Hidup Bergantian

rafa

Satu waktu saya menemani keponakan saya satu-satunya tidur siang. Keponakan ini adalah anak dari kakak perempuan saya. Sesekali ia bergerak dan menguletkan badannya. Saya pun yang disampingnya mengusap-usap punggungnya agak keponakan saya tenang.

Entah bagaimana sambil mengusap punggung keponakan saya mendadak teringat uwa, kakek, nenek, bahkan bibi sayang yang sudah berpulang lebih dahulu ke pangkuan Illahi.

Hati saya bercakap sendiri bahwa para “tetua” dalam keluarga itu tidak sempat mengenal keponakan saya ini. Karena ia lahir setelah mereka tiada. Lalu saya membayangkan ketika para almarhum masih hidup, bagaimana mereka berinteraksi dengan saya yang saat itu mungkin masik kanak-kanak atau remaja belia. Pernahkah mereka terpikirkan bahwa mereka akan mendahului saya? meninggalkan dunia dan keluarga hidup tanpa mereka. Apakah manusia yang telah mati masih memiliki perasaan khawatir akan yang hidup? hidup baikkah? berkecukupan kah? Pertanyaan – pertanyaan semacam itulah yang hadir saat itu. Bagi saya yang hidup, saya selalu berusaha berkeyakin bahwa para alhmarhum sudah tenang di sisi Allah YME dan mendapat tempat terbaik.

Saya kembali memperhatikan keponakan saya, lalu mulai teringat kepada kedua orang tua saya. Pasti akan ada satu waktu nanti dimana orang tua atau bahkan saya sendiri mendahului keponakan saya ini, pergi meninggalkan dunia. Entah bagaimana perasaan kami nanti tatkala telah tiada, namun jika coba saya fikirkan dan bayangkan saat ini ketika saya masih hidup muncul pertanyaan – pertanyaan khawatir dan semacamnya.

Bagaimana hidup keponakan saya nanti, bagaimana adik2nya nanti, bagaimana saya, bagaimana anak2 saya. Hidup baikah? berkecukupan kah? masalah apa yang kira – kira nanti yang mungkin saya atau dia hadapi? Bagaimana rasanya saat itu terjadi tidak ada orang tua, tidak ada saya atau tidak ada kami semua. Pertanyaan – pertanyaan yang mengganggu ya🙂

Saya kembali memperhatikan keponakan saya yang mulai kembali terlelap, dalam hati saya mendoakan kehidupannya. Suatu hari nanti, jika besar nanti atau saat orang tuanya, saya bahkan kakek neneknya telah tiada dan dia besar semoga dia hidup dengan baik, mendapat banyak kemudahan dan semoga menjadi orang yang cukup berani dan kuat untuk menghadapi segala hal yang hadir dalam hidupnya.

Begitulah hidup bukan? saling bergantian generasi satu dan lainnya. Yang bisa kita lakukan adalah saling menyayangi dan menjaga ketika kita semua hidup bersama. Suatu waktu akan ada masanya ada yang pergi dan menghilang seperti halnya bayi – bayi yang datang. Semoga kehidupan baik kepada kita semua dan hidup ini diridhoi oleh Sang Pemilik Hidup. Amin.

Dear Rafa, semoga jadi anak yang sehat, pintar, kuat serta beruntung saat ini dan di masa depan. Semoga Allah selalu menjaga untuk senantiasa ada dalam kebaikan.

*wah saya terbawa perasaan*

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s