Almarhum di Depan Namamu

Hari ini tanpa sengaja dalam satu percakapan saya menyebut “almarhum bapak”. Bukan tidak ikhlas tapi saya sedih sekali, itu pertama kalinya keluar dari mulut sendiri menyebut almarhum di depan nama bapak.

Misteri hidup seringkali tak mampu kita kuak sebelum terjadi. Siapa yang pernah tau hari Rabu lalu, justru setelah berhari-hari bapak mulai berhenti mengeluh dan bersedia makan dengan normal Allah memanggilnya.

Tanda – tanda sesungguhnya telah ada, ketika ngambek di rumah sakit dan membuat orang lain kesal bapak berhasil saya tenangkan. Saat itu dia bilang pelan sekali katanya saya udah jangan terlalu mengkhawatirkan dia, hidup bapak udah gak lama sedang hidup saya masih panjang. Katanya saya jangan sampai sakit, bapak merasa bersalah merasa menyiksa saya dengan sakitnya. Bapak juga berujar kalo saya harus lebih menyayangi mamah, saudara, uwa dan mamang saya.

Mendengarnya membuat saya terisak tak terkendali. Saya jelaskan bagaimana mungkin saya berlaku berbeda sedang dalam hati saya semuanya sama.  Saudara sakit aja ingin saya sembuhkan dan rawat apalagi bapak sendiri. Jangan berkata demikian pak,  bicara seperti itu seperti menafikan keberadaan saya sebagai anak.

Ketika ditanya dokter mengapa ingin pulang padahal pengobatan belum selesai, di depan saya bapak mengatakan bahwa alasannya tidak akan dimengerti oleh manusia sekalipun dijelaskan.

Malam cuci darah terakhir yang ditemani adik iparnya dari Bandung, bapak mengatakan bahwa ia merasa sebenarnya ini hari2 penghujung dia hidup. Ia bilang dokter segimana berusaha pun tak akan menyembuhkan jika Allah bilang tidak. Satu2nya alasan dia masih mau diobati karena kasian ke saya yang masih tak ingin menyerah.

Di rumah, beberapa hari sejak pulang dari RS bapak minta rambutnya dicukur. Botak dan tanpa kumis juga jenggot. Klimis pertama kali dalam hidup. Esoknya bapak minta semua kukunya dipotong dan dibersihkan oleh saya, saya potongin sambil ngobrol di teras rumah.

Selanjutnya bapak agak lebih sehat, jarang mengeluh sekalipun agak mogok minum obat. Setiap hari ia menjajal makanan2 kesukaannya. Sekalipun kami jelaskan resikonya. Ingin semur, ingin ceplok telor, ingin sop buntut mak emun, ingin pepaya, makan soto babat sembunyi-sembunyi hingga sejam sebelum kematiannya ia minta makan ikan mas di pesmol. Dari sisi kesehatan mungkin ada makanan yang akan mengganggu tubuhnya, tapi jika akhirnya meninggal seperti ini saya justru merasa tenang, Bapak saya menikmati semua yang ia mau sebelum meninggalnya.

Hari – hari terakhirnya, bapak sehat. Walau saya begadang menemani hanya takut bapak membutuhkan orang lain saat yang lain tidur. Saya di rumah sakit sejak subuh menemani paman saya yang opname setelah begadang di rumah. Ketika bapak berpulang pun saya meyakini itu ketika saya sholat dzuhur di rumah sakit.

Rabu siang itu, bapak minta makan dengan ikan mas. Selesai ia makan ada beberapa saudara kami yang menjenguk. Ketika sebagian penjenguk pulang bapak sholat dzuhur di atas kursi, berbarengan dengan mesjid sebelah. Selesai sholat ia berdzikir lama sekali, mamah bilang ia tahlil menyebut beberapa nama.

Tak lama ia bertanya “jam berapa ini?” Ke mamah. Mamah bilang jam 1 kurang 10. Lalu bapak bilang “aduh!” Mamah dan satu saudara saya membawanya ke tempat tidur saya, duduk ia di sisi minta kakinya dipakaikan sendal. Mamah tanya mau kemana pake sendal? Bapak saya jawab : “mau jalan yang jauuuuh”. Tapi sendal sulit sekali masuk ke kaki yang memang sudah kaku.

Bapak saya lantas meluk mamah saya sambil berkata : “tuh Mah datang lagi”. Masih memeluk mamah bapak saya bilang : “ya Allah, tong nyeri-nyeri teuing….”. Tak lama ia bilang “aduh”, mendengkur sekejap lalu tak sadarkan diri :((

Itulah sakaratul maut bapak saya, saya meyakininya ia dipanggil pukul 13.00. Jadi ketika saya datang memang beliau tidak ada. Saya ikhlas tidak menemuinya disaat-saat terakhir. Mendengar prosesnya tidak sulit pun saya tenang dan tidak diawali kesakitan seperti minggu lalu.

Kamu terpejam tenang pak, mirip orang tidur. Saya ikhlas sekalipun sempat menjerit selama 1 jam tak percaya bapak pergi. Mulai kini, harus ku sematkan kata almarhum di depan namamu, dan ini tak pernah aku bayangkan rasanya.

innalillahi wa innaillahi rojiun

5 thoughts on “Almarhum di Depan Namamu

  1. saya ingat alm. Abah saya, satu jam sebelum tutup tahun abah justru menutup umurnya. Pagi saat saya akan berangkat kerja saya melihat aliran bening dari matanya yang tampak lelah, “Boleh Santi berangkat kerja, Pi?” pamit saya, dan beliau mengangguk melalui kedipan matanya, saya cium keningnya dan berbisik kalau saya sangat menyayangi beliau. pukul 23.00, 5 menit sebelum saya pulang Abah tak membuka matanya lagi, tidur dengan tenang dalam dekapan ibu dan adik. Shock? Jelas… saya shock dan sedih. Tapi mendengar beliau pergi tanpa mengaduh sakit saja sudah membuat saya sangat bersyukur.

    Yang tabah ya, Mbak Dina, Semoga Allah menerima beliau di sisi-Nya, melapangkan kuburnya, dan menerima amal ibadahnya. dan semoga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan kesabaran, Amiiin…!!!

    saya turut berduka cita sedalam2nya.

  2. Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun…subhanallah, meninggalnya mudah sekali…allaahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fuanhu, semoga dilapangkan kuburnya, diterima amal ibadahnya, dan bagi keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran dalam menerima cobaan kali ini…aamiin

  3. Membaca posting Dina di blog ini membuat saya langsung teringat Papa & Mama, betapa beruntungnya saya masih diberi kesempatan dan waktu untuk bisa membahagiakan mereka, namun sayang akhir2 ini saya lebih sibuk dengan urusan sendiri.
    Sering kali ketika Papa & Mama opname, mereka tidak mau ditunggui oleh anak2nya karena takut kami malah sakit.
    Terima kasih Dina, tulisannya sangat menyentuh sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s