Sirna-nya Raga

Rabu 7 hari lalu, tepat 13.00 bapak menghembuskan nafas terakhirnya di tempat tidur kamar saya. Sudah sepekan lamanya berpisah dengan raganya yang sirna.

7 hari berpisah dan rasanya almarhum masih saja hidup. Selalu ada bagian dalam diri ini yang berharap ini semua mimpi. Rasa-rasanya semua hal baru saja kemarin terjadi, adegan-adegan bersamanya bulan-bulan terakhir kepergiannya masih saja terbayang.

14 Desember 2011

Pagi yang sibuk hari itu, saya bersiap dengan pakaian saya sekalipun semalamnya saya begadang menemani bapak yang insomnia. Percakapan terakhir, bapak duduk di sisian kursi tamu meminta uang pecahan 10rb untuk beliau berikan kepada seseorang yang sedang dimintai tolong. Saya katakan “siap!” Dan langsung saya sediakan.

Kang Dani pulang dari begadang di RS, membawa beberapa porsi bubur ayam Kabita IPB. Satu porsi saya sodorkan untuk bapak yang berbaring menyamankan tubuh. Saat saya meneguk teh hangat pagi itu, saya menoleh dan menyaksikan bapak sedang duduk dan membuka kemasan bubur dan berusaha menyantapnya.

Saya pamit pergi mengajar setelah selesai memakai sepatu, izin pulang agak sore karena akan langsung menuju RS menjaga paman. Bapak mengangguk. Saya katakan jika ingin apapun minta sama orang di rumah. Bapak mengangguk. Saya bilang nanti sore harus siap2 saya ajak kontrol ke dokter sesuai janji kemarin lusa. Bapak hanya diam.

Saya pergi keluar rumah bergegas ke kampus, tak sampai berapa langkah saya kembali masuk ke ruang tamu. Saya katakan pagi ini bapak wajib minum obat, memintanya menurut pada saya.

Itulah percakapan terakhir dengan almarhum pagi itu. Saya kembali pulang setelah dzuhur bapak telah tiada selama-lamanya.

Sebagian diri masih berpikir semua ini canda, saya terbiasa bapak tak pulang beberapa hari karena pekerjaan. Saya pun terbiasa tidak berjumpa karena bapak pulang larut dan pergi terlalu pagi. Berharap seminggu ini hal itu yang terjadi.

Kini jasadnya terkubur tenang disisi makam kakek saya, raganya sudah seminggu ini tidak saya temui dan saya sentuh. Sepertinya akan dipaksa untuk bersahabat dengan perasaan kehilangan seperti ini.

Saya masih mengingat raut wajahnya, malam ia cuci darah kumis dan jenggotnya masih lebat. Bapak gemuk dan rambutnya menjuntai agak panjang yang akhirnya kami potong.

Saya teringat matanya yang sayu lelah di rumah sakit. Bapak minta maaf ke saya atas segala kesalahan. Saya masih ingat hari itu memintanya untuk semangat. Umur 57 tahun masih muda, bapak masih panjang waktu untuk main dengan cucu, bapak masih bisa menemani saya menjalani hidup. Kalimat yang saya ucapkan sambil menahan isak, dan kalimat2 itu ternyata tak terjadi.

Saya teringat mata letih bapak tak mampu terpejam baik di rumah, meminta saya memberikan madu dalam gelas berair hangat.

Saya teringat kali pertama bapak masuk rumah sakit, berbaring tampak cemas di IGD rumah sakit. saya katakan disana, bapak harus menginap di RS, masuk ICU karena dada sakit. Saya mengatakan tugas bapak hanya sembuh lagi, semuanya tidak akan apa2 dan urusan lainnya tidak perlu dipikirkan, ada saya.

😥

Saya ingat malam ketika bapak kembali pulang ke rumah sehat setelah keluar RS. Bapak terima tamu banyak sekali di rumah. Senyumnya merekah, menyukuri kepulangan malam itu. Berkata ke banyak penengok untuk tidak sakit dan cukuplah dirinya sendiri yang sakit.

Saya ingat beberapa kali kontrol ke dokter setelahnya. Bapak seringkali menatap saya dari jauh yang duduk antri depan ruang dokter. Saya seringkali mencuri pandang bapak yang termenung di keramaian. Saya tau bapak selalu ingin ke dokter bersama saya, satu kali bapak tak saya dampingi katanya berobat begitu tak semangatnya.

Saya ingat ketika Idul Adha kemarin saya lari-lari mengejar bapak yang sibuk mengurus pemotongan kurban agar makan dan minum obat. Bagaimana bisa baru keluar ICU bapak menyibukkan dirinya.

Saya ingat kala pagi bapak dan supir kantornya mengantar saya mengajar. Bapak saya kuat dan sehat sekali. Ia suka sekali menggunakan baju hitam, topi dan kaca mata hitam. Orang yang tak mengenalnya akan mengira bapak menakutkan.

Saya ingat saat kecil berulang tahun bapak tak pernah mengucap apapun, namun di dapur selalu sudah tersedia sekotak kue tart berbunga-bunga untuk saya.

Saya ingat ketika saya belum sebesar ini, saya sering melompat dari kursi ke bahu bapak yang kekar. Saya sering menginjakan kedua kaki saya ke kaki bapak dan memeluk perutnya meminta bapak saya melangkah seperti robot sementara saya masih menginjaknya.

Kenangan tentang dirinya yang masih jelas dalam ingatan. Mulutnya berbicara, matanya mengedip, tangannya bergerak. Tapi justru bapak kini telah tiada. Raganya sirna tak nampak lagi di muka bumi. Berat membayangkan bagaimana hidup tanpa kehadiran bapak. Berharap ini benar mimpi atau bapak hanya pergi keluar kota.

Mengingatnya seperti ini sungguh melemahkan. Saya rebahan di atas tempat tidur saya serupa posisi bapak saya berpulang. Membayangkan situasi kala maut menjemputnya. Bapak benar2 tiada, kali ini saya harus menerimanya sekuat apapun saya berjuang mengobatinya agar sehat kembali.

Ragamu sirna pak, namun kenangan akan dirimu masih terasa hangat dalam ingatan. Entah seberapa jauh jarak ruang dan waktu yang memisahkan saya dan bapak, dalam hati saya bapak akan selalu ada. Hanya satu kehilangan, namun sungguh dunia mendadak lebih sepi dari biasanya. Dan saya rindu sekali😦

Innalillahi wa innaillahi rojiun.

2 thoughts on “Sirna-nya Raga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s