Kehilangan

Hari ke-28 bapak gak ada, berpulang selamanya ke sisi Allah SWT. Tak terasa hampir 1 bulan dan tidak sedikit pun rasa kehilangan berkurang. Hidup mulai kembali normal nampaknya namun dalam hati dan pikiran tetap terasa ada yang hilang.

Bapak sudah menjaga hidup saya dengan baik. Bayangkan hidup selama dua puluh tahun sekian rasanya saya belum pernah mengalami kehilangan hal tertentu yang berarti. Hidup begitu wajar, tumbuh besar begitu normal. Rasanya belum pernah ada hal benar2 besar terengkut dari sisi saya.

Kemudian bapak sakit dan saya beserta keluarga mengirimnya ke rumah sakit sebanyak 2x. Lalu tiba2 bapak tiada. Sepertinya itu jadi goncangan terbesar dalam hidup saya. Kehilangan orang tua.

Saya ingin belajar dari orang lain yang pernah mengalami. Bagaimana mereka berkawan dengan perasaan kehilangan yang sama dengan yang saya rasakan. Tentu bukan bermaksud berkata hidup saya lah yang tersedih. Tidak. Saya yakin banyak orang diluar sana yang diberikan cobaan atas kehilangan orang yg mereka sayangi. Mungkin lebih sulit kondisinya dari saya.

Saya masih sering menyadari bahwa bapak gak ada. Bagaimana tidak, selain mamah sayalah yang sehari-hari banyak menghabiskan waktu bersama bapak.

Ah pak, saya masih harus banyak belajar menghadapi rasa kehilangan ini. Sepanjang saya hidup sedikitpun tidak ingin melupakan segala hal tentang bapak. Namun berharap suatu hari saya tetap bisa mengenangnya dengan perasaan dan hati yang lapang.

Pergi di usia 56 tahun belakangan saya merasa harusnya bapak masih banyak memiliki kesempatan hidup. Saya masih sesekali berujar “andai saja bapak masih ada”.

Membuka pintu rumah kini tak pernah lagi sama. Membeli makanan di luar untuk dibawa pulang kini tak lagi sama. Menengok ke dalam kamar kini pun tak lagi sama. Alasannya satu, bapak telah tiada. Membuat satu tempat disisi kami kosong tak berpenghuni.

Melihatkah bapak dari tempatmu kini kepada kami? Apa perasaanmu? Atau segalanya otomatis terputus? Saya seringkali ingin tau.

Bagaimana jika saya rindu? Bagaimana jika saya ingin bertemu? Sedih sekali membayangkannya.

Saya lemah, saya sedih. Hanya bisa berpegangan dan mendapingi mamah yang mungkin lebih sedih kehilanganmu. Kami berpegangan teguh sama Allah, menancapkan prasangka baik terhadap-Nya. Allah lah yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk hidup kami dan bapak.
Rindu sekali petang ini, menyadari bapak gak ada lagi bersama kami. Dan ini membuat saya lemas dan terdiam. Tunggu ya pak, tunggu dan lihat. Saya akan hidup dengan baik dan jadi orang baik. Jadi anak baik yang mendoakanmu selalu. Semoga Allah memberimu tempat terbaik di sisiNya. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s