Ingin Bapak Ada

Dua hari ini adalah hari penuh tantangan sesungguhnya pasca meninggalnya bapak. Saat dimana saudara dan kerabat saya kembali pulang ke kediamannya masing-masing. Kakak saya keduanya mulai kembali pergi bekerja. Beruntung pekerjaan saya berbarengan dengan libur akademik.

Tersisalah saya dengan mamah di rumah, berdua mengasuh Rafa (15 bulan). Biasanya kami menghabiskan waktu bertiga bapak. Sore hari hingga malam adalah kebersamaan kami yang paling terasa.

Grafik psikologisnya mulai menukik turun, semakin rileks justru semakin lemah. Bayangkan ketika bapak sakit saya giat sekali bekerja maupun menyimpan uang. Karena saya tau saya harus sedia uang terus jika bapak saatnya berobat. Itu semangat saya.

Ketika bapak sakit di RS saya merasa itulah dimana kekuatan saya semua saya keluarkan. Tidak memikirkan apapun. Saya lupa rasa lelah, lupa mengantuk, saya sedih namun tangis sering saya tahan. Saya tetap pergi bekerja sekalipun letih dan bingung. saya hanya memikirkan bagaimana caranya bapak sembuh. Itu saya sebut harapan.

Ketika bapak berpulang, saya menangis keras lama sekali. Muncul kilatan2 ikhtiar kami berobat selama ini. Saya sakit sekali namun juga saya ikhlas. Bapak tidak perlu merasakan sakit lagi. Giginya tak perlu bergemerutuk lagi menahan sakit yang tak mampu dibagi. Saya menghadapi pemakaman dan meminta keluarga yg mempersiapkan ini itu dengan tenang. Saya menyebutkan Ikhlas.

Dalam seminggu bapak meninggal saya masih berenergi untuk mengurus tahlilan selama 7 malam bersama keluarga. Pergi belanja, beli kue, menyediakan makan bagi keluarga yang menginap, beresin rumah. Bahkan saya masih sempat bersilaturahim dengan dokter bapak ke RS, menjemput sepupu pulang dari RS, mengantar paman saya kontrol ke dokter,dsb. Saya menganggapnya ketenangan diri.

Tapi setelah semakin sedikit yang saya urus, seperti saat ini aktivitas mereda dan urusan berkurang. Tinggalah saya memperhatikan diri saya sendiri atau setidaknya mamah. Saya kebingungan mencari dimana energi yang biasanya ada dan membumbung tinggi.

Dua hari ini semuanya mulai tampak drama, sedikit takut Allah merasa kecewa. Ada sebagian dalam diri menolak bapak telah tiada. Saya mulai merasakan sedih yang bebeda. Bapak gak ada dan gak akan pernah ada lagi walau sekadar berjumpa.

Rumah semakin terasa sendu. Saya sedih melihat tabung oksigen di kamar saya, sendal yang dipakai terakhir sebelum maut menjemputnya masih ada di kamar saya. Saya lemas melihat obat2an yang menumpuk bekas bapak. Seperti melihat perjuangan yang terhenti.

Selalu terbayang bapak rebahan di tempat tidur saya meresapi sakit, duduk di kursi, di karpet, di teras. Saya selalu terbayang sorot mata dan kumis jenggotnya yang lebat. Allah tidak bergurau, bapak benar2 tiada untuk selamanya.

Saya lebih banyak diam, mamah pun begitu. Masak rasanya makan pun tak semangat. Saya ingin bapak ada seperti biasa makan bersama kami. Sedih sekali melihat barang2nya yang masih ditempat masing2 belum sanggup kami rapihkan.

Rileks dan punya banyak waktu memikirkan diri sendiri justru memicu sifat cengeng dan kekanakan. Saya jadi diri saya sendiri, anak bungsu bapak saya yang rasanya sudah lamaa tidak merajuk.

Andai boleh merajuk dan semua rajukan saya mungkin adanya untuk dikabulkan, saya ingin bapak saya ada lagi di sisi saya, hidup bersama kami lebih lama. Saya ingin bapak ada ketika saya menengok ke dalam kamar. Saya ingin bapak ada di rumah ketika seperti kemarin sore diluar hujan dan saya takut. Saya ingin bapak ada di rumah menyuruh saya membeli makanan kesukaannya.

Saya ingin bapak ada mendengar rencana-rencana, saya ingin bapak ada sekedar menegur kala saya salah. Saya ingin bapak ada menemani Rafa bermain. Saya ingin bapak ada dan diberitahu semua ini hanya mimpi.

Mungkin inilah fase denial saya, satu waktu mungkin akan berganti dengan fase penerimaan yang permanen. Rasa kehilangan seperti ini adalah pelajaran baru dalam hidup saya. Mungkin setiap orang tidak akan pernah benar2 mempersiapkan diri menghadapinya.

Berharap waktu dapat saya beli. Jika tidak mungkin membeli waktu yang sudah lampau agar saya masih banyak kesempatan bersama bapak, maka saya berharap mampu membeli waktu agar saya bisa menggeser fase penuh duka seperti saat ini.

2 thoughts on “Ingin Bapak Ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s