Lebih Hebat Dari Aku

Malam ini abis nonton satu acaranya Andy F Noya di Metro TV. Dengan “Hope”-nya bung Andy mengunjungi salah satu penampungan orang-orang yang mengidap gangguan jiwa di Tasikmalaya. Penampungan ini diprakarsai oleh seorang pria bernama Kang Dadang, dibantu oleh beberapa relawan yang tidak dibayar.

Awal mula kang Dadang ini mengumpulkan para pengidap gangguan jiwa dari jalanan adalah karena tersentuhnya hati beliau disatu waktu melihat ada orang gila mengais makanan basi berbelatung di tong sampah. Maka sejak itulah, beliau bersama dengan kakaknya yang bisa mengobati orang stres mengumpulkan orang2 gila dari jalanan. Yang terlantar, yang mungkin mengganggu masyarakat sekitar.

Yayasan ini aktif mencari pasien dari jalanan untuk kemudian diajak untuk mau ditampung. Mereka dimandikan, diberi makan, diberi aktivitas dan sebagainya. Walau terkendala keterbatasan, Yayasan Keris Nangtung ini komit untuk terus merawat para pasien psikotik ini. Tidak sedikit kisah kesembuhan yang terjadi, ada bahkan pasien yang akhirnya sembuh dan bisa diperbantukan menjadi relawan penampungan.

Andy F Noya berkunjung kesana dan menyajikan informasi menggugah hati semacam itu di televisi. Selalu ada orang yang peduli, akan selalu ada orang yang begitu manusiawi. Kala sebagian besar kita hidup begitu individualistis, mengejar keuntungan pribadi, pemerintah yang entah sibuk apa, maka tayangan yang menginformasikan bahwa ada orang yang peduli lebih lebih dari yang diri kita mampu lakukan itu begitu menggungah.

Kepedulian orang lain, dalam hal ini Kang Dadang dan kawan2nya membuat kita pasti kagum dan terharu sekaligus tidak ketinggalan menyentil hati kecil kita, apa sih yang sudah kita mampu berikan untuk orang lain? Kedua perasaan itu bercampur aduk selama menyaksikan tayangannya.

Beberapa tahun lalu, ketika saya masih bersekolah di SMA hampir setiap pagi jam 7 saya berangkat ke sekolah sepanjang jalan saya menghitung berapa banyak orang gila yang saya temui di jalanan, yang saya lihat dari atas kendaraan. Dari rumah saya hingga ke sekolah, jangan ditanya. Hampir setiap ratus meter jarak saya menemukan orang gila berkeliaran. Wanita, pria, muda, tua pengidap gangguan ini berkeliaran menggembel di jalanan, menghiasi sibuknya pagi orang2 sehat yang berlalu lalang.

Pemandangan itu mungkin juga dipicu oleh krisis moneter dan kerusuhan yang baru saja terjadi setahun sebelumnya. Kesulitan ekonomi dan hidup rupanya memancing meningkatnya jumlah orang2 stres di jalanan. Dan pemerintah kita sepertinya tidak mampu mengurusnya semua.

Dari sanalah cita2 saya bermula, ngotot ingin jadi psikolog. Memang bukan Psikiater. Saya berpikir, sebelum sesuatu menjadi buruk, seseorang yang mengalami tekanan hidup butuh pendamping sehingga keadaan tidak semakin memburuk. Menjadi gila beneran. Cita2 yang awalnya ngotot akhirnya tidak tercapai saya kejar. Mengenai hal ini sepertinya saya sudah menceritakannya di tulisan lain.

Malam ini, saya menyaksikan ada orang lain yang tidak hanya sampai di cita2 saja namun melakukan aksi nyata. Melakukan hal2 melebihi yang saya cita2kan, menjawab dan memberikan harapan dari rasa prihatin dan sedih yang saya yakin bukan hanya saya saja yang merasakannya. Dialah seorang yang dipastikan lebih hebat dari saya yang hanya mampu sampai di tingkat prihatin saja. Melakukan secara total.

Melalui acara ini, yayasan tersebut akhirnya mendapat bantuan dari dompet Dhuafa sebuah komitmen untuk menyediakan lahan pasti untuk menggantikan lahan pinjaman kabupaten yang saat ini ditinggali, bangunan kumuh bekas terminal. Dompet Dhuafa memberikan bantuan berupa lahan yang memang diidam-idamkan Kang Dadang dan kawan-kawan untuk merelokasi puluhan pasien yang saat ini mereka tangani.

Tidak sedikit kisah pilu yang tentunya dialami para pengidap gangguan jiwa ini. Dikucilkan masyarakat, diabaikan keluarga dan terlunta, atau bahkan dilecehkan secara seksual hingga akhirnya mengandung tanpa sadar. Disana lah mereka ditampung, dirawat dan dimanusiakan kembali. Bahkan 2 diantaranya melahirkan bayi2 lucu.

Akhir tayangan ditutup oleh adegan pertemuan seorang pasien wanita yang sudah 4 bulan berada disana. Ia ingin kembali pulang ke keluarganya di Bogor. Rindu ibu katanya. Dan pertemuan mereka pun diatur. Saya berkaca-kaca melihatnya. Ternyata, bagaimanapun mereka tetap manusia seperti kita. Dan dimana lagi penyembuh lebih mujarab selain cinta kasih keluarga?

Kita yang sehat sepertinya harus lebih sering ingat untuk bersyukur. Mensyukuri keadaan baik yang masih melekat di kehidupan kita. Sehat jiwa dan Sehat Raga.

Trims Dompet Dhuafa atas bantuannya. Kita yang memiliki kecukupan menjadi lebih yakin kemana zakat kita titipkan.

Semoga…jiwa-jiwa yang sakit, benak-benak yang gelap, Dan cahaya-cahaya batin yang redup kembali sembuh, bersinar dan terang. Semoga Allah, Sang Maha Penyembuh dengan kuasanya memudahkan orang-orang yang melakukan kebajikan bagi setiap insan yang lain. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s