#IndonesiaJujur : Menakutkan Saat Kecurangan Dianggap Wajar

Mencontek, pernahkah saya? tentu saja pernah. Memberikan contekan, pernahkah saya? tentu saja pernah. Bahkan dicontek paksa pun pernah. Bagaimana rasanya? tentu saja mencontek memunculkan perasaan malu dan gak enak walaupun secara terpendam. Memberikan contekan bagaimana rasanya? tentu saja menghadirkan perasaan bersalah dan ketidakrelaan.

Pernah saya mencontek di satu ulangan harian bahasa Indonesia saat sekolah. Dari begitu banyak teman yang mencontek, ternyata sayalah yang ketahuan oleh guru. Mungkin saya tidak terlalu ahli melakukannya, dan memang belum mendapatkan apa-apa dari buku yang saya intip. Hari itu saya ditertawakan sekelas, ibu guru menegur saya dengan baik. Saya tentu saja malu. Udah jarang-jarang melakukannya kok ketahuan sekalinya nyontek. Bagaimana bisa orang lain begitu lihai melakukannya? Saya gugupnya luar biasa sampai ketahuan.

Dari pengalaman itulah saya mendapat “teguran”. Sepertinya mencontek bukan jalan saya. Perasaan yang ditanggungnya lebih berat dari mendapat nilai buruk sekalipun. Setidaknya saya lebih beruntung, saya besar , sekolah dan mendapat pesan yang wajar, bahwa menyontek dan curang adalah hal tidak jujur yang memalukan.

Kebiasaan banyak main dan kurang waktu belajar membuat memang nilai-nilai sekolah tidak terlalu baik. bahkan ditutup dengan nilai UAN yang cukup miring🙂. sedih sekali saat menyaksikan ekspresi mamah saya membuka amplop pengumuman kelulusan beserta nilainya yang tiba diantar ke rumah oleh petugas pos.

Butuh waktu beberapa menit bagi mamah saya untuk diam, sepertinya syok nilai saya tidak secemerlang saat kelulusan SD atau bernilai baik seperti kelulusan SMP. Tapi bukan marah yang saya dapat. Mamah saya justru bertanya :

“semua nilai dikertas ini hasil jujur kah?”

saya sedikit terperangah kok justru ditanya begitu, bukan kena marah. Dengan yakin saya jawab 100% jujur mah. lah wong saat UAN sekolah sayalah orang pertama yang keluar pertama. Saat yang lain masih di kelas aaya udah duduk2 di mc.D. saya hanya mengisi sebisa saya. Bahkan saya bisa ikut menjamin bahwa nilai-nilai yang tertera di UAN SD, SMP, SMA adalah murni dilakukan dengan jujur.

Jika teguran guru kala menegur saya yang mencontek saya serap sebagai pesan bahwa mencontek adalah hal salah, pertanyaan mamah saya tadi seakan memberikan pesan betapa ada nilai2 lain yang bisa diperhitungkan walau bukan dalam besaran angka. Dan saya lega mengetahui mamah saya mempertimbangkan dan menghargai kejujuran saya walau hasil UAN sedikit mengecewakan dirinya *getok kepala sendiri karena belajar gak serius*

Belakangan ramai dibicarakan di media tentang satu ibu yang mempertanyakan kejujuran anaknya, yang mengkhawatirkan anaknya terjerat di dalam jala ketidakjujuran yang ditengarai dilakukan secara bersama – sama di suatu sekolah. Miris dan sedih sekali jika pada akhirnya si ibu itu yang lantas dipersalahkan. Dituduh membesarkan masalah lah, menimbulkan masalah lain lah, bahkan saya baca beliau diperlakukan tidak menyenangkan oleh warga sekitar dan berbuntut pengusiran dari daerah tersebut.

Helooooo world! penconteklah yang harusnya malu. Saya pernah merasakannya. Dan beruntunglah saya merasakan rasa malu itu. Pihak yang menyarankan untuk mencontek atau memberi contekanlah yang harusnya malu. (dalam hal ini seumur hidup saya tidak pernah 1 orang dewasa pun menganjurkan demikian).

Helloooo Mommy! Orang tua yang anaknya mencontek lah yang seharusnya malu dan khawatir, sungguh khawatir jika anaknya berfikir perilaku securang itu adalah wajar. Sungguh menakutkan jika perilaku salah dilakukan bersama – sama dan semua orang sepakat merasa semua itu wajar.

menakutkan saat melihat tidak satu pun orang malu, menakutkan saat melihat tidak satu orang pun merasa gundah dan merasa bersalah. Menakutkan sekali anak – anak yang semuda itu melakukan kecurangan dan tidak ada orang dewasa yang mengingatkan betapa salahnya hal tersebut. Lebih mengerikan lagi jika orang – orang dewasa yang seharusnya sebagai pengingat seperti yang pernah saya dapatkan itu justru yang menganjurkan atau membiarkan.

Entah apa yang akan disimpan dalam benak anak – anak itu, entah apa nilai yang mereka pegang teguh jika mereka merasa tanpa kerja keras pun kita bisa mencapai nilai yang sangat baik. Menyedihkan ya..

Teguran guru yang pernah saya dapatkan dan pesan mamah saya akan kejujuran justru membentuk saya yang lebih percaya diri. Tidak apa2 jika nilai tidak sempurna selama itu hasil jerih payah kita yang optimal. tidak apa2 jika nilai tidak sebaik orang lain, tidak perlu gelap mata mencari jalan pintas dan kotor. Mungkin kita kurang keras belajar, sehingga tidak memuaskan.

Memang mengerikan ya bersaing jujur jika kita tau sebagian orang lain mungkin bertanding dengan curang dan berpotensi mendapat nilai istimewa. Butuh kebesaran hati dan kedamaian dalam diri untuk kita dapat menerima nilai sederhana hasil jerih payah kita sendiri sementara orang lain dipuja karena bernilai istimewa (sekalipun curang). Mungkin orang dewasa terdekatnyalah yang harus turut berperan, membangun kebesaran jiwa dan turut membesarkan hati anak – anaknya yang bimbang antara memilih curang atau jujur.

Jika kita orang dewasa justru ikut serta dalam kebohongan, kepada siapa lain anak2 itu berpegang akan nilai – nilai? Jika ketidakjujuran itu marak terjadi, kok saya yakin banyak yang diantaranya bukan pencontek sejati. Hanya orang – orang yang merasa putus asa toh mereka tau mereka berkompetisi di arena yang gak jujur. Sekalian ikut nyebur aja dibandingkan melawan kecurangan yang memastikan kita akan terserat kalah. Oh mirisnyaaa.

Ada satu kalimat seorang ibu solehah yang ia ucapkan ke anak putrinya yang kelas 3 SMA, persis di depan mata kepala sendiri :

“jujur ya nak besok, ibu merinding membayangkan kamu ikut melakukan yang tidak – tidak. Ingat, Allah itu Maha segala. Dia melihat dan Dia Mendengar kita nak”

saya tau si anak tadi mengikuti kata – kata ibunya. Selepas ujian dia menyampaikan keyakinannya bahwa di ujian matematika ia hanya tidak bisa 4 soal. Yah perkiraan itu meleset sih, ternyata saat hasilnya diumumkan ternyata si anak salah 5 dan nilainya 87,5. Alhamdulillah.

Masih ibu yang sama, ia bercerita kegelisahannya saat bingung mencarikan anaknya yang lain sekolah selepas lulus SMP. Lusa kemarin beliau berbincang dengan saya :

“bingung saya, mamasukan anak sekolah kemana. Nilainya hanya rata – rata tujuh, sedangkan kompetitornya bernilai 9 semua”

ibu itu pun menceritakan bahwa anaknya sempat kecewa dengan hasil ujiannya. Tapi si ibu solehah tadi diantara kecemasannya malah berkata :

“tidak nak, tidak boleh menyesali diri. Ini nilai sudah baik. Nilai segini dan kamu sudah jujur juga berusaha ibu tidak apa2. Sekolah bisa mencari tempat lain. Gak boleh kecewa ya. Mudah-mudahan nilainya berkah”

setiap kali ibu ini bercerita seperti ini, tanpa ibu ini sadari beliau telah ikut memberikan pelajaran nilai – nilai pula kepada saya. Ibu – ibu seperti ini tentu saja memberikan harapan dan semangat bagi kita semua akan nilai -nilai kejujuran. Ibu saya yang menghargai nilai – nilai saya yang jujur dan setiap ibu yang ikut mengkhawatirkan anak-anaknya saat melakukan kecurangan adalah ibu – ibu pencerah.

Guru – guru yang mengingatkan untuk selalu belajar keras, rajin berlatih dan mengingatkan bahwa mencontek itu perbuatan cela adalah guru – guru sejati. Sehingga setiap murid, setiap anak bangsa akan selalu memiliki cahaya yang menerangi proses belajar mereka. Mungkin seperti yang pernah saya rasakan.

Entah apa yang salah dengan pendidikan masa kini, entah rantai mana yang harus diputus, tapi harapan bahwa kejujuran akan selalu ditempatkan sesuai tempatnya tentu adalah harapan yang tidak boleh pernah sirna.

8 thoughts on “#IndonesiaJujur : Menakutkan Saat Kecurangan Dianggap Wajar

  1. “tidak nak, tidak boleh menyesali diri. Ini nilai sudah baik. Nilai segini dan kamu sudah jujur juga berusaha ibu tidak apa2. Sekolah bisa mencari tempat lain. Gak boleh kecewa ya. Mudah-mudahan nilainya berkah”

    Cerita luar biasa…….bikin merinding

  2. hmmm. saya pernah nyontek ga ya? pernah kayae. ketahuan pernah juga. dan rasanya memang sama kaya yang mbake rasakan itu, malu bercampur dll ga worthed dengan hasilnya. tapi sekarang melihat adik-adik yang masih sekolah, saat ujian nasional banyak yang mencontek dengan berbagai cara, jadikan saya prihatin. bagaimana negeri ini di masa nanti kalo calon pemimpinnya sekrang dididik seperti itu, bahkan oleh orang tuanya dan gurunya sendiri. menurut saya, sistem pendidikan yang menekankan pada kemampuan otak (UN dkk) yang menyebabkan kondisi seperti ini. harusnya adik-adik kita ini dididik untuk mengeluarkan kemapuan terbaiknya di bidang masing-masing, ngga hanya melulu di sisi kemampuan otaknya saja, yang bisa menyebabkan mereka malahan tertekan.
    cmiiw.

    Ya Allah selamatkanlah negeri ini

  3. Pingback: #indonesiajujur: Suarakan dukunganmu akan kejujuran! | Bined

  4. bagus banget ceritanya Dina. Sangat menginspirasi. Dan salut dengan Ibu Dina dan juga kisah ibu sholehah itu. Semoga masih banyak yang seperti mereka. Amin.

  5. Pingback: #indonesiajujur: Suarakan dukunganmu akan kejujuran! | Tolak Ujian Nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s