Kita Semua Pernah Ber-Monolog

Pernahkah kalian mengalami sesuatu yang hanya kalian sendiri yang membayangkannya, memikirkannya bahkan membahasnya? Hal seperti ini biasanya muncul ketika kita menghadapi suatu hal yang tidak leluasa kita bagi dengan orang lain. Jangankan untuk merasa lega, belum bercerita pun kita lebih yakin bahwa mungkin hanya diri kita sendirilah yang akan jadi orang yang paling mengerti. Disanalah kita mulai bermonolog, berbicara pada diri kita sendiri. Bersahutan saling menyimak namun sesungguhnya keduanya ada dalam satu raga dan jiwa yang sama. Si pendengar dan si pembicara.

Saya sering bermonolog, umumnya untuk sesuatu yang tidak mampu saya bicarakan dengan baik. saya pun sering bermonolog, ketika saya merasa bangga akan diri sendiri namun tidak ingin tampak menyombong dengan mengutarakannya di hadapan orang lain, diri sendiri akan ucap kata2 pujian dalam hati .

Saya pun kembali bermonolog ketika saya merasa ciut hatinya, kerdil dan picik saat sekali waktu. Mendadak rendah diri namun tak ingin membaginya dengan vulgar dan totally tampak lemah karena menampakannya. maka diri saya sendiri ada disana mengucap segala kata2 penyemangat hingga diri ini mampu berdiri tegak.

Saya paling sering bermonolog ketika saya merasa kecewa, marah, terluka bahkan bersedih. Dengan dalih tidak ingin tampak lemah lagi2 saya mencari penghiburan dari dalam diri sendiri agar saya sedikit merasakan ketenangan.

Monolog adalah aktivitas yang menyenangkan. Tidak satupun orang yang membuat kita bergantung kepadanya untuk berada disana untuk mendengar kita yang menjemukan selalu mengeluh, untuk bertahan menyemangati kita ketika kita tampak semakin membosankan tiada habis meratap. Siapa teman terbaik selain diri kita sendiri.

Selalu ada disana, selalu ada menemani, menghibur segala duka lara dan berbagi pemikiran. Ya diri kita sendiri.

Malam ini pun saya kembali bermonolog walau begitu banyak hal yang saya tidak mampu menjawabnya. Menerka hanya membuat angan ini semakin liar dan tersesat. Mengingat – ingat membuat semua kenangan baik dan buruk berebut mendominasi pikiran.

Malam ini saya tersenyum kembali membaca banyak hal, mengingat setiap yang pernah terjadi di waktu kebelakang. Ada kalanya saya mengernyitkan dahi, ada banyak senyum ketika banyak hal kembali saya ingat. Sendirian seperti ini, hanya membaginya dengan diri saya sendiri, monolog membuat saya seperti menemani diri sendiri. menghadapi sesuatu yang mungkin orang lain tidak ketahui, memahami sesuatu yang mungkin orang lain tidak akan memahami. Sesuatu itu hanya akan ada di di dalam diri saya sendiri.

Malam ini saya pun bernyanyi, untuk diri saya sendiri. Sungguh monolog yang penuh warna. Bernyanyi kecil dan lembut begitu menenangkan hati.

saya agak bingung mau menulis apa sebenernya disini. Sama hal nya dengan yang terjadi di kepala saya semua kalimat terlontar dengan randomnya. Hanya sebuah lagu yang terdengar dalam ingatan yang terunut dengan baik. Lagu yang membuat saya merindukan kedua penyanyinya.

Lihat ke langit luas
Dan semua musim terus berganti
Tetap bermain awan
Merangkai mimpi dengan khayalku
Selalu bermimpi dengan hariku

Pernah kau lihat bintang
Bersinar putih penuh harapan
Tangan halusnya terbuka
Coba temani dekati aku
Selalu terangi gelap malamku

Dan rasakan semua bintang
Memanggil tawamu terbang ke atas
Tinggalkan semua
Hanya kita dan bintang

Yang terindah meski terlupa
Dan selalu terangi dunia
Mereka-reka hanya aku dan bintang

untuk semua perasaan baik yang pernah ada, demi ariel yang sedang di penjara dan ariel lain yang pernah menyanyikannya. Lagu ini akan selalu menyenangkan untuk di dengar, dinyanyikan sekarang atau sesekali di suatu hari nanti sebagai bahan pengingat sesuatu yang pernah diri kita alami.


4 thoughts on “Kita Semua Pernah Ber-Monolog

  1. Ngomong sorangan lain?
    Mun eta mah gue sering.
    Kan lu tau sendiri, di motor aja gue suka ngobrol sendiri.
    Atau mun lagi apa pun aja, suka geugeurenyeman sendiri.
    Eta monolog lain?

  2. Eh ceting yu ah jumat malem.
    Gw kangen ngobrol nepi malem di ym.
    Beberapa malem ini mah dungdeng, tidak berdaya buat ngenet.
    Apabila magrib tiba, badan langsung ngoleang ciga kurang darah.
    Lieur teh..
    (tah ieu curcol)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s