Berlebaran

lebaran

tulisan ini saya tulis malam takbiran lalu. saya tulis dari tengah malam, tapi malah tertidur menjelang subuh tanpa sempat mempbulishnya🙂

Bogor, 31 Agustus 2011

sudah memasuki tanggal 1 Syawal 1432 H artinya hari ini saya dan keluarga merayakan lebaran hari ini. Lebaran memang berulang setiap tahunnya, suasananya pun relatif sama. Namun entah bagaimana rasa sukacitanya tidak pernah berkurang sedikitpun.

Gaya berlebaran masing – masing daerah bisa jadi tidak sama, sesama satu daerah pun tidak bisa dipastikan berlebaran dengan gaya yang sama. ada keluarga yang mungkin memilih berlebaran dengan sederhana tidak berlebihan, ada yang mungkin berlebaran dengan semangat walau tidak melewati batas berlebih-lebihan, bisa jadi juga banyak yang berlebaran dengan “heboh”.

Yang jelas saya lebih suka menyebutnya semangat lebaran, dan semangat itu tidak hanya bisa diartikan dengan banyaknya uang yang kita keluarkan utuk mendanai hari raya. Antusiasme tidak melulu dilihat secara materi. Dan saya yakin kita punya cara masing – masing menunjukannya tanpa bermaksud dengan sengaja membuat orang lain iri.

Baju lebaran mungkin adalah hal yang paling identik dengan lebaran. Ada yang mewajibkan, ada yang tidak mentradisikan, ada yang juga bergantung pada kondisi saat itu. Saya sendiri dari kecil pasti dibelikan baju lebaran. Lebaran saya tangkap sebagai moment orang tua saya berbelanja banyak untuk kami anak-anaknya. Namun seiring bertambah usia, memiliki baju lebaran tidak menjadi hal utama seperti saat saya kanak2 dulu. ya tetap aja memang saya perlu membeli satu dua baju yang cukup pantas untuk saya pergi ke mesjid dan bersilaturahim hari itu, sekedar menunjukan penghormata dan antusiasme saya. itu pun jika dikira tidak ada baju lama yang cukup pantas dalam artian masih muat🙂

Namun dalam keluarga saya anak2 kecil, sepupu belia yang belum juga beranjak dewasa masih suka dengan adanya baju lebaran ini. Nanti juga saat mereka besar esensi dari Idul Fitri ini juga mampu mereka tangkap tanpa maupun dengan adanya baju lebaran. Orang2 dewasa diberikan baju lebaran, sepatu, tas dan lain2 semata-mata hadiah untuk menggembirakan. Semua ini harus kita pastikan tidak melampaui batas kemampuan dan terkesan memaksakan

lebaran tahun ini saya punya 2 daster, 1 baju untuk bersilaturahim, 2 high heels dan 2 tas baru *_*

Beberapa hari sebelum hari raya saya sudah bersiap – siap. siap-siap dalam arti saya harus membeli beras untuk zakat,sedikit rezeki untuk berbagi, beres – beres rumah dan membeli beberapa keperluan lebaran.

Saya menukarkan uang lebaran dibantu teman SMA saya yang bekerja di suatu bank. mengurus tukaran uang milik kakak2 saya, ayah saya bahkan uwa saya. memang ada tradisi memberi angpao di keluarga saya juga. Ada jatah2 anak kecil/sepupu yang semangat berpuasa dan mengaji mengkhatamkan al-Quran, ada bagian nenek atau kakek di keluarga yang sudah tua sebagai bentuk perhatian kita ataupun untuk tetangga sekitar sekedar berbagi keriangan sehingga semangat berlebaran bertularan dan yang berkekurangan pun bisa menikmati dengan “layak”. semuanya sesuai takaran kemampuan kami, insyaAllah tidak berlebihan dan masih dalam tahap wajar dengan tujuan menyenangkan. Banyak pihak lain nanti yang berkemampuan lebih mungkin berbagi lebih banyak dan pasti ada pihak lain nanti yang ikut terbantu. berbagi dalam semangat kebersamaan menyenangkan bukan?

Yang agak menjengkelkan adalah beres2 rumah yang gak selesai-selesai. seakan akan didatangi oleh presiden rumah tidak dibersihkan hanya lantai aja. rasanya jadi semua semua benda dielapin, barang2 dalam lemari dirapihkan, ruang tamu dirapihkan dan di tata posisinya sehingga nanti jika ada orang berkunjung mereka dan kami sama2 nyaman. Kamar mandi dibersihkan, gorden2 di cuci, sprei tempat tidur dan sarung bantal guling diganti yang bersih, heboh sekali. tapi mungkin itulah cara meluapkan antusias tadi. walau saya merasa capek tapi ya rasanya seperti itu adalah wajar. bebenah gak beres2🙂

Mendekati lebaran kami mulai menyiapkan kue2, tetangga dan teman2 pun saya rasa melakukan hal serupa. Sudah 3 tahun ini di rumah gak bikin kue tapi memilih membelinya beberapa toples. Namun belajar dari tahun2 lalu dimana kue2 lebaran semacam nastar, kastengel, putri salju, dll tidak terlalu “laku” di rumah kami dan sering berakhir dengan buluk bersisa maka tahun ini kami memutuskan tidak membeli apalagi membuat. Sebagai gantinya kami ganti dengan menyiapkan berbagai rupa makanan cemilan yang kami beli di pasar. Kesukaan kami tentunya. Dan ini jauh lebih murah.

Toko cemilan di pasar

Walau tidak menyediakan kue lebaran, ada juga yang kirim kue2 lebaran (nastar, kastengel,dll). kami menyebutnya rezeki. ada juga yang mengirim kue bolu, lapis legit, lapis suarabaya. keinginan orang2 berbagi seperti ini membahagiakan. baik saat kami jadi pemberi, maupun saat kami jadi menerima hadiah. trims ya..🙂

Urusan dapur melingkupi makanan, masakan, kebutuhan pokok itu kawasan teritorial mamah saya. cukuplah saya jadi cleaning service saja. Masakan lebaran yang biasanya ada adalah ketupat, opor ayam, sayur pepaya, sambel goreng kentang, rendang dan ayam goreng. plus kerupuk, emping dan lempeye sebagai pelengkapnya. Untuk semua hidangan ini saya kudu berterimakasih ke mamah saya karena beliau menyediakan dan mengerjakannya sendiri.

Kebutuhan yang tadi disebutkan membuat saya harus ikut merasakan aura pasar, mall dimana orang2 berbondong – bondong berbelanja. tugas saya biasanya mengawal mamah saya di kerumunan berdesak-desakan untuk bantu membawa belanjaan ataupun saling menjaga dari copet🙂 Banyaknya orang berbelanja membuat saya bersyukur pertanda Allah menurunkan rezekinya dimana – mana, tapi juga mungkin mengingatkan saya kepada yang kekurangan dan berharap mereka juga dicukupkan oleh Allah.

ah sudah hampir subuh, tidur dulu ya. bisa2 nanti sholat Ied ngantuk🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s