Membeli Udara

Minggu lalu, kakak laki-laki saya membeli tabung oksigen untuk keperluan bapak di rumah. Sayang kedatangan pengirim tabung tersebut justru berbarengan dengan dibawanya bapak saya ke rumah sakit. Karena sejak kemarin pulang ke rumah, maka tabung oksigen itu mulai digunakan. Menjaga-jaga kala sesak datang.

Malam tadi saya tidur begitu lelapnya. 8 hari sudah saya hampir tidur hanya sedikit. Akhirnya terbangun pula saya karena suara panggilan bapak saya. Dia sesak, nafasnya tersengal-sengal dan meminta saya memasangkan oksigen untuknya.

Waktu menunjukan pukul 02.00 pagi, dan saya dapati tabung oksigen tersebut dalam kondisi kosong. Mumat pikiran saya seketika,berpikir keras bagaimana jam segini mendapatkan oksigen untuk bapak saya. Jangan bayangkan perasaan sedih saya melihat orang tua sendiri nafas tersedat tersengal-sengal dan mulai melemah dan berujar : “bapak capek, nafas sisa sedikit”.

Saya membohonginya malam tadi, mengatakan bahwa tabungnya ada kemacetan sehingga oksigen tidak mengalir baik. Padahal masalahnya adalah isi tabung habis. Terpaksa saya bohongi karena takut beliau panik dan makin sesak.

Hari masih gelap, saya sudah menelpon kesana dan kemari. Akhirnya setelah tau dimana saya bisa mengisi tabung oksigen saya pergi selepas saya sholat subuh. Berharap bapak sabar hingga saya pulang.

Pengisian oksigen masih tutup, namun saya tetap pergi karena saya menghubungi keluarga temen lama yang kebetulan rumahnya berhadap-hadapan dengan tempat pengisian tabung oksigen. Mereka membantu mengetuk pintu pagar sekalipun waktu buka masih 2 jam lagi.

Selama menunggu, saya duduk di ruang tamu keluarga teman lama saya itu. Menyandarkan bahu dan punggung yang melemas. Saya membawa tabung oksigen dari rumah mengandalkan ojek. Tidak ada laki-laki yang bisa dimintai tolong, kakak saya dinas keluar kota.

Dalam sandaran kursi tamu, teringat kata2 dr. Djabir Abudan. Dia mengatakan saya anak yang tangguh, melebih R.A Kartini. Tapi pagi tadi, rasanya air mata saya ingin tumpah ruah. Bukan karena ngantuk kurang tidur, bukan karena lelah mengangkat tabung seberat itu sendirian. Jauh dari rumah.

Saya hanya ingin menangis, hati kecil berkata : “oh bapak, mengapa semakin kesini hidup semakin serius aja?”. Selama ini kami sekeluarga menjalani hidup dengan santai. Bapak saya mengajarkan hidup santai dengan selalu mengingatkan untuk tidak merumitkan persoalan apapun.

Tapi kali ini rasanya mulai terlalu serius. Bahkan untuk udara yang dihirup oleh bapak saya selama beberapa jam saja saya harus membelinya. Pagi-pagi dan menggedor pintu pagar orang lain.

Rasanya benar-benar ingin menangis, tabung berat saya tarik2 dan gotong menggunakan angkutan umum. Udara didalamnya yang pasti akan habis beberapa jam ke depan sangat dibutuhkan bapak saya.

Duh,rasanya berjalan pulang secepat angin pun ingin jika mampu. Sementara tenaga tak kuasa bergerak cepat, pikiran selalu tertuju ke rumah dan ingat bapak sesak sejak semalam.

Udara saja mulai harus kita beli pak, saya harus mencarinya ke tempat lain. Saya mulai kesulitan mencari benang guyon dari situasi ini. Itu kan resep ajaran bapak saya, selalu menilik dari sisi humor ketika menghadapi satu perkara.

Sungguh pak, saya merasa semua ini tidak ada lagi sisi lucunya…

9 thoughts on “Membeli Udara

  1. Benk, gw d rmh ciapus ada 2 tabung oksigen, yg 1 biasa d pk mamah, 1-nya nganggur krn skrng mamah udh g praktek, kalo ada apa2 hubungi gw yaa, barangkali gw bs membantu dengan minjemin dl tabung oksigennya. Sabar yaaaa, neng… ^^, InsyaAllah ada kemudahan, aamiin

  2. Kebayang gimana rasanya ketika bapak sakit…tp dirimu memang tangguh benk…sayang diriku tdk bs membantu apa2 hanya bisa berdoa semoga dirimu diberikan kesabaran dan kesanggupan mengurus hal2 yg rumit yg skrng sedang dihadapi…semoga bapak diberikan kesembuhan ya benk…aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s