Jiwa Yang terkunci

2 hari terakhir di rumah sakit, bapak saya mulai menunjukan perangai buruk. Bapak semakin mudah marah, kesal karena ini dan itu. Merengek dan sesekali bicara bernada tinggi terhadap orang lain.

Sepanjang saya tumbuh dan dibesarkan, bapak saya tidak pernah begitu. Bahkan memaharahi saya pun beliau bisa dihitung dengan jari. Bicara tidak pernah tinggi. Dia mungkin bapak tersantai yang saya kenal.

Saya berusaha mendalami perubahan sikapnya tersebut, bahkan seringkali bapak saya tidak menutupi kekesalannya kepada mamah dan kakak saya. Menurutnya kami tidak mengerti keinginannya. Bahkan di satu malam kakak laki2 saya bicara dengan bapak sambil menangis, kami harus bagaimana.

Saya mulai semakin memperhatikan kondisi psikologisnya dengan serius. Saya pun sedikit meminta mamah dan kakak saya agak sedikit rileks dan longgar, mundur sedikit untuk memberi ruang. Dan saya pun tidak beranjak selama 2 hari itu dari rumah sakit. Saya bicara sedikit-demi sedikit menggali apa yang mungkin bisa saya fahami.

Saat ini, saya mengerti sedikit apa saja yang kira-kira menyebabkan perubahan sikapnya.

1) bapak saya pasti sedikitnya lelah dengan menahan sakitnya. Kesiapannya juga untuk cuci darah belum kuat. Sebenarnya mau, namun dia merasakan itu amat berat. Disuntik setelah begitu sulit mencari nadinya, lalu disuntik cek lab setiap pagi, dan menahan sakit yang mengganggu tidurnya.

2) Jiwanya merasa terkekang. Dia diatur oleh kami dan para perawat juga aturan RS, ketidakleluasaan membuat dia merasa dimatikan “power” dirinya.

Perlu diketahui, bapak saya adalah orang taktis yang gesit dan solusi oriented dalam mengurus apapun. Pekerjaannya yang bertekanan tinggi dan diharuskan mengatur banyak urusan dan melobi banyak pihak mampu ia lakukan. Dia penyelesai masalah, ia juga pelobi hambatan-hambatan, ia terlatih untuk mencari jalan keluar.

Sekarang saat sakit, dia menjelma menjadi seseorang yang tidak sabar, tidak menerima keadaan. diam lemah sementara sakitnya begitu mengganggu ia tak sabar mencari solusi lain. Ia kesal ketika mengatakan tubuhnya kesulitan makan bubur (mual, perih),  dia tidak nyaman tiduran di tempat tidur seperti yang disarankan, ia gak kuat kipas angin ruangan menyala sementara saya bilang kita harus menghormati pasien lain juga yang kegerahan. Disana dia merasa terkekang, merasa problem yang ia utarakan tidak dicari solusinya. Segala harus sesuai arahan. Sementara dia adalah orang yang solusi oriented dan mencari beribu jalan lain dalam urusan apapun.

Dia merasa “power”nya dimatikan katanya, keluhannya seperti dianggap angin lalu. Sementara kami ya tentu saja terjepit dengan aturan dan arahan perawat dan dokter yang mengobati.

3) bapak saya tertekan, dia merasa menyiksa seluruh keluarga. Anak istri begadang, tidak pulang, mondar mandir sana sini urus ini itu, wajahnya letih sekalipun tidak ada yang mengeluh. Padahal kami ikhlas tidak apa-apa. Menurutnya kami jangan sampai tersiksa hidupnya, lanjutkan aja mengurus hidup kami sendiri2.

Perasaannya saya fahami, siapapun tidak ada yang ingin jadi beban orang lain. Padahal kami anak2nya merasa mengobati adalah kewajiban kami. Tidak satupun keluh yang ingin sengaja kami ucap. Hanya sembuh yang kami harap.

Begitulah bapak saya. Dalam pikirannya ia hanya ingin selalu melindungi keluarga. Dan melihat kami sulit itu mengguncang jiwanya yang dia sendiri tau dia sendiri tak berdaya melakukan apapun.

Dari sanalah keinginan pulang dari rumah sakit. Mungkin dia butuh liburan sejenak dari beban2 pikirannya. Dan sungguh saya memahami.

Makanya pagi kemarin, saya menemui dr. Djabir Abudan kembali. Membicarakan kondisi semuanya seraya bertanya resiko jika saya membawanya pulang. Tentu saja saya berharap keputusan apapun yang saya ambil saya berharap restu dr.Djabir Abudan. Bagaimanapun saya dan bapak masih ingin mempercayai semua pengobatan ini kepada dokter kesukaan kami.

Ah, maka pulanglah sudah. Berharap jiwa yang lelah sedikit mendapat liburan. Lalu kembali segar dan berani terus berjuang menyembuhkan diri.

4 thoughts on “Jiwa Yang terkunci

  1. Keadaan demikian sering terjadi, agak sukar untuk kita memahami keinginan dan kehendak mereka yang dalam keadaan begitu, hanya kita perlukan kesabaran, bukankah kita ada terbaca berapa berat mata memandang berat lagi bahu yang memikul, demikian itulah perasaan yang dideritai oleh ayah anda, semoga beliau akan pulih seperti biasa…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s