Penelepon Tagihan Kartu Kredit Nyasar

telepon

Saya ingin berbagi kejadian kurang menyenangkan yang minggu ini saya alami. Semua diawali oleh sebuah telepon dari seorang petugas suatu bank swasta penerbit kartu kredit yang cukup terkenal. Petugas itu menanyakan keberadaan kakak perempuan saya, Dian. Saya tanyakan lebih lanjut ada urusan apa mengingat ini adalah telepon dari bank penerbit kartu kredit.

Setau saya, kakak saya dan saya tidak memiliki kartu kredit karena memang sampai saat ini dilarang oleh ibu kami untuk menggunakannya. Kebetulan kakak saya sedang bekerja, maka saya menanyakan keperluan si penelepon lebih lanjut lagi.

Petugas bank tersebut mencari seseorang berinisial Y karena memiliki tunggakan tagihan kartu kredit yang sudah bertahun-tahun ia lalaikan, dan nama kakak perempuan saya dicantumkan oleh Y beserta nomor telepon kami sebagai pihak lain yang bisa dihubungi. Saya jawab aja jika Y bukan orang yang tinggal di rumah ini.

malamnya saya sempat menanyakan kepada kakak saya bagaimana bisa membiarkan namanya dan telepon rumah digunakan oleh orang lain dalam urusan pengajuan kartu kredit? ternyata kakak saya tidak tau menau jika namanya digunakan dan telepon kami dicantumkan.

Keesokan harinya saya kembali menerima telepon dari petugas bank. Saya jelaskan kembali bahwa ternyata kakak saya tidak mengetahui namanya dicantumkan disana, dan kami keberatan jika telepon dari bank terus ditujukan kepada kami sekalipun alasannya karena mereka kesulitan menghubungi si pemegang kartu. namun saya tetap bertanya perihal tunggakan yang seharusnya menjadi beban Y.

Petugas mengatakan total tunggakan tagihan sekitar 10,5 juta namun pihak bank selama bulan Maret sedang ada program sehingga Y hanya cukup membayar 50% nya saja dan sekalipun masih keberatan Y bisa mencicil asalkan ada itikad membayar dan menghubungi pihak bank.

Saya mengambil selembar kertas buram yang ada di kamar dan sebuah pensil 2B untuk mencatat. Saya minta kembali petugas menyebutkan semua informasi detailnya hingga alamat dan nomor telepon dan nama orang yang harus dihubungi.

Saya tekankan saat itu bahwa seharusnya kami tidak ada kaitannya dengan urusan ini, namun karena memang kami mengenal Y dan ada upaya memberikan solusi dari pihak bank saya tidak keberatan membantu menyampaikan sekalipun hanya dititipkan kepada keluarganya karena Y bekerja di kota lain. Itu saya lakukan agar urusan selanjutnya tidak lagi dikaitkan kepada kakak saya dan menelepon ke rumah ini.

Hari Rabu lalu, saya baru saja tiba di rumah selepas mengajar. Di mesjid orang – orang masih ramai melaksanakan sholat magrib. Saya menerima penelepon seorang laki2 yang sangat kasar. Dengan kata2 yang kotor dan tidak sopan ia mencari kakak saya dan menanyakan keberadaan Y. Jangankan untuk diminta tenang, menjawab pertanyaannya pun saya kesulitan. Nada bicaranya sangat tinggi, setiap katanya hampir tanpa jeda dan cepat. Kosakatanya sulit dicontohkan kembali oleh saya disini, sungguh kasar dan gak beradab. kosakata yang hampir jarang saya dengar dan belum pernah saya diseperti itukan oleh orang lain. mengucapkannya apa lagi. Sangat tidak menyenangkan, amat mengganggu dan menghilangkan ketentraman.

Setelah saya menutup ia berusaha menelepon kembali namun kembali saya tutup. Malam itu pula saya mulai merasa hal ini akan benar2 mengangggu ketenangan rumah saya. Ada perasaan terteror jadinya. Saya pun segera menelpon tante saya dan meminta HP-nya diberikan ke salah satu keluarga dari Y. Melalui telepon itu melalui mamah saya kami menyampaikan bahwa baru saja menerima penelepon kasar gara2 urusan yang seharusnya menjadi urusan Y, bukan kami. Kami pun meminta keluarganya mengkonfirmasikan kepada Y agar menyelesaikan utangnya dan tidak lupa memprotes mengapa menggunakan nomor telepon rumah kami?

Keesokan harinya saya berusaha mencari nomor telepon bank karena saya ingin mengajukan keberatan kami jika pihak mereka apalagi sampai pihak ketiga collector yang bekerja sama dengan mereka menelepon dengan kasarnya ke rumah kami. Hari itu saya gagal menghubungi, dan si penelepon itu kembali menghubungi kami sorenya dan saya tutup.

baru hari Jumat kemarin saya bisa menelepon, ternyata kakak saya mencatat nomor telepon petugas bank yang menagih. kalo catatan kertas buram saya sih sudah diberikan ke keluarga Y.

Saya menguhubungi seseorang bernama bapak A, tersambung namun yang menerima sepertinya rekan kerjanya, seorang wanita. ini poin2 yang saya sampaikan.

1. saya mewakili kakak saya Dian kembali menegaskan bahwa nama Dian dan telepon kami dicantumkan oleh si pemegang kartu kredit tanpa izin dari kami dan sebenarnya berharap tidak disangkutpautkan.

2. saya mewakili kakak saya sudah ada itikad membantu pihak bank dengan menyampaikan pesan tagihan beserta ikut menerangkan opsi2 penyelesaian yang ditawarkan pihak bank kepada keluarga Y. jika kemudian Y masih belum memperoses itu diluar kuasa kami.

3. saya sebagai salah satu anggota rumah ini berharap pihak bank tau bahwa kami menerima penelepon yang sangat kasar yang mencari kakak saya dan Y menangih hutang dengan kata2 yang amat amat menganggu.

4. si penelepon kasar tadi malah meneriaki saya monyet dan setan ketika saya bertanya ini dari bank mana. namun karena 1 hari sebelumnya bank ini yang menghubungi kami berkaitan dengan Y maka kami asumsikan penelepon kasar tadi adalah collector yang bekerja sama dengan bank ini

5. Jika pihak bank tidak juga menindaklanjuti keberatan saya akan telepon2 kasar yang rasanya seperti meneror rumah ini tentu akan menjadi preseden buruk bagi bank yang bersangkutan

6. Kejadian ini akan menjadi pertimbangan saya dan keluarga yang sebenarnya mungkin saja bisa menjadi pengguna kartu kredit dari bank bersangkutan suatu hari nanti.terutama kenyataan bahwa bank sebesar ini menggunakan cara seperti ini dalam menyelesaikan perkara dengan nasabahnya.

7. saya minta mbak penerima telepon menyampaikan keluhan saya kepada bapak A tentang kejadian ini dengan harapan segera diluruskan dengan pihak manapun yang nantinya bertugas menagih hutang piutang yang sesungguhnya bukan hutang kami.

8. saya juga memberikan nomor telepon keluarga Y yang akhirnya bisa kami dapatkan, dengan harapan bank berhenti menghubungi ke rumah kami. Hanya sampai situ bantuan kepada pihak bank yang bisa kami lakukan.

Dan Syukurlah Jumat sore saya sudah tidak menerima telepon kasar itu lagi dan berharap memang selanjutnya akan begitu. fyi, bukan hanya rumah saya yang dimaki-maki penelepon kasar tadi perihal urusan dengan Y. Ternyata tetangga tante saya juga di hari yang sama mendapat kejadian serupa. lebih gilanya mencari atas nama kakak saya Dian yang katanya akan membayar hutang Y. HELLOOOO??

Setelah kejadian ini, saya akan melarang siapapun anggota rumah ini menggunakan dan mengizinkan orang lain mencantumkan nomor telepon kami untuk urusan serupa.

Saya juga dan orang tua akan kembali menegur Y bagaimana bisa menggunakan nomor telepon kami dan mancantumkan kakak saya ke dalam urusannya tanpa izin.

saya juga meminta maaf pada keluarga Y yang pada akhirnya ikut meresahkan mereka dengan protes2 saya. karena saya tau mereka pun tidak berkaitan dengan hal yang dilakukan oleh Y kakak mereka yang sudah dewasa.

sekian curhat saya, berharap seumur hidup tidak akan lagi mengalami kejadian tidak menyenangkan semacam dimaki-maki debt collector tak sopan dan berbahasa kasar semacam kemarin.

wassalam.

2 thoughts on “Penelepon Tagihan Kartu Kredit Nyasar

  1. Memang sering kejadian seperti itu mas. Kita sering tidak salah tapi kita jadi sasaran amukan depkolektor lewat telpon. Saya bisa memahami perasaan anda. Trims informasinya yang sangat bermanfaat. Salam kenal, selamat, sukses selalu untuk anda.

    Salam kompak :
    Obyektif Cyber Magazine
    (obyektif.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s