Salam Tempel Lebaran

salam tempel

Selain ketupat, lebaran kerap identik dengan adanya salam tempel. Tidak begitu jelas apa asal muasal mengapa disebut salam tempel. Namun jika saya boleh mengarang mengartikannya mungkin itu gabungan antara kegiatan salam, yaitu bersalaman saling memaafkan dan lalu ada yang ditempelkan disela – sela salaman tadi yang biasanya berupa uang lebaran. Hm, mungkin seperti itulah hingga akhirnya sebutan salam tempel cukup familiar di telinga kita.

Saya masih ingat saat saya kecil dulu. Saat lebaran selain punya uang hasil membuka isi celengan yang saya kumpulkan selama 1 tahun saya pun mendapat salam tempel. Tidak banyak yang memberi, namun semuanya sungguh berarti, hehe maksudnya membuat hati saya senang. Ua, mamang, nenek bahkan ada seorang bu haji tua yang selalu memberikan uang kecil ke saya dan teman2 kecil saya.

Saya gak mengerti apa makna memberikan salam tempel kala itu, yang saya tahu sebagai anak saya senang menerimanya dan itu membuat lebaran selalu tampak semakin menyenangkan.

Sekarang ini saya yang sudah dewasa juga melakukan hal yang sama terhadap sepupu – sepupu saya. Sebagai pemberinya saya tidak bermaksud membiasakan sepupu – sepupu saya dengan hal – hal berbau material di hari raya ini. Saya selalu melihat sesuatu dari niat. Niat hati saya adalah membagi kebahagiaan. Itu pun kalo saya memang lagi ada rezeki, kalo tidak ya tidak wajib. Perkara salam tempel akan menjadi keliru jika kita menjadikan acara memberi itu suatu kewajiban yang membebankan atau tidak bisa tidak.

Belakangan saya mengetahui kebiasaan seperti ini tidak selalu dilakukan oleh orang lain. Teman – teman saya dulu ada yang sama seperti saya yaitu mendapatkan salam tempel ada pula yang tidak. Saat tidak dibiasakan untuk mendapat salam tempel pastinya bukan karena tidak ada atau kekurangan, yah namanya juga kebiasaan atau budaya kan pastinya berbeda antara satu keluarga dan yang lainnya.

Teman saya ada yang setuju dengan kebiasaan ini ada yang tidak. Namun saya sepertinya masuk ke dalam barisan yang setuju dan tentu saja saya menganut syarat2 tadi yaitu tidak membebani, memaksakan dan tidak berlebihan.

Ramadhan sesaat lagi akan berakhir, seperti tahun – tahun sebelumnya saya pun sudah menyiapkan sedikit amplop untuk salam tempel nanti. Tidak banyak karena saya tidak banyak memberi orang lain, cukup sepupu2 dan saudara2 saya sendiri yang masih pada kecil dan ABG.

Saya dan kedua kakak saya kan belum memiliki keponakan, jadinya para sepupu saya itulah yang menikmati salam tempel dari kami. Sudah mesem – mesem aja itu sepupu2 saya. Kadang saya iri dengan mereka, karena pada akhirnya ketika lebaran uang mereka jadi lebih banyak dari uang saya🙂 yah begitulah kalo masa kanak – kanak saya berakhir, dulu pun saya merasakannya, sekarang cukup senang dengan memberikan sedikit dan tak seberapa.

Gambar pinjam dari sini

2 thoughts on “Salam Tempel Lebaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s