Lelaki Pantai Emas – 8

pantai emas

Pantai sore telah meninggalkan kami beberapa waktu lalu. Berganti pantai gelap dengan cahaya temaram dari lampu jalanan. Lampu – lampu dari pemukiman di kiri dan kanan pantai menjadi pemandangan kami dari kegelapan.

Angin menerpa pipiku, berputar dan meliuk tepat diujung hidung. Apa angin mampu mendengar apa yang aku ucapkan dalam hati, mereka tak nampak beranjak sepertinya mendengarkanku dengan seksama.

Apa yang aku lakukan disini, dengan kedua tangan memeluk laki – laki ini. Sudah waktuku untuk pulang, namun aku tak tega untuk melepaskan dekapan ini. Ok, jujur aku pun memang tak ingin melepaskannya. Laki – laki yang tadi tidur dengan wajahnya yang sedih kini tampak begitu tenang.  oh wajah tenangnya menenangkan jiwaku. Bagaimana mungkin aku melepaskan dekapan dan mengganggu tidurmu? Dan aku pun semakin merapatkan pelukan, seakan tak rela sedikit pun angin menjamah laki – laki yang bahkan aku pun tak tau siapa namanya.

Malam kian larut, cahaya – cahaya lampu dari kejauhan mulai tak nampak di mataku. Semua cahaya itu memudar, tak seberapa lama gelap telah menelan seluruhnya. Dan aku pun melupakan waktu.

Mataku amat rapat, ingin aku membukanya namun terasa berat. Aku bertanya pada diriku sendiri, aku dimana?. Seingatku seharusnya aku sedang memeluk laki – laki itu di sisi pantai. Menjaganya yang terlelap. Namun mengapa aku yang kini terpejam? Tangan siapa ini yang mendekapku, dekapannya kuat sekali. Ya Tuhan, mungkinkah aku tertidur dan lelaki itu yang kini memelukku? Aku ingin bangun, tapi aku tak tau bagaimana caranya.

Aku menggerakkan kepalaku dari dekapannya. Lengannya bergeser mengikuti gerakanku. Aku masih disana, terbenam dalam pelukannya. mataku terjaga namun aku tak tau bagaimana untuk lepas dari situasi ini. Aku tidak mengenalnya, apakah harus aku menyapa atau aku diam saja lalu pergi meninggalkannya. Aku tak minta didekap seperti ini, aku tak membayangkan sebelumnya ku akan tertidur disini. ough, bingung sekali. Harus kah aku menyapa?

Aku rasa ia menyadari aku telah terjaga, sementara aku masih bingung dengan keadaan ini. Namun tak lama tangannya menyentuh rambutku. Ia beberapa kali membelai disana, aku terdiam namun hatiku berdebar tak karuan.

Aku bangkit dari dekapannya, duduk disampingnya tanpa bicara. Ku lihat ia tersenyum sementara aku tak memiliki ide sedikitpun bagaimana membalasnya. Ku rapikan sedikit rambutku yang tak karuan. Rasanya saat ini aku harus pulang.

Aku berdiri, membersihkan kakiku dari pasir dan mengenakan alas kakiku lagi. Aku tak yakin ia mendengar suara ku yang samar. “aku pulang.. “. Aku hanya mampu menyapanya seperti itu.

Aku berbalik meninggalkan pantai. Melangkahkan kaki ke tempat dimana aku harus pulang. Hari ini aku benar – benar pulang kemalaman. Bingung dan senang keduanya ku bawa pulang.

Aku menoleh ke belakang, laki – laki itu mengikutiku dari belakang. Aku menghentikan langkahku sesaat dan menatap wajahnya. Ia menatapku dengan tenang lalu menggerakkan tangannya seakan menyuruhku untuk terus berjalan. Aku melangkah, dan ia ada disana mengikutiku hingga ujung jalan. Aku pun membalikkan badanku dan memberinya sebuah senyuman.

Hey lelaki, terimakasih telah mengantarku pulang.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s