Lelaki Pantai Emas – 5

 

pantai emas

Ku kembali ke pantai, disuatu sore hari yang sedikit muram. Bulatan emas tak nampak seperti biasanya, langit tampak kusam dengan awan – awan yang menghalanginya. Sore ini pantai emasku tak nampak, berganti pantai keputihan dengan ombak yang bergelombang pertanda cuaca tak secerah hari2 sebelumnya.

Aku menantinya, si lelaki penyedih yang menghangatkan lelapku dengan jaket hangatnya. Aku bisa meyakinkan diriku bahwa ia kembali ke pantai ini, seperti biasanya. Bersamaku menikmati pantai keemasan.

Aku duduk di atas tumpukan pasir, memandang hamparan air yang kuyakini diatasnya begitu banyak angin berhembus. Aku membalut diriku dengan pakaian yang lebih hangat dari biasanya. Tak mungkin jika jaket yang ingin ku kembalikan akhirnya harus aku pakai kembali.

Pantai ini tampak lain dari biasanya, entah bagaimana menjelaskannya namun sungguh ku merasa aku tidak lagi sendirian. Ah pantai, taukah kamu bayang emasmu yang menjauh membuatku merindukan seseorang di ujung sana. Melambungkan angan dan lamunanku menapaki kisah yang tlah lalu. Aku hanya wanita yang datang setiap harinya untuk melamunkan luka.

Jika sesaat lalu aku merasa tidak lagi sendirian, saat ini aku benar – benar tidak sendirian. Bahu yang ku kenali milik si penyedih ini duduk di sampingku. Helaan nafasnya menyadarkanku akan hadirnya. Ia memandang jauh ke sebrang lautan. Aku menatapnya dan mencoba untuk tersenyum. ia tidak membalas senyum, namun matanya menyiratkan keramahan padaku.

Ku hela nafas hingga terhembus jauh ke seberang lautan. Kami disana duduk bersama tanpa bicara. Siapa namanya, mengapa dia selalu ada disini? aku belum berani memulai bertanya. Ia lelaki yang pendiam, tak satupun kata yang diucapnya. namun dari bahasa tubuhnya aku seakan mendengar bahunya berbicara, bahwa ia nyaman berada disana, dekat bersamaku.

Dan aku suka….

Sore itu kami duduk dalam diam namun jarak yang sebelumnya nampak kini mulai menghilang. tersapu gelap malam yang kembali menerkam laut keemasan kecintaanku. Lambang kehilanganku dan kesedihan yang tak berkesudahan. Sore itu, langit emas itu tak nampak. Alam menunjukan wajahnya yang lain.

Dan aku tidak sendirian, bersama si lelaki penyedih ini. Menantikan datangnya gelap malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s