Teras di Senja Hari

Hari – hari menjelang Natal sudah tidak aneh jika kota diguyur hujan. Bulan Desember memang masuk musim penghujan. Sore ini pun begitu, hujan mengguyur bumi dari 3 jam lalu.

Duduk termenung saya di teras rumah, hingga akhirnya meraih HP untuk menulis disini. Menikmati sore dengan membaca 1 koran nasional, ya membaca koran yang terlambat memang sesore ini.

Kursi dan teras yang saya duduki sore ini adalah posisi yang paling disukai oleh almarhum bapak untuk “ngadem”. Terkadang saya atau mamah melengkapinya dengan cemilan sederhana dan kami mulai berbincang. Itu dulu ketika beliau masih sehat. Ketika beliau sakit bapak tidak saya biarkan terlalu lama duduk di teras, atau setidaknya saya memberikannya baju hangat.

Selama membaca koran saya terpikirkan satu hal, di rumah ini di keluarga saya rasanya hanya saya dan bapak yang sedikitnya terlihat memiliki hobi dan minat membaca. Saya tidak melihat di keluarga lainnya. Bayangan saya kembali ke sekitar 2 minggu lalu. Hanya beberapa hari menjelang kepergiannya bapak saya sodori bacaan mengenai cuci darah (hemodialisa), gagal ginjal dan bagaimana penderita lain survive.

……..More

Itulah bacaan terakhirnya, kumpulan artikel yang saya himpun dari dunia maya. sengaja untuk melengkapi ucapan2 saya dalam usaha mengedukasi dan memotivasi bapak mengenai penyakitnya yang terbaru.

Bapak butuh kaca mata untuk membaca, terlebih belakangan diabetes semakin mengurangi kemampuan matanya melihat. Artikel seperti itu saja ia baca butuh beberapa kali istirahat, padahal font tulisannya sudah saya perbesar tidak biasa.

Bapak bilang setelah membaca artikel itu bahwa jika dilihat bisa2 seisi dunia ini memang sebagian besar ditakdirkan menderita gagal ginjal. Saya bilang tidak semua namun banyak, jadi bapak tidak sendirian. Dan mereka tidak sedikit yang survive. Bapak pun harus begitu.

Ingatan itulah yang terlintas sore ini saat saya duduk disini, di teras. Bapak saya yang suka membaca buku disini. Saya sedikit mengintip ke dalam rumah dan sore ini kembali saya belajar bahwa bapak saya sudah tidak ada disini. Kenangannya yang selalu muncul dalam ingatan, sosoknya yang terekam baik di dalam hati saya.

Saya adalah penyuka senja dan langitnya, sore sering menghantarkan banyak lamunan dan renungan. Begitu pun sore ini dan hujannya. Air hujan rintik bergemericik seperti sore ini kadang suaranya hadir menyanyat rasa sepi, sedang saya duduk sendiri di teras meresapi sesuatu yang entah kapan akan benar-benar pergi.

3 thoughts on “Teras di Senja Hari

  1. obenk…..kenangan itu akan slalu ada benk, gw salut lo tuangkan smuanya ke dalam tulisan, at least tulisan itu bisa lo baca2 ulang, gak kaya kenangan yg mungkin makin lama makin memudar….berat di awal2nya, gw jg pernah alamin itu ketika alm.mamah gw meninggal, slalu nangis klo keingetan or nangis pas tiap bacain doa bwt beliau….tp seiringnya waktu…lo akan smakin tegar benk….*terus nulis ya….me… one of who always read ur writing*

    • Betul kin, gue kayaknya perlu belajar ke elu. Lu jauh lebih tegar seengaknya gue selalu berpikir lu kuat. Waktu sepertinya yg akan bicara. Betul, kenangan akan ada selamanya. Dan kehilangan pasti berat utk siapapun. Apalagi gue yg pertama kali mengalami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s