Satu Titik Tanpa Koma

Hari selesai sudah perjuangan bapak saya melawan sakitnya. Siang tadi, tepat di waktu dzuhur setelah  melaksanakan sholat sambil duduk beliau tidak sadar. Tidak sadar, untuk selamanya. Allah memanggilnya dalam keadaan terbaik.

Dua malam terakhir, saya menemaninya menghadapi insomnia dimana beliau beberapa waktu terakhir memang kesulitan tidur. Malam sebelumnya sesekali beliau sesak, saya bantu pasangkan oksigen. Lalu tak lama beliau duduk diatas sajadah, menggenggam tasbih dan berdzikir.

Malam kemarin saya melihat air matanya terus mengucur deras sementara mulutnya tak henti menyebut nama Allah. Saya mengusap punggungnya, bertanya mana yang sakit. Tapi beliau diam membisu sambil terus bercucuran air mata.

Kemudian beliau ingin tidur di depan TV, pindah ke kamar saya, lalu pindah ke kamarnya. Saya hanya duduk disana, tanpa terpejam menemani. Segera pergi ke dapur jika beliau minta teh campur madu, ceplok telor ataupun air hangat.

Hari ini, titik itu tiba. Allah lebih menyanyanginya dari saya. Menghapus dosa-dosanya melalui sakit selama ini, dan menjemputnya hari ini. Ya Allah…. Engkaulah Sang Penentu hidup dan mati kami.

Siang tadi selepas beraktivitas dikampus saya menjaga paman saya di RS. Kebetulan ada 2 anggota keluarga saya yang sedang dirawat di rumah sakit. Baru saja saya selesai sholat dzuhur, mamah telepon : “bapak udah gak sadar din, ayo pulang”

Saya berlari pulang, meninggalkan paman saya di rumah sakit. Berdoa sepanjang jalan : “bertahan pak, bertahan..tunggu saya datang”. Air mata saya sudah bercucuran sepanjang jalan.

Saya menyaksikan bapak saya berbaring tenang, hati saya teriak tidak. Otak saya ter-pause tak ingin berpikir inilah waktunya. Tangannya pucat, pipinya dingin. Saya tidak dapat merasakan hidungnya bernafas, saya juga tidak merasakan nadinya berdetak. Tetapi tidak.. saya tidak berpikir hari inilah akhir hidupnya.

Saya telepon dokter Djabir Abudan, dokternya bapak. Saya jelaskan kondisinya dan bertanya harus bagaimana. Dokter menyarankan saya memeriksa mata bapak menggunakan senter. Jika tidak ada reaksi mengecil dari pupilnya dokter menyarankan saya mendoakannya di rumah.

Saya membuka matanya, saya sorotkan cahaya senter. Tidak ada yang bergerak. Jeritan saya selama 1 jam tidak juga membangunkannya. Hanya mampu menggenggam tangannya di dada. Tidak pak, tidak hari ini. Tidak😦

Saya melarang siapapun mengubah posisinya, tidak boleh ada yang mengumumkan kematiannya sebelum ada dokter datang sendiri memastikan semua sudah selesai.

Pukul 13.30 dokter wanita datang, dia masih muda. Setelah beberapa saat memeriksa dokternya memastikan bapak saya telah tiada. Oh Bapaaaak😥

Sampai disini saja ikhtiar kita, disinilah segala rasa sakit akan terhenti. Bapak saya telah pergi selama – lamanya.

Dear bapak,
Selamat jalan. Disinilah waktu dimana jasad kita akan terpisah selamanya. Tapi sosokmu, selamanya akan ada di dalam dada, dalam setiap langkah hidup. Menjalankan hidup mengusung nilai-nilai yang engkau ajarkan sepanjang hidup. Kupastikan anak2ku nanti akan mengenal sosokmu.

Dear bapak,
Terimakasih, terimakasih banyak. Tak terhitung tak terucap berapa banyak saya harus berterimakasih. Dalam tubuh ini, saya bangga ada darahmu. Dalam hati ini, saya bangga ada kebaikan yang selalu engkau ajarkan. Dalam pikiran ini, saya bangga dengan tuntunan-tuntunan yang engkau ajarkan.

Dear bapak,
Saya mohon maaf…..
Hiks….
Saya mohon maaaaf, tidak banyak yang bisa saya beri. Tidak banyak yang bisa saya perjuangkan. Saya melakukan semua sebatas ada di kemampuan saya.
Saya mohon maaf….

Dear bapak,
Maafin saya ya, membiarkan jarum-jarum suntik, infusan dan cuci darah menyakiti tubuhnya. Maafin saya ya. Saya tidak pernah bertanya apa engkau lelah.

Dear bapak,
Saya akan jaga istrimu, mamah saya sepanjang hayat. Saya akan jaga seluruh keluarga seperti titahmu yang terakhir. Please, berhentilah khawatir. Tenanglah disana.

Dear bapak,
Tugas saya selanjutnya adalah hidup dengan baik dan mendoakanmu. Hidup dengan bahagia, saya janji. Walau banyak kebahagiaan saya yang tak tersaksikan nanti, tapi saya tau doa mengalun dalam mulutmu sepanjang waktu.

Selamat jalan Pak, jika tidak pernah terucapkan sayang bapak. Saya yakin Allah pun sayang bapak. Baik2lah disana, Semoga langkah di alam sana diperlapang Allah. Amin

21 thoughts on “Satu Titik Tanpa Koma

  1. Insya Allah…Bapak lo dah tenang disana….doa…n terus doa aja benk…lo dah berusaha sekuat tenaga kok….be brave n tough ‘karna itulah obenk yg gw kenal’…he must be proud of u….*hugs*

  2. Subhamallah Obenk, Insya Allah Bapak akan tenang di sana dan beliau pun bangga punya anak seperti Obenk. Yang ikhlas ya. sampagak brenti nitikin air mata baca tulisan ini *big hug*

  3. turut berduka cita atas wafatnya ayahanda dina. semoga alm mendapat tempat terbaik disisinya, serta kelg yg ditinggalkan diberi keikhlasan, ketabahan, kesabaran, dan kekuatan iman. amin YRA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s