Mendidik Diri Sendiri

Jika mendengar kata pendidikan, bayangan kita pastinya terbayang dengan istilah SD, SMP, SMA, Sarjana, S2,dst. Tentu saja, sekolah formal menjadi salah satu tempat dimana kita sedari masih kanak-kanak mengenyam pendidikan. Belajar menulis dan membaca, berbicara di depan orang lain, berinteraksi dengan kawan, mengutarakan pendapat, berkreasi dan diberi banyak wawasan serta ilmu.

Namun tentu tidak hanya sekolah saja sumber kita memperoleh ilmu. Keluarga sebagai lingkup terkecil dan terdekat jelas memiliki kontribusi besar terhadap pendidikan. Bukan hanya yang terdekat, keluarga jelas merupakan sumber pendidikan paling awal dan dasar.

Selain itu pun pendidikan bisa diperoleh dengan seiring kita menjalani kehidupan. Belajar dari orang lain, belajar dari masalah, belajar dari interaksi-interaksi dengan orang lain. Proses mendidik diri tidak hanya berhenti di dalam keluarga, pun tidak hanya sampai dengan jenjang-jengjang pendidikan formal. Pendidikan adalah kehidupan itu sendiri yang sehari-hari kita titi.

Definisi terdidik menurut saya bukan hanya dengan berhasilnya seseorang meraih ijazah dari pendidikan formal. Namun terdidik adalah kondisi dimana kita menjadi orang yang semakin baik dan memiliki nilai tambah setelah melalui pendidikan2 tadi. Keluarga, Sekolah hingga sosial kemasyarakatan.

Benar ketiganya penting, tidak sedikit orang yang beruntung mendapatkan ketiganya. Lahir dari keluarga yang mengedukasi dengan pas, punya kesempatan meraih pendidikan formal setinggi-tingginya, dan hebatnya masih lolos dari pendidikan sosial bermasyarakat dengan baik. Sehingga kemudian menjadi pribadi yang penuh guna dan manfaat serta bernilai tinggi di hadapan orang lain.

Disisi lain tidak kalah banyak orang yang hanya mendapatkan salah satunya saja. Misalnya dia besar menjadi anak baik dan santun serta positif karena keluarga membentuknya dengan baik, namun hanya mampu mengenyam sekolah hingga jenjang SMA saja.

Bisa jadi ada yang lahir dari keluarga non ideal namun memiliki keberuntungan untuk sekolah setinggi-tingginya. Hingga karena pendidikan tadi seseorang terbawa ke posisi tinggi dan terpandang di hadapan orang lain.

Ada pula kasus perkecualian lain. Anak yang tidak mendapat pendidikan keluarga yang baik.sementara dirinya pun tak mengenyam pendidikan formal dengan layak, namun kehidupan mengajarinya dengan baik. Seseorang belajar tentang berjuang dalam hidup yang keras, pantang semangat dan merengkuh nilai2 kebijaksanaan hidup.

Pendidikan-pendidikan tadi hanya jalan dan proses menjadi manusia seperti apa kita terbentuk. Keberhasilan hidup dan kesuksesan sepertinya kembali ke pribadi kita masing-masing sejauh mana kita memanfaatkan pendidikan yang kita peroleh.

Mendapatkan pendidikan mana pun rasanya ukuran akhirnya adalah sejauh apa kita berubah menjadi pribadi yang lebih baik bagi diri dan orang lain. Definisi keberhasilan pendidikan itu sendiri pun akhirnya kembali ke diri sendiri bagaimana seseorang memaknai keberhasilan hidupnya. Apa ukurannya kebahagiaan, pangkat, harta, jabatan dan gelar atau cukup puas dengan riang bisa melakukan hal yang disukai dan manfaat demi orang lain.

Berpikir semacam ini membuat saya bangga saya mendapat kesempatan sekolah hingga perguruan tinggi. Tidak bohong melalui sekolah tentu kita membuka kesempatan-kesempatan lain dalam hidup. Tapi saya tetap berpikir baik kepada orang lain yang mungkin sekolahnya lebih rendah jenjangnya. Saya selalu memperhitungkan keberadaan jenis pendidikan lainnya. Tidak menjadikan saya lebih tinggi hati dan sombong. Begitu pula kala melihat orang lain berpendidikan formal melebihi saya, tidak terbersit sedikit pun rasa dengki dan rendah diri di hadapan mereka. Iri dan termotivasi tentu saja baik, namun tidak sampai cukup mengganggu kesantaian hidup saya.

Kehidupan yang akan bicara dan menunjukan manfaat dari pendidikan2 yang kita kenyam. Hasil akhirnya tentu saja bukan hanya dari lembaran ijazah yang kita raih, tapi kisah dan cerita kehidupan kita seluruhnya.

Jadi untuk apa sombong terhadap orang lain? Seakan hanya diri kita sendiri yang terdidik dan seakan berpikir diri kita yang terbaik dari semua yang terdidik. Semoga Allah selalu menyelipkan setitik kebijaksanaan kepada hati dan pikiran kita, amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s