Tatkala Maut Tiba

In Memoriam

Hari masih pagi, namun hujan turun sudah dua kali dengan derasnya. Sayup – sayup terdengar suara televisi dari luar kamar. Pagi ini berita infotainment masih didominasi oleh berita kematian dari seorang politisi yang dulunya artis dan model, Adjie Massaid.

Tidak ada yang tau kapan maut akan menghampiri kita. Seperti pagi kemarin ketika salah satu host berita di TV swasta menyebutkan bahwa Adjie Massaid meninggal dunia. Saya yang sedang berada di kamar mandi sempat tertegun dan keluar kamar mandi untuk mendengarkan lebih jelas. Bagaimana bisa, masih semuda itu, saya pikir.

Butuh beberapa helaan nafas untuk menyadari bahwa berita ini sungguh terjadi. Bagaimana bisa, almarhum tampak sedang menikmati kehidupannya yang berhasil ia tata. Selepas perceraian yang cukup dramatis dengan istri pertamanya Reza yang menghasilkan dua orang puteri yang akhirnya ia rawat dan asuh sendiri, selepas pernikahan keduanya dengan Angelina Sondakh sesama politisi di partai yang sama mantan puteri Indonesia. Berkarir menjadi wakil rakyat, kehidupannya tampak sempurna ditambah kehadiran anak laki2 yg masih balita.

Begitulah maut, sepertinya ia tidak akan pernah bertanya kapan kita ingin juga siap untuk dijemput. Apakah kita dijemput ketika kita sehat, sakit, miskin, kaya, gagal bahkan sukses siapa dari kita yang benar-benar tau? cepat maupun lambat kematian selalu menghadirkan kejutan bagi pendengarnya.

Meninggalnya Adjie Massaid sungguh mengingatkan kita betapa maut tidak memilih usia. Bahkan lelaki muda dan sehat sekalipun maut tetap bisa menjemput. Tidak sedikit artis atau pesohor yang dijemput maut diusia muda. Sebut saja Nike Ardilla yang hingga saat ini masih dikenang penggemarnya, Sukma Ayu anak dari nani Wijaya, Anak istimewa dari Dewi Yull,Taufik Savalas, dan banyak lagi.

Malaikat pencabut nyawa tentu tak terkejut, Allah pun tak kaget, saya tidak tau bagaimana para almarhum ketika maut tiba kaget atau tidak. Yang bisa saya gambarkan adalah kita yang hidup, selalu kita yang terkejut. Kita yang ditinggalkan. Saya tau rasanya, semua orang pernah dipisahkan oleh kematian. Dua sahabat saya sejak kecil pun meninggal di usia yang amat muda.

Sungguh dari setiap kematian terselip berjuta pesan bagi kita yang hidup. Kematian membuat kita kembali mencari cermin dan berdiri dihadapannya memandangi diri kita sendiri. Kapan kita dijemput? sedang apa kita saat ini dan selama ini? Apa yang ada dibenak Tuhan Sang Pencipta terhadap hidup kita yang masih dipinjamkannya? Berapa banyak kita membangkang dan menurut padaNya? Sudah cukup baikkah kita dengan orang2 dalam hidup kita? Kapan giliran kita mati dan dalam kondisi apa kita saat itu?

Setiap kematian orang lain semua pertanyaan itu akan hadir, terucap maupun tidak. Dan lagi, kemarin dan pagi ini kita kembali bertanya-tanya seperti itu. Betapa maut begitu pasti, betapa mati begitu misteri. Tuhan Sang Maha Pengatur lah yang telah menentukan segalanya.

Semoga setiap berita kematian membuat kita semakin mawas diri, terdorong untuk hidup dengan jauh lebih baik, menjadi pribadi yang semakin positif. Semoga Angelina Sondakh dan anak2nya bisa menjalani hidup dengan baik setelahnya. Semoga setiap dari kita yang pernah mengalami kehilangan dan ditinggalkan akibat kematian selalu bisa melihat hikmah dan mendapat kekuatan.

Semoga saya bisa hidup dengan menjadi seseorang yang selalu lebih baik dari waktu ke waktu. amin.

 

 

 

One thought on “Tatkala Maut Tiba

  1. Pingback: Uje Meninggal di Usia Muda | Akuiniobenk's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s