Ketika Sakit Datang

RS

Belum genap sebulan lalu,bapak saya masuk rumah sakit. semua berawal dari telepon dari mamah saya yang mengabarkan bahwa bapak saya sakit dan dia minta saya pulang untuk membawanya ke rumah sakit. Sore itu pun saya mengakhiri pekerjaan saya dan bergegas pulang. Kakak perempuan saya saat itu pun dalam perjalanan pulang, dan kakak laki2 saya memantau via telepon.

Sore itu pula saya membawanya ke rumah sakit. sekitar 2 jam dicek di ruang UGD, dokter menyatakan bapak saya terkena serangan jantung. medium. dan ini kali pertama. mereka mengatakan bapak saya harus masuk ICU.

Malam itu juga bapak saya masuk ICU. kondisi ini cukup mengagetkan, boleh percaya atau tidak seumur saya sekarang, saya belum pernah sekalipun mengalami anggota keluarga inti saya dirawat di rumah sakit. Sedikit bingung dan cemas malam itu, namun saya berusaha rileks agar kepala jernih memikirkan hal2 yang lebih perlu.

Malam itu gorden ICU sudah tertutup, saya pun pasrah dan mempercayakan bapak saya kepada para ahlinya. Kembali terbayang dalam perjalanan ke RS sore harinya. Sepanjang jalan saya diam, sesekali melihat mamah saya mengusap bahu bapak saya yang merem sambil kesakitan. Pikiran saya udah kemana – mana, bicara ke diri sendiri untuk bersiap kehilangan bapak hari itu, dan saat itu pula saya berusaha menepis pikiran buruk.

Beruntung malam itu bapak saya kebagian tempat di ICU rumah sakit tersebut. Sesaat sebelumnya saya diberitahu bahwa ICU RS penuh, namun saya agak bersikeras petugas memastikan kembali dan sempat menanyakan kemungkinan rujuk. Akhirnya ada satu tempat untuk bapak saya.

Ketika saya duduk di depan apotek membeli resep yang ketiga, kakak laki2 saya tiba. agak malam saya pun memutuskan pulang dan membawa mamah saya untuk beristirahat di rumah.

ICU – Kita tidak sendirian

2 hari 3 malam total bapak saya di ICU. perasaan tegang dan takut diawal mulai rileks, saya melihat keluarga lain banyak yang mengalami serupa. siap tidak siap kita harus menghadapi apa yang disodorkan hidup bukan? dan ini perjuangan hidup, orang lain mengalami dan melakukan serupa.

Saya dan mamah saya banyak berbagi cerita dengan penunggu lain. Banyak yang kondisinya lebih berat dan sudah lebih lama disana. Bapak saya termasuk yang stabil dan dalam keadaan sadar baik ketika datang dan selama disana.

Selama di ICU entah berapa resep yang harus keluarga saya beli. Semuanya bukan uang yang sedikit. Bersyukur masih mampu membayarnya kala itu. Duduk antri di apotek berkali-kali jadi jajanan sehari-hari, di apotek saya liat orang lain pun sama mengeluarkan uang, ada satu dua yang mundur kembali dan terlihat berpikir lalu mulai menelepon.

Selama di ICU, saya menghadapi kematian dua pasien lain. itulah mengapa selalu deg-degan saat nama keluarga kita dipanggil oleh perawat di ICU, antara diminta beli obat, bapak saya mau ditemenin makan atau kritis dan akhirnya tidak tertolong. Sepertinya sama dengan penunggu lain, kami sama2 menyimpan cemas dan berusaha ikut menghibur keluarga yang baru saja kehilangan anaknya. meraung-raung menangisi yang telah berpulang.

ini kondisi baru dalam hidup saya dan keluarga saya. menepis pikiran buruk sekuat tenaga. Dalam kehidupan apapun yang kita alami, kita tidak pernah sendirian. karena orang lain pun banyak yang mengalami hal serupa.

Rawat Inap- Orang Sakit Itu Banyak

hari Jumat malam bapak saya keluar dari ICU, sedikit lega itu pertanda kondisinya membaik. Bapak saya pindah ke ruangan biasa. di ruangan rawatnya ada pasien lain. saya diperlihatkan lagi orang lain pun banyak yang sakit. Orang lain pun sama, jadi mengapa harus takut berlebihan? satu2nya yang bisa dilakukan adalah berusaha dan bersabar menjalaninya.Ada satu hari tegang di ruang rawat inap, dari sabtu sore hingga minggu pagi kondisi bapak saya drop, gula darah sangat rendah dan gagal naik terus. beruntunglah esok harinya membaik hingga kemudian pulang di hari ke-delapan.

Seperti inilah ketika sehat diambil oleh Allah. Mungkin sedang menguji bapak saya dan keluarga, mungkin sedang mengingatkan akan sesuatu hal. tapi sakit dan menyaksikan orang lain sakit mengingatkan kita betapa nikmatnya sehat, betapa perlu dijaga itu sehat.Mungkin kita lupa bersyukur saat sehat, karena tidak tau cara membandingkan dengan sakit.

Kini bapak saya sudah lebih sehat, sudah 2x kontrol rutin ke dokter. bekal yang tergenggam saat ini adalah kesadaran betapa berharganya sehat. Dan setiap hari perlu ingat untuk terus menjaganya.

Semoga semua yang sakit diberi kesembuhan dan kemudahan dalam proses penyembuhannya. amin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s