetangga sebelah yang dulu anaknya sayang sekali dengan si choki ini. Lagian kasian juga kalo lapar, sebatang kara lagi.

Yang gak suka bahkan takut kucing juga ada. Golongan2 bertolak belakang dari kelompok pertama. Ada Wiwi yang super takut dengan kucing. Dia harus angkat kakinya jika sedang makan di warung2 jajanan lalu ada kucing. Atau menjerit ketakutan hingga mau menumpahkan sambel di meja tukang bubur saat merasakan kucing melewati kakinya. Ketakutan ini ditularkan ke anak sulungnya yang TK.

Istri teman saya juga takut dan jijik dengan kucing. Dia adalah The Uwie kakak pasangan suami istri Vita dan Shandi. Teh Uwie ini juga bersebrangan dengan sayangnya suami dan anak2 terhadap kucing kampung mereka si Bica.

Karena saya pihak netral saya masih bisa tertakjubkan menyaksikan para penyanyang kucing ini. Menonton bagaimana mereka mengaitkan perasaan dan perhatiannya untuk seekor binatang yang dimata saya “ah hanya kucing, apa istimewanya”.

Namun itu kan dari sudut pandang saya, saya tidak tau persis seperti apa rasanya menjadi mereka. Suka dan merawat binatang lalu kemudian sayang seperti keluarga. Yang jelas keberadaan penyayang kucing ini menyodorkan fakta bahwa banyak orang disekeliling saya hidup dengan gaya berbeda. Mereka memilih menandai hidupnya dengan menjadikan diri mereka orang2 penyayang binatang. Sayang saya sama sekali tidak. Peduli namun tidak memiliki ikatan emosional.

Kalo kamu, suka binatang apa? Jangan sampai suka dan sayang sama kutu di kepala ya. Mending kucing seperti kawan2 saya di atas.🙂

6 thoughts on “Para Pencinta Kucing

  1. gue gak suka hewan peliharaan, soalnya banyak yang mati di tangan gue :p
    dulu pernah punya anjing, kucing, perkutut, ampe ikan hias kecil aja baru dipelihara bentar udah mati.

    lagipula menurut gue binatang2 itu gak sepatutnya lah dipelihara.. kesian..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s