Belajar Dari Orang Lain

Beberapa kali saya sampaikan, kehilangan bapak saya yang meninggal dunia 11 hari lalu adalah pelajaran hidup terbaru dan terberat. Menyadari bapak tak ada lagi dalam kehidupan saya membuat hati rasanya hampa. Ada sebagian energi hidup yang hanyut entah kemana.

Tapi jika saya membuka mata, perasaan duka mendalam semacam ini bukan saya saja yang merasakannya. Orang lain, anak lain, keluarga lain banyak yang telah mengalaminya terlebih dahulu. Kehilangan sanak saudara, orang tua dan orang yang mereka kasihi seperti saya. Tidak jarang yang kondisinya lebih tidak beruntung.

Seperti itulah ketentuan hidup, Allah memanggil kita satu per satu dengan cara yang dikehendaki-Nya. Ada yang tiba-tiba, ada yang sudah dikira-kira. Ada yang karena sakit, celaka, musibah alam bahkan ada yang tanpa sebab.

Reaksi semua orang yang mengasihinya tentu saja akan kaget, syok dan sedih. Namun pada akhirnya semua akan melanjutkan hidup sekalipun perasaan kehilangan tak akan pernah sirna. Mungkin saya harus rajin mengintip orang lain, belajar dan meniru bagaimana mereka menyelesaikan rasa kehilangannya karena meninggalnya seseorang yang mereka kasihi.

Saya masih harus lebih bersyukur, Allah memberikan waktu bapak saya cukup banyak untuk mendidik saya dan membesarkan saya hingga dewasa. Bapak pergi setelah saya anaknya yang paling bontot sudah bisa bertanggung jawab akan kehidupannya sendiri. Bapak sudah menyekolahkan saya, bapak sudah melihat saya berpenghasilan sendiri.

Walau sedih banyak pencapaian hidup saya yang tidak akan disaksikan oleh bapak saya, namun seharusnya saya mensyukuri hal2 yang telah saya terima.

Bapak tidak meninggalkan saya menjadi yatim saat saya masih kecil, butuh biaya dan pendampingan untuk dibesarkan. Saya harus melihat banyak anak dan keluarga lain yang ditinggal bapaknya yang wafat dalam keadaan serba terbatas atau kekurangan. Anak2 itu, istri2 yang ditinggalkan pada akhirnya mampu melewati duka dan berhasil menghadapi rasa kehilangannya.

Saya pun harus begitu. Berserah dan sabar menunggu waktu menyembuhkan rasa kehilangan. Saya harus bisa mengatasi sebagaimana orang lain pun mengalami.

Berharap tidak cengeng berkelanjutan dan kembali punya spirit untuk menjalani hidup. Saya masih punya ibu. Ibu yang mungkin hatinya merasa jauh lebih sedih dan sepi dari saya.

Saya harus rajin belajar dari orang lain dan percaya rasa duka ini suatu hari akan jadi teman hidup dan saya mampu berdamai dengannya.

4 thoughts on “Belajar Dari Orang Lain

  1. Anda masih lebih beruntung bisa merasakan bimbingan beliau sampai dewasa…:) it takes time, but when the time is come, all the sadness will disapear, n replace with a beautiful memory

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s