Lelaki Pantai Emas – 6

pantai emas

Angin menggangguku melalui tirai jendela kamar yang ia kibaskan. Matahari sudah meninggi saat aku masih berselimut di dalam kamar nyamanku. Cahaya matahari itu menggelitik bola mataku hingga ku tak nyamann untuk kembali terpejam.

Ku melamun dalam raga yang jiwanya belum juga terkumpul selepas malam. Suasana hatiku berubah, kemana semua beban yang kemarin lalu aku rasakan? Seperti sibulimkan angin pantai sore kemarin. Hatiku masih juga sakit namun ada sedikit api keberanian untuk menghadapinya. Hatiku belum juga merasa gembira namun aku tau suatu saat aku harus mengakhirinya.

Mendadak aku ingin ke pantai, aku merasa sendirian dibalik selimutku. Hari belum juga sore, pasti bukan pantai yang kuinginkan yang nampak jika saat ini aku kesana. Tidak akan ada bola keemasan yang tergelincir, memedarkan warna emas ke laut ya warna birunya mulai hitam pekat tertangkap malam gelap. Pantai kecintaanku adalah pantai sore yang hangat. Pantai tempat ku menghabiskan seluruh lukaku yang tiada habisnya.

Aku melangkahkan kakiku masih dalam balutan baju tidurku yang lembut. Hidungku basah namun gigiku bersih setelah ku bersihkan sesaat lalu. Ku biarkan angin pagi mengoyak rambut panjangku, setidaknya pantai ini akan tetap mengenaliku yang hadir di saat yang tak seperti biasanya.

ah, aku baru menyadari ini. Sungguh segar berada disana, di pantai pagi. Angin mengitari wajahku yang telanjang, tak sedikit pun bedak tersapu untuk menutupinya. Angin menelisik diantara helai rambutku mengganggu telinga yang bersembunyi. Dingin membuatku merapatkan baju hangat yang ku kenakan.

Pantai, mengapa sepagi ini aku sudah merindukanmu? benarkan yang kurasakan, disini aku mulai merasa tidak sendirian. Aku teringat bersama siapa aku semalam,aku bersama si bahu. Si bahu, nama yang kali ini ku sebut kepada si pemilik punggung sedih di pantai sore.

Tanganku meraba ujung bahuku. Terasa ada seseorang disana. Masih saja terasa olehku padahal malam sudah berlalu. Laki – laki itu bersandar di bahuku semalam. Entah apa yang ada dalam pikirannya, entah apa yang ia rasa dalam hatinya. Tanpa seucap katapun, ia merebahkan kepalanya dibahuku. Dan aku hanya diam..

Kamilah pemilik pantai emas setiap sore, Tuhan mungkin menghadirkannya agar keindahan itu bisa menyembunyikan jiwa – jiwa yang sedih. Aku dan lelaki ini, selalu berada disana tepat pada waktunya. Bola emas yang hanya satu itu kerap tergelincir meninggalkan kami yang tiada bosan berada disana.

Aku seperti merasa mengenal laki – laki itu. Diamnya pun rasanya mampu aku artikan. Hingga malam tadi ia merebahkan kepalanya diatas bahuku, aku seakan tau mengapa ia melakukannya. Mungkin ia merasa tenang dengan begitu. Andai ada yang mencuri dengar suara hati kecilku, ia pun akan tau sesungguhnyasandarannya menentramkan aku.

Pagi ini, aku duduk dipantai berangin ini. Pantai tanpa laki – laki itu, tanpa bulatan emas yang selalu kutangisi kala tergelincir. Aku tak mampu menahan diriku untuk tidak mencarinya. Hai lelaki, mungkin aku merindukanmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s