Meniup Hati yang Ciut

30 November, terhitung sudah 8 hari saya di Rumah Sakit menemani bapak saya yang kembali mengalami sakit dada senin lalu. dr. Djabir Abudan menyarankan bapak untuk dirawat saja di RS.

Senin pagi itu, bapak mengeluh dadanya mendadak sakit. Saya pun segera membawanya ke dokter beliau setelah mengecek dimana pagi itu dr. Djabir Abudan praktek. Sesampainya disana, saya meminta izin agar bapak saya yang sedang kesakitan didahulukan. Bapak mulai tampak pucat dan payah. Beruntung dokter menyuruhnya segera masuk walaupun suster menyarankan untuk langsung bawa ke IGD RS aja. Tapi saya dan bapak memilih bertemu dr. Djabir terlebih dahulu.

Saran dokter agar bapak saya dirawat tidak saya ikuti hari itu. Saya kembali membawanya pulang dengan menyertakan obat2 yang diberikan. Berfikir ini sakit sementara dan di rumah istirahat dan diobati nanti akan membaik.

Sayang malam itu bapak saya tidak beristirahat dengan baik. Jika sebelumnya ia mengeluhkan dadanya sakit, malam itu ia mengatakan perutnya perih, sakit. Mamah dan saya tidak tidur sama sekali. Malam itu bapak meraung-raung kesakitan.

Selasa pagi dengan wajah ngantuk namun karena begitu bingung ada apa dengan bapak saya, saya kembali menemui dr. Djabir Abudan. Saya membawa semua obat-obatan yang diberikan sebelumnya. Bertanya satu per satu obat apa aja itu seraya menjelaskan keluhan baru dan akhirnya diberi obat tambahan.

Malam selanjutnya bapak masih juga tidak istirahat. Sekarang keluhannya berpindah. Pundak pegel dan tengkuk berat dan kepala pusing. Keluhan dada sakit dan perut sakit mungkin sedikit berkurang karena obat.

Rabu pagi pasca begadang pada malam kedua, saya mulai ragu. Antara membawanya ke RS atau kembali menemui dokter Djabir. Saya pun pergi mengajar dengan cemas. Kakak ipar sudah mendaftarkan bapak di tempat praktek Dr.Djabir untuk sesi sore hari. Namun saya ragu untuk menanti sore tiba.

Tidak sampai tengah hari,bapak dilarikan juga ke RS oleh mamah dan kakak saya. Saya pun menyusul setelah membubarkan lebih cepat kelas saya hari itu.

Hari itu bapak pun mulai menginap di RS. Siang menjelang sore saya bertemu dengan dr.Djabir di lorong RS dan segera menghampirinya. Saya sampaikan bapak tidak jadi menemui dia sore nanti walaupun namanya sudah terdaftar. Dokter pun bertanya dimana bapak dirawat. Dokter pun menemui bapak di ruang rawat inap.

Hari berganti, satu per satu keluhan bapak berusaha diobati. Hingga satu hari dr. Djabir menyampaikan ada kemungkinan diperlukannya Hemodialisa (cuci darah) karena ada indikasi kerusakan ginjal. Saya down, bapak pun drop. Cuci darah tidak ingin saya jadikan pilihan. Kamis dimana saya menyaksikan bapak mengalami kesakitan luar biasa. Sedih.

Perawat mulai memotivasi saya dan keluarga tentang kemungkinan dilakukannya cuci darah. Ah, hati saya masih tertutup. Saya merasa bingung dan kurang informasi mengenai hal ini. Mengambil keputusan pun saya ulur waktu.

setelah melewati wiken dengan begadang penuh kebingunan, senin pagi kembali saya menemui dokter Djabir. Saya menulis pesan disebuah kertas kecil dan dititipkan kepada susternya. Saya katakan saya ingin konsultasi a.n bapak saya.

Pagi itu saya bertanya apa yang ingin saya tau, dokter menjelaskan banyak hal ke saya dan memotivasi bahwa saran dia perlu dipertimbangkan. Kata-kata Dr. Djabir yang lugas, lantang dan bagai orator ulung itu merangsek mengusik hati dan pemikiran saya. Saya pun berpikir kembali dan mulai setuju untuk dilakukan cuci darah. Saya mulai pendekatan ke bapak, ibu lalu kakak laki2. Dan keputusan bulat bahwa pasien dan keluarga setuju untuk melakukan cuci darah.

Sore itu pertemuan kedua dengan dr. Djabir. Beliau tampak senang dan bangga akhirnya saya memilih jalan yang beliau sarankan. Ah, saya begitu percaya dokter ini. Saya yakin dia menyarankan segala sesuatu dengan rasa peduli yang tinggi. Bapak dan saya suka berobat ke beliau. Saya hanya berusaha menggenggam salah satu “tangan” diantara kebingungan. Tangan dr. Djabir.

Malam itu juga bapak saya menjalani cuci darah, walau tidak sepenuhnya lancar namun setidaknya perkenalan sudah dilakukan.

Hari ini, hari menguras energi. Bapak mulai mengalami lelah untuk diobati. Dia jenuh dengan rasa sakit yang tak kunjung reda. Dia mulai memancing emosi orang-orang sekitar. Ingin melakukan ini itu yang tidak seharusnya, mulai ceplas ceplos terhadap perawat, memancing kakak dan mamah saya untuk menyerah. Saya tau dia sedang tertekan dan putus asa.

Kakak saya terpancing kesal, mamah menangis meninggalkan bapak saya yang memang sedang berusaha mencari gara-gara dengan bersikap sulit dan tidak koperatif. Saya duduk menemaninya dengan tenang. Saya tanya satu per satu apa yang diinginkan bapak saya, apa yang ia takutkan, mengapa meminta saya berhenti mengobati,dll.

Sepertinya bapak kelelahan menghadapi rasa sakit, dia pun tertekan melihat saya dan keluarga lain kesusahan karena penyakit dia. Begadang tidak tidur, terganggu pekerjaan dan kehidupannya. Bapak saya berpikir dia sudah menyusahkan banyak orang.

Bapak merasa kami lebay, over protektif, dia jadi tidak santai dan merasa segala sesuatu tampak genting. Kami terlalu banyak melarang, perawat dan kami pun banyak merintah ini dan itu. Sepertinya ada sisi bossy dan mandirinya yang terusik. Bapak saya sebelumnya pribadi yang mandiri, tegar dan pengambil keputusan juga bossy. Dia sepertinya terganggu dengan semua “perintah” dan aturan2 yang harus dia lakukan.

Hari yang menguras psikologis saya. Saya bicara banyak dengan bapak saya selama mamah saya pergi dalam keadaan menangis. Bapak agak mulai tenang. Saya meminta keluarga saya untuk mengurangi sikap2 memerintah dan menunjukan kesulitan kami mengurus bapak.

Bapak pun tenang. Sore hari saat visit dokter, seakan tau betapa bapak saya sedang “membangkangi” semua orang dr. Djabir memberinya tausiyah dan motivasi. Tangis bapak saya meledak, saya membiarkan dokter bicara lebih banyak. Mamah saya ikut menangis. Sore itu, bukan hanya hati ciut bapak saya yang tertiup. Rasanya saya yang mulai letih pun tersegarkan kembali.

Selepas visit dokter sore itu, bapak saya mulai tenang. Beliau tidak terus memancing kami dengan kekesalan-kekesalannya. Tampak hatinya mulai tenang. Mungkin dia berusaha berdamai dengan keadaan.

Ah, thank you so much dr. Djabir Abudan. Thanks sudah mengatakan sedemikian banyak kata-kata melebihi tulisan-tulisan yang tercantum diatas resep obat. Thanks karena selain mengobati secara fisik, dokter merangkul kami secara psikologis. Dan yang tersembuhkan melebih dari jumlah yang seharusnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s