Terimakasih Dokter Djabir Abudan

Kamis sore, di hari pemakaman bapak saya pergi menemui dokter yang sebulan lebih ini merawat bapak. Siang hari selepas pemakaman Bogor diguyur hujan, hujan deras yang menenangkan. Selepas reda menjelang sore saya pergi ke rumah sakit, saya ingin menemui dokter Djabir.

Dokter Djabir ada jadwal praktek di klinik Afiat PMI sore itu, saya titipkan pesan ke suster disela-sela ia memanggil nama pasien yang datang berobat. “Tolong sampaikan diluar ada Dina ingin bertemu nanti jika sudah tidak ada pasien lagi”.

Tidak disangka, dokter justru segera keluar dan menemui saya di depan ruangan. Melihatnya berdiri membuka pintu dan tersenyum, saya tidak merasakan sedih sama sekali. Memang hati saya justru merasa lapang jika bertemu dengan dokter ini.

Saya datang dengan melewati hujan bukan untuk bersedih, hanya ingin mengucapkan terimakasih. sore itu saya tenang sekali, merasa fresh dengan badan bersih dan rambut yang akhirnya saya cuci bersih.

Kami berbincang agak lama disana, saya ceritakan bagaimana proses bapak saya berpulang. Saya menceritakan keadaan bapak selama di rumah sepulang paksa dari rumah sakit.

Saya berterimakasih ke dokter sore itu, saya sampaikan entah bagaimana saya dan bapak merasa tenang berobat kepadanya. Saya merasa dokter bisa saya ajak bicara, bisa saya temui setiap kali saya bingung dan resah. Dokter menjelaskan keadaan bapak dengan baik sehingga saya anak yang merawatnya tidak terjebak dalam kebingungan dan takut untuk sesuatu yang tidak saya mengerti.

Beberapa kali berbincang dengan dokter, ia memotivasi saya secara psikologis. Juga mengatakan bahwasanya apa yang sedang saya hadapi adalah ujian dari Allah, lalu mengatakan ikhtiar mengobati bapak memang kewajiban saya.

Dokter Djabir banyak mengatakan hal-hal diluar tulisan diatas resep dokter, bahkan ia pernah meluangkan 40 menit waktunya yang padat sekedar untuk berbincang dengan bapak saya yang ngambek maksa ingin pulang dari rumah sakit. Dan saya akan terus mengingatnya.

Terasa oleh saya, beliau mengobati orang yang datang kepadanya dengan seraya memperhatikan kondisi emosi, pikiran dan kemampuan pasien dan keluarganya. Dokter mengedukasi saya tanpa terlihat underestimate kepada kemampuan berpikir lawan bicaranya.

Saya hantarkan sore itu beberapa kue sebagai amanat dari bapak saya, almarhum. Kala di RS bapak pernah berpesan ke saya untuk mencari alamat rumah dr. Djabir Abudan dan mencari tau makanan kesukaannya. Sore itu saya melaksanakan amanatnya, walau tak sempat mencari tau makanan kesukaan yang dimaksud.

Terimakasih dr. Djabir Abudan, bahkan hingga terakhir saya memastikan bapak saya telah tiada saya dipandu oleh dokter dari rumah sakit.

Terimakasih sudah menemani saya berikhtiar mengobati bapak, terimakasih sudah menjadi dokter yang membesarkan hati, melapangkan dada dan mencerahkan pikiran.

Kondisi bapak berat saya sudah tau, umur seseorang hingga kapan kami berdua sama2 tidak tau namun maut adalah sesuatu yang pasti. Tujuan kami berhasil, bapak meninggal dunia dalam keadaan tenang. Tanpa dirundung kesakitan tak henti-henti seperti ketika datang ke Rumah Sakit. Mengurangi rasa sakitnya sepertinya tercapai, karena hari-hari terakhir bapaknya tenang.

Terimakasih dokter, sore itu saya menutup kasus pengobatan bapak saya. Kami manusia sudah berusaha, maut Allah juga yang Maha Berkehendak. Terimakasih.

2 thoughts on “Terimakasih Dokter Djabir Abudan

  1. Halo Dina,
    Beberapa waktu lalu saya juga ditangani oleh Dr.Djabir, benar yang Dina katakan, beliau tidak pernah memandang sebelah mata saya yg waktu itu hanya pasien ASKES beliau juga tidak sembarang meresepkan obat kepada pasiennya. Pernah suatu kali sudah menuliskan resep, namun beliau tanya lagi, “Kamu ada madu di rumah? kalau ada ini tidak perlu lah”
    Setiap kali visit, banyak nasehat2 yang beliau bagi soal hidup dan agama, tentang bagaimana memilih pasangan hidup yang baik, bagaimana ibadah seorang muslim yg wajib dan sunnah, dan masih banyak lagi.
    Saya yang ketika masuk RS benar2 dalam kondisi yang drop, banyak dibesarkan hatinya dan diberi semangat oleh beliau, dan diajak bicara dan cerita hal-hal diluar pengobatan, suasana saat itu jadi sangat menyenangkan.
    Dulu saya tidak suka madu, karena beliau bilang, madu dan Al-Quran jadikan sebagai obat, alhamdulillah skr jadi rajin minum madu. Entah bagaimana dari obrolan2 sederhana setiap kali beliau visit, selalu dapat nasehat yg begitu mengena untuk saya.
    Senang rasanya ditangani oleh dokter yang benar2 memperhatikan kondisi pasiennya dan sangat ramah dengan keluarga dan penunggu pasien.

    Salam,
    Aprilia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s