It’s Me – Kisah Nyata Penyandang Mutisme Elektif

 

it's me

 

Yuyun Yuliani tentang hidupnya di buku ini. Saat saya menulis review ini saya baru ngeh kalo profil penulis yang biasanya ada di belakang buku ternyata tidak ada. Gak apa2 , saya gak akan paksa penulis untuk tampil jika itu membuat anda nyaman🙂

Penulis sejak awal merasa ia berbeda dengan yang lain. Sebagai salah satu anak di sekolah ia merasa canggung ketika harus bercakap – cakap dengan teman lainnya. Belum lagi ketika setelah ia bersusah payah menyapa orang lain, reaksi yang ia dapatkan sering tak sesuai yang ia bayangkan. Sepertinya orang lain kerap salah menginterpretasikan kata – katanya.

Saya selanjutnya sebut tokoh dengan Y aja ya🙂

Y merasa ia sudah berusaha namun selalu ada saja yang keliru. Ia sering menganggap dialah yang salah. Y bermaksud lain, namun orang lain menanggapinya dengan salah. Ia merasa ialah yang tidak memiliki kemampuan berbicara yang cakap. Kegagalan – kegagalan berkomunikasi itu diperparah dengan keengganan Y untuk meluruskan segala sesuatu yang berjalan salah karena ia berfikir penjelasannya bisa semakin memperkeruh sesuatu yang salah.

Y adalah seorang anak yang seharusnya tampak biasa dan normal. Namun dibalik penampakan itu Y merasa dirinya berbeda. Ia terkadang iri melihat bagaimana teman yang lain begitu supel, ceria, mudah berbaur, bisa begitu lepas berbincang dan mudah akrab satu sama lain. Y merasa ia tidak seperti itu. Ia canggung, merasa kikuk ketika berada di keramaian. Ia sering merasa bingung bagaimana ia harus membawakan dirinya ketika berinteraksi dengan orang lain.

Y menganggap keluarganya tidak sama dengan keluarga yang lain. Di rumahnya ia tak mendapatkan dialog yang wajar antar anggota keluarga. Ia merasa selalu merasa kurang mendapat penjelasan akan banyak hal. Hal itu yang pada akhirnya membuat ia berpikir itulah alasan ketidakbecusan berbicara .

Y melewati hari – hari pada masa kecilnya dengan tidak mudah. Sulit sekali orang mengerti akan kekurangannya. Terkadang orang hanya menganggapnya aneh hingga membuat ia seakan tidak terlihat. Sesungguhnya Y mudah bahagia dengan hal – hal kecil semacam perhatian – perhatian yang tak terduga.

Bertahun sekolah ia selalu menghindari tampil di depan orang banyak. Y merasa kesulitan mendapat teman, kesulitan membuat teman nyaman di dekatnya terlebih membuat dirinya nyaman di dekat orang lain.

Aku salut dengannya, ia punya teman berbagi. Pasti setelah ia mengeluarkan semua keluhannya pikiran langsung cerah. Aku, tidak pernah punya teman berbagi, masalahku tidak nyata, masalahku masalah yang aku bangun sejak kecil tersimpan sekian lama di pikiran bawah sadarku. Apa yang harus kubicarakan terlebih dahulu? bagaimana cara membicarakannya? Dan kepada siapa aku berbicara?

Y kerap menyalahkan dirinya sendiri, ia benci mengapa banyak hal yang tak mampu ia selesaikan dengan baik. Ia diam melihat orang salah faham padanya, ia diam tatkala ia tidak menyukai perlakuan ibunya yang menbuatnya seperti anak kecil saja. Ia bahkan tidak mampu berbicara lebih banyak dengan ayahnya yang pendiam.

Y sadar dirinya berbeda. Ia menjalani masa kecil dan masa sekolah hingga ia dewasa sama seperti anak – anak lainnya. Namun tentu saja ia menjalaninya dengan amat berbeda. Ketika dewasa ia sadar ia butuh bantuan. Namun beberapa psikolog yang ia temui justru mengecewakan. Sempat ia ingin mengakhiri hidupnya walau gagal.

Y sadar, ia masih harus menjalani hidupnya yang masih panjang. Perbedaan dirinya dengan orang lain masih akan terus ia pikul selama menjalani hidup.

*********************************************************

Mutuisme Elektif, sesuatu yang mungkin dialami orang sekitar kita namun tidak kita sadari. Bagi kita yang begitu mudahnya bersanding dengan orang lain di pergaulan dan kemampuan diri kita menempatkan diri mungkin menjadi hal amat sulit bagi mereka.

Mungkin kita harus belajar peka ketika kita mendapati seseorang tampak kesulitan menyamankan dirinya. Seseorang seperti Y ini sempat terfikir oleh saya pasti akan baik – baik saja jika ia menemukan teman yang mampu menjembatani dirinya dengan sekelompok orang diluar sana. Namun mau sampai kapan? Seseorang tak mungkin kita lindungi selamanya.

Mari kita lebih ramah dan menjadi pribadi yang mudah, barangkali dalam hidup kita sewaktu – waktu kita akan bertemu dengan orang – orang istimewa seperti ini. Semoga saja dengan “keramahan” sekitar para menyandang Mutisme Elektif lebih mudah membuka diri. Upaya pun rasanya perlu mereka lakukan sendiri.

Manusia – manusia Mutisme elektif, berusahalah lebih giat lagi untuk berdamai dengan dunia. Tolong ingatkan kami jika sebegitu menyusahkan kalian – kalian yang istimewa, walau melalui sebuah anggukan. Tersenyumlah, semoga dengan begitu dunia terasa nyaman sesudahnya.

Buku ini buku yang enak dibaca, menyadarkan kita begitu banyak perbedaan di sekeliling kita. Menambah pengetahuan tentang apa  itu mutisme elektif dan mengingatkan kita untuk lebih peka dan ramah sehingga kita mampu menyikapi setiap keistimewaan yang ada dengan cara yang lebih baik.

16 thoughts on “It’s Me – Kisah Nyata Penyandang Mutisme Elektif

  1. Pingback: Penyakit sosial « kurdianto notes

  2. Buku ini seperti diaryku sendiri. Mutisme selektif tidak akan pernah bisa hilang seumur hidup, karena itu sudah bagian dari diri seorang penyandang gangguan mental ini. Hanya keimanan dalam hati yang bisa menguatkan semangat untuk terus hidup seperti manusia normal lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s