Makanan Kesukaan Bapak

bapak

Almarhum bapak saya adalah penikmat kuliner, beliau senang sekali makan diluar. Ibu dan saya sering menemukan struk pembayaran makan ketika merapihkan baju kotor sebelum dicuci. Seringkali tagihan makannya bukan porsi untuk seorang.

Saat berjalan bersama keluarga pun bapak sering mampir ke tempat makan. Bila sepulang kerja beliau makan bersama teman-temannya bapak suka telp rumah menyuruh kami memesan masakan untuk dibawa pulang. Lalu bapak tiba di rumah dengan masakan berbagai rupa dan meminta kami menghabiskannya.

Begitu pula ketika saya beranjak dewasa dan beliau lebih banyak di rumah karena mulai merasa banyak keluhan. Saya seringkali ditunggu di rumah membawa makanan yang ia inginkan. Lalu kami makan bersama.

Bapak saya suka sekali dengan macam2 soto. Soto bening, soto santan, soto daging, soto ayam, ikan mas, gurame, bebek goreng, sate,sop buntut ah kebanyakan makanan yang disuka ama bapak mah.

Mamah sering bilang ke saya untuk tidak terlalu boros perihal makanan, tapi disisi lain bapak saya suka menanti saya membawa makanan apa sepulang beraktivitas diluar rumah. Dan rasa-rasanya saya tidak menyesal, bahkan hingga hari-hari akhirnya saya sering menyediakan makanan apapun yang beliau mau tanpa menunda-nunda.

Selama di rumah sakit bapak saya suka makan “papais pisang” yang dibungkus oleh daun pisang muda. Katanya lembut dan dingin di perut. Satu pagi sepi saya pernah dipanggil oleh perawat ICU. Sambil deg2an saya menghampiri takut ada hal penting. Taunya bapak minta makan papais pisang.

Bapak juga suka lempeye kacang, selama di rumah sakit 2x ini saya juga sempat memberinya lempeye kacang. Bapak suka makan bubur ayam kabita di gerbang kampus IPB baranang siang. Katanya enak. Hari dimana beliau berpulang bapak sarapan pagi dengan bubur ayam kabita.

Bapak suka makan nasi padang dengan lauknya gulai kikil. Saya lupa kapan beliau menikmati santapan yang ini. Sepertinya almarhum pernah diam2 ke rumah makan padang diantara serang waktu sepulang dari RS yang pertama sebelum masuk RS yang kedua.

Bapak gak pernah sayang dengan makanan, almarhum tak segan mengajak orang2 yang pergi bersamanya makan jika beliau ingin makan. Bapak sering mengarahkan kami di rumah untuk berbagi makanan dengan rumah terdekat yang perlu dibantu jika dilihatnya makanan di rumah terlampau banyak dan diukurnya tidak akan muat ditampung oleh mulut kami sendiri.

Sore-sore seperti ini kenangan makan bersamanya di depan TV begitu terasa. Rasanya saya sedikit kehilangan semangat berburu makanan yang enak2 dan saya bawa ke rumah.

Selalu sahih rasanya jika saya selalu mengutarakan pernyataan bahwa dari aktivitas makan bersama dengan menu-menu lezat pilihan kita seringkali kebersamaannya yang lebih lezat dari yang disantap.

Sore ini, ada yang hilang ada yang kurang. Bapak tak ada.

Rafa tertidur kelelahan pak, saya sudah di rumah. Rumah pun sudah bersih rapih. Bukankah suasana seperti ini sering kita gunakan untuk makan bertiga di depan TV. Bapak akan membongkar makanan bawaan saya, mamah akan ke dapur mengambil alat2 makan dan saya seperti biasa menyediakan minum teh panas tanpa gula untuk kita bertiga.

Bapak akan mulai komentar tentang makanan yang dikunyah. Saya sering protes kadang bawa terlalu bawel dan kritikus makanan paling pedas. Seperti yang bisa memasaknya sendiri aja.

Sore ini saya dan mamah hanya bertiga Rafa di rumah, tanpamu. Saat ini, besok dan selamanya. Kami bingung ingin makan apa, gairah makan tidak seperti biasanya. Tapi kami makan pak, kami makan. Namun tak seseru ketika bapak ada.

Kebersamaan kita selama ini jauh lebih lezat dari makanan2 yang kita santap. Jika pada akhirnya akan ada masa ini dan kami kehilangan, saya jadi selalu merasa tidak cukup. Kebersamaan kita selama ini rasanya kurang.

Jika saya merasa berpikir seperti saat ini, terdengar dan tersaksikan kah olehmu? Apakah perasaan2 saya membuatmu terganggu dan sedih? Jika iya saya akan mengendalikannya.

Saya suka terasa tercukil hatinya melihat warung2 makan kesukaanmu. Betapa usai sudah nikmat dunia bapak nikmati. Cukupkah bapak menikmatinya di dunia selama ini? Andai bapak masih ada, rasa2nya ingin saya sediakan semua makanan kesukaanmu dalam satu meja.

Tapi bapak, bukankah Allah selalu menyediakan segala kenikmatan dan kemudahan di surga? Dan saya yakin makanan jadi satu diantaranya.

Saya berdoa semoga Allah menjadikan bapak masuk ke golongan orang2 yang beruntung. Menjadi penghuni surga. Semoga Allah melimpahkan ampunan atas kesalahanmu pak, dan ditenangkannya arwahmu di alam sana.

Makan di dunia saat ini terasa tidak sama lagi, setidaknya hingga waktu bersahabat dan membiasakan kami tanpa kehadiran bapak. Mari semangat pak, bapak semangat dengan urusan2 mu disana, kami akan berusaha semangat dengan urusan2 kami di dunia.

Bapak akan terus ada di hati kami, makanan2 kesukaanmu akan jadi media pengenang dirimu pak. Seseorang teristimewa yang pernah hadir dan menjadi bagian penting kami hidup di dunia.

Peluk pak, saya sedang cengeng.

2 thoughts on “Makanan Kesukaan Bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s