Muka Kecut

muka kecut

Seperti apa roman wajah kita saat kita berhadapan dengan orang yang kita temui atau orang yang tak sengaja bertemu. Mungkin kita sudah mulai perlu memikirkannya, karena sepengalaman saya dan mungkin juga bukan hanya saya tapi kita sama -sama sepakat bahwa ada raut2 wajah tertentu yang akan sangat mengganggu jika terpancar dan dilihat orang lain.

Muka kecut seperti pada gambar disamping yang seringkali amat mengganggu. Hal ini pun sering saya alami terutama saat bertemu dengan orang – orang yang baru saya kenal, tidak kenal atau orang yang tidak akrab. Bukan hanya akan mengomentari kecutnya mimik wajah orang lain, saya pun akui sesekali saya pun tampak memasang tampang serupa.

Tampakan wajah yang kecut terkadang kita fahami sebagai sinyal sikap tak bersahabat, sinyal bahwa orang yang bersangkutan tidak sedang ingin beramah tamah atau tidak ingin berakrab ria. Ketika pikiran itu muncul terkadang timbul perasaan tidak nyaman dari kita yang menyaksikannya. Berpikir,jika ada orang lain yang mampu bersikap begitu ramah mengapa orang yang ini tidak demikian? kita kah yang salah karena tampak tidak menyenangkan? kita kah yang aneh hingga seakan tidak terpedulikan? ujung2nya kita akan bersungut – sungut mengatakan orang yang berjawah kecut tadi adalah orang yang sombong.

Bagi yang sering mengalami kecutnya wajah orang – orang semacam ini, jangan berkecil hati dulu. Pikiran kita belum tentu selalu benar mengatakan bahwa mereka itu pastilah sombong. Ada kalanya orang2 tertentu merasa kesulitan berakrab ria dengan orang baru apalagi yang tidak memiliki urusan dengan mereka. Ada juga yang sesungguhnya malah tidak sadar telah memasang muka kecut karena memang seperti itulah wajah original mereka, minim garis senyum yang bagi sebagian orang lain tampak begitu alami.

Terkadang untuk beberapa waktu saya menganggap si ini dan si itu tampak sombong karena bertahan dengan muka kecutnya saat berhadapan dengan saya, namun tidak jarang seiring waktu saat diberi waktu untuk berinteraksi lebih sering orang2 tersebut bisa kok “normal” dan ramah. Banyak kasus dimana ternyata wajah kecut itu ya udah bawaannya.

Saya pun begitu. Jujur saya sering mendapati diri saya dinilai jutek atau bahkan tampak galak karena seseorang bertemu saya dengan wajah yang lupa saya hiasi dengan guratan2 senyuman. Padahal untuk sebagian teman yang telah mengenal saya dengan baik tentu saja akan menilai lain. Bahkan kekhawatiran bahwa saya adalah orang  yang galak, sombong adalah sesuatu yang tidak tepat. Saya salah satu yang gurat senyumnya tadi tidak bertebaran di wajah secara alami. Ditambah pula saya termasuk orang yang tidak mudah sok akarab dan sok dekat tanpa alasan. sekali lagi, tanpa alasan loh ya..

Jadi mari menahan diri untuk tidak berpikir buruk ketika bertemu dengan si wajah kecut atau merasa ada yang salah dengan diri kita ketika kita menerima kecutan. Sebaliknya juga, mari selalu ingat2 untuk meredam sebisa mungkin bakat kecut tadi sehingga mimik wajah yang kita pancarkan tidak mengganggu perasaan yang melihatnya.

**tulisan ini saya buat sebagai pengingat diri sendiri baik saat saya dihadapkan dengan si wajah kecut maupun saat saya sedang berwajah kecut🙂

4 thoughts on “Muka Kecut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s