Keruh – Studi Kasus Kamseupay di Dunia Maya

Di twitterland saat ini sedang ramai diperbincangkan perseteruan antar beberapa pihak. Entah bagaimana awalnya, saya yang katakanlah ketinggalan mengikuti dengan seksama perseteruan ini menyimpulkan perseteruan berkisar di urusan mensangsikan gelar akademik dua pihak satu sama lain.

Salah satu pihak yang merupakan seorang artis lawas atau senior dikabarkan adalah lulusan S3 dari perguruan tinggi negeri tempat dimana saya dulu mengenyam jenjang sarjana. Pihak satunya lagi seorang wanita yang mungkin juga datang dari kalangan selebritis. Dikabarkan sebagai lulusan S3 dari suatu universitass di Belanda sana. Perseteruan ini berkisar disini, penyangsian gelar akademik masing-masing oleh kedua belah pihak.

Dalam perseteruan ini ada juga pihak lain yang terbawa, yaitu keluarga salah satu musisi ternama di negara ini. suaminya, istrinya hingga terakhir anaknya ikut terbawa dalam perseteruan ini. Saya kurang faham neh dimana relevansinya keluarga ini terhadap konflik awal tadi. Yang jelas nama2 dari keluarga ini terbawa-bawa terus di tengah perseteruan.

Selain nama – nama di atas masih ada lagi seseorang yang saya kenal di kampus dulu. Beliau dosen yang saya temui di beberapa mata kuliah yang saya ambil. Saat ini yang bersangkutan sudah menjabat sebagai Dekan salah satu Fakultas dari kampus saya itu. Dosen ini mungkin mengenal artis senior tadi dalam kaitan antara dosen dan mahasiswa di kampus. Jika dengan musisi dan pihak wanita satu lagi saya tidak yakin apa mereka saling kenal. Mungkin saling kenal dalam urusan bermusik, saya tidak yakin.

Ah sebenarnya saya tidak menyelami perseteruan mereka dengan telaten. Selain karena ketinggalan mengikuti, rasanya semakin kesini perseteruan semakin berkembang liar kemana – mana. Kalimat-kalimat yang dilontarkan diantaranya tidak lagi hanya berkisar di konflik inti. Belum lagi banyaknya penonton yang ikut-ikut berkomentar, ikut-ikutan geram, mulai turut unjuk suara mendukung salah satu pihak, mengecam, menyoraki. ah pokoknya ramai..🙂

Bukan berarti saya tidak tertarik ya. Walau berharap tidak ikut pusing dengan perseteruan orang lain namun hal2 dan peristiwa semacam ini bisa jadi bahan pembelajaran diri bagi saya. Belajar bagaimana orang lain memanage konflik yang dihadapi, belajar bagaimana seseorang bersikap terhadap satu perseteruan dan terlebih mempelajari pola pikir orang lain.

Dari sebegitu banyak penonton yang terlibat saya liat mereka terbagi ke beberapa kelompok. Ada yang posisi penyorak yang teriak riuh jika perseteruan makin seru, ada kelompok penonton pasif yang mengamati tanpa berkomentar, ada kelompok yang berusaha bijak dan menengahi kedua pihak gak kalah banyak adalah kelompok yang ikut geram dan menghujat salah satu pihak yang menurut mereka keliru.

Terlalu banyak yang ikut berkomentar rasanya pusing ngikutinnya ya. Berharap dapat melihat kedua pihak menyelesaikan perseteruannya dan kita yang mengikuti jadi mampu memetik sesuatu. mana yang keliru, mana yang tidak pantas, bagaimana yang seharusnya dan mana sikap yang pas dengan selera masyarakat dan tidak melanggar etika-etika kehidupan sosial.

Koment-koment yang bertebaran dari penonton bikin inti “cerita” melebar kemana-mana. Ngeri juga melihat banyak orang ikut ramai2 menghujat dan mengecam. Gak nyalahin sih, saya lihat juga pihak – pihak yang berseteru tadi pun melebar kemana -mana. terkadang hal2 yang tidak perlu pun ikut diungkapkan di publik.

wah jadi ngeri gak dapet sama sekali pelajaran yang bisa dipetik dari menonton perseteruan ini dalam gaya diam2 seperti saya. Sementara ambil posisi ikut berkomentar dan mengecam dan berkata-kata pedas juga bukan hal yang ingin saya ambil. Berharap mereka mampu menyelesaikan perseteruannya dengan tidak lupa bahwa mereka sedang diperhatikan orang banyak. Jadi, gak terus mempermalukan diri.

Keruhnya masalah ini bisa jadi berekses negatif terhadap pihak lain yang tersangkut paut. Misalnya dosen saya tadi yang jadi di mention oleh banyak tweeps, karena dianggap berada di dalam perseteruan. bahkan tadi pagi saya menemukan mention yang konyol sekali :

weleh, inilah akibat kekeruhan tadi. Bukan teredukasi dan mampu memetik hikmah positif bagi diri sendiri setelah menyaksikan perseteruan malah jadi ikut terjebak dalam jebakan kumparan baku hantam kata. Menyerang dan mencurigai hal2 yang tidak perlu dan tidak ada. Saya bantu menjawab karena untuk yang satu ini saya yakini kebenarannya.

wel, semoga yang berseteru di awal pada mampu menyelesaikan problem mereka dan melakukan serta mengatakan hal2 yang perlu dan pantas saja.Bagaimana pun mereka diamati oleh orang banyak dan seharusnya berharap sikap dan perilakunya tidak menyesatkan orang lain terlebih menjadi bahan tertawaan karena meributkan hal-hal yang pada akhirnya, entah itu apa🙂

peace

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s