Lelaki Pantai Emas – 7

pantai emas

Aku memeluk sesuatu yang terasa lembut. Mata belum juga terjaga aku memeluknya lebih kuat lagi.  Semuanya yang tersentuh tubuhku terasa nyaman, enak sekali dan menentramjan. Aku memejamkan kembali mataku dan membenamkan tubuhku dalam balutan hangat.

Rasanya banyak waktu yang kulewatkan, mungkin aku tidur terlalu lama. Sudah lama tak kudapati tidur senyenyak ini. Aku terpejam.

Aku berusaha mengingat apa yang telah kulewatkan saat ini. Mengapa rasanya seperti ada sesuatu yang aku lewatkan. Dimana seharusnya aku berada dan aku lakukan jika aku tidak tidur senikmat sore ini.

Sore. Aku merasa ada yang salah dengan mengucapkan kata sore. Jika ini sore lalu mengapa aku ada disini? Seharusnya aku ada di pantai. Bulatan emas dilangit itu tidak boleh tergelincir di ujung langit tanpa aku disana menyaksikannya. Aku memang seharusnya disana. Menikmati pantai emasku. Ah buaian peraduan ini telah mengganggu hariku.

Aku harus bangun. Ya bangun, nyamannya pantai lebih menjanjikan dari tempat tidurku. Siapa yang mengizinkan aku tidur hingga aku terancam melewatkan pantai soreku?. Ku bergegas beranjak dan mengganti pakaianku. Sebuah t-shirt warna hijau lembut membalut tubuhku yang masih lemas. Ku rapikan rambutku dengan sela – sela jari. Untuk apa aku tampil sempurna toh pantai hanya ujung jalan rumahku.

Dalam ketergesaanku aku teringat akan laki – laki itu. Aku mendadak berubah fikiran untuk sedikit lebih merapikan diriku.Bagaimana mungkin aku membiarkan ia melihatku seberantakan ini. ah, mengapa aku berpikir untuk tampil rapi di hadapannya?

Ku ikat rapi rambutku, mirip ikatan ekor kuda. Wajahku ku segarkan dengan air, aku ingin menyapukannya dengan bedak tipis – tipis. Namun aku urung melakukannya, menghadap laut dengan wajah telanjang rasanya tidak ada yang dapat menggantikannya di dunia ini. Aku pun beranjak menuju pantai kecintaanku dengan perasaanku yang cantik.

Aku tiba di ujung jalan rumahku. Ku memelas belas kasihan pada alam untuk menungguku tiba menyaksikannya. Namun langit di ujung sana tampak tak sabar menelan bulatan emasku. Angin mengganggu helaian rambutku, aku menerobosnya seakan tak ingin gelap mendahuluiku.

Punggung itu, punggung yang sama seperti kemarin lalu. Pemiliknya yang entah apa menungguku. Tertunduk memeluk dirinya sendiri tak bersuara. Aku mendekat tanpa bersuara, melihatnya terpejam. “hey..” sapaku dalam hati.

Pantai menggelap dalam sekejap, ku pandangi laut hitam pekat di depanku. Angin tak berhenti mengusikku, mengusik tidur laki – laki disampingku. Pakaiannya tipis dan ya Tuhan ia berantakan sekali. Ia tidur dengan wajah sedihnya. Entah apa yang merasukiku, aku meraihnya dalam dekapanku. Memeluknya dan menemani ia terlelap disana.

Laki – laki itu, terlelap dalam buaian hangatnya sebuah pelukan. Jangan bertanya padaku, aku hanya tau aku ingin memeluknya. Ia damai sekali, kedua lenganku merengkuhnya lebih dalam lagi.

Jangan bersedih lelaki, aku ada disini. Bersama pelukan.

2 thoughts on “Lelaki Pantai Emas – 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s