Lelaki Pantai Emas – 4

pantai emas

Ada sesuatu yang mengganggu hidungku, beberapa helai poni rambut terjuntai terusik angin. Punggungku terasa hangat, kubuka mataku dan meraba sesuatu yang menempel di atasnya. Sebuah jaket entah milik siapa melindungiku yang tertidur pantai.

Ku gerakan kakiku yang ku tekuk terlalu lama. Gelap dan sunyi, bahkan rembulan pun bersembunyi digelapnya awan. Aku benar-benar sendirian.

Aku memandangi alam mencari laut yang kini hilang dari pandangan. Malam telah menelannya. Kupastikan diriku terjaga, keheningan ini sungguh ingin ku tinggalkan. Kupakai jaket tadi, tanganku hangat di dalam sakunya. Ada kertas yang teraba di dalamnya. aku menghela nafas sebelum benar – benar pergi. Menghela nafas di sisi laut sungguh melegakan.

Jaket ini menentramkanku,sungguh hangat dan aku suka. aku jadi teringat lelaki si pemilik punggung sedih itu. Pasti ia yang meletakan benda hangat ini di atas bahuku. Kepada siapa lagi aku menuduh,seingatku pantai ini hanya milik kami berdua. Duet si penyedih yang mengemis kepada laut untuk meluruhkan luka. Aku termenung menggenggam kertas yang tadi tersentuh tanganku di saku jaket. Sketsa wajahku tertoreh disana. Memeluk lutut dengan rambut terurai, menunduk. Diatas kertas itu tergores dalam ukiran huruf – huruf indah,  “jangan bersedih”.

oh, kamu juga…..

siapa lelaki penyedih itu, entah mengapa aku mendadak merindukannya. Jaket ini hangat, seperti sebuah pelukan tanpa bayangan pemiliknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s