Belajar Tanpamu,Pak

Di rumah masih ramai saudara yang menginap pak, saya dan mamah masih ditemani mereka beberapa hari ini. Entah bagaimana rasanya jika semua kembali menyepi. Bukankah hanya kita bertiga di rumah yang kerap makan bersama?

Pagi ini saya melihat jendela kamar pak, dan saya takut sekali. Jendela kamar saya rusak dan bapak yang memakunya sementara sebelum diperbaiki.

Bapak mungkin mengajarkan bagaimana saya harus bersikap terhadap orang lain, mengajari bagaimana saya harus menyelesaikan masalah dengan gesit, mengajari bagaimana berbagi dan banyak lagi.

Tapi bapak tidak pernah mengajari saya bagaimana caranya memperbaiki jendela😦

Banyak hal yang bapak jauh lebih baik dalam melakukannya sehingga saya tak pernah ikut memusingkan hal-hal tersebut. Seperti apa caranya perbaiki jendela, memilih kayu, menentukan tukang yang mengerjakan, memandori pekerja sehingga pekerjaan sesuai yang kita mau, membayar para tukang. Saya tidak tau, bapak yang tau semuanya.

Bapak selalu bisa memperkirakan kerusakan dan penyebab rumah bocor setelah hujan deras, bapak yang tau harus menyuruh siapa memperbaikinya. Pekerja pun bekerja semua atas arahanmu hingga semua kerusakan tidak lagi mengganggu.

Bapak bisa mengerjakan sendiri ketika kran air kamar mandi belakang patah saya gantungi ketupat baru matang, bapak yang memilih kran yang pas, bapak yang berpikir keras ketika patahan pipa terlalu dalam. Saya tidak pernah mempelajarinya dengan detil.

Kayu diatas ruang tamu mulai usang dan rusak pak, bahkan kita belum sempat membicarakan perbaikannya. Kamar kedua dilantai atas belum selesai kita pasangi kusen jendela pak, kami selalu bilang nanti.

Rumah ini, rumah yang dibangung dengan jerih payahmu pak. Saya ingat ketika bapak menunjukan gambar dari seorang arsitek untuk rumah yang akan bapak bangun di lahan yang tidak luas ini.

Bapak yang memilih semuanya, kayu-kayu paling baik yang sesuai dengan kemampuanmu, pegangan tangga, warna cat dapur, lantai dapur yang seperti papan catur, semua bapak yang pilih.

Bila instalasi listrik rumah mati, bapak tak pernah menceritakan masalah dan penyebabnya. Hanya memanggil seorang teknisi dan kemudian mendiskusikan berdua. Saya tidak pernah khawatir karena bapak selalu bisa mengendalikannya sendiri.

Mungkin bapak merasa senang melihat saya tumbuh besar dan bisa membawa diri, bersikap bahkan menyelesaikan masalah yang saya hadapi. Saya tau caranya bernegosiasi dengan orang lain, saya tau caranya mencari jalan keluar dan saya anak yang paling cepat membuat keputusan dan menyelesaikan masalah.

Tapi banyak teknis detil yang bapak tak pernah ajarkan langsung pada saya, karena bapaklah sebaik-baiknya koordinator, pengkoordinir sesuatu, otak dari suatu urusan2 besar, bapak selalu punya rencana-rencana dan ide, bapak selalu bisa memilih penyelesaian terbaik. Masih banyak yang belum saya pelajari.

Saya takut, jika nanti hanya ada saya dan mamah. Ada sesuatu yang kami harus perbaiki namun kami hanya bisa memasrahkan perbaikan kepada tukang yang saya suruh. Saya takut tidak terlalu pintar untuk mengetahui masih ada yang salah, yang kurang. Bapak tidak sempat mengajari.

Sepertinya akan banyak hal ke depan yang harus saya pelajari. Menyelesaikan hal2 yang tidak biasa saya ambil alih. Dan semakin saya membayangkan hal-hal apa itu, semakin saya sedih dan mengetahui rasa kehilangan itu besar sekali😦

Saya mulai rindu pak, air mata menitik pagi ini tepat di tempat dimana nafas terakhir engkau hembuskan di kamarku.

2 thoughts on “Belajar Tanpamu,Pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s