Pertemuan kedua

gitar

Malam tadi sekitar pukul 8 malam dalam perjalanan pulang ke rumah dengan menggunakan bis umum saya bertemu dengan seorang anak untuk yang kedua kalinya. Saya masih ingat wajahnya, walau ternyata anak itu kini jauh lebih tinggi walau dengan perawakan yang tidak jauh berbeda.

Anak itu adalah pengamen cilik yang saya temui di dalam bis. Anak yang sama yang menjadi topik bahasan di blog saya sekitar 2 tahun lalu. Lihat < Anak Di Kegelapan >

Anak kecil yang pernah saya temui di sebuah zebra cross di malam hujan yang dingin 2 tahun lalu. Saya ingat wajahnya, keduanya masih orang yang sama. Anak kecil yang tangannya saya genggam karena mengantuk malam – malam dijalanan mau kembali pulang menunggu bis berlawanan arah dari arah ia datang tadi. Ia anak kecil, seorang pengamen, solo karir tidak bergerombol. Wajahnya kalem dengan mata ngantuknya.

Berbeda dengan kejadian 2 tahun lalu ketika saya bertemu saat ia turun dari suatu bis, malam ini saya berada di dalam bis yang ia tumpangi. Saya langsung mengingatnya. Dari membawa ukulele 2 tahun lalu malam ini ia membawa sebuah gitar besar. Menggunakan celana jeans dan sendal capit ia lengkapi dingin malam tadi dengan sebuah sweater merah bergaris putih.

Saya gak berhenti menatapnya sambil mengingat – ingat. tak lama ia bersiap memainkan gitarnya. Tampak bergaya seperti seorang anak yang baru belajar pegang gitar. Tinggi gitar pun hampir sama dengan tingginya. Mulailah mengalun beberapa nada gitar yang membuat saya melongo.

Ia bernyanyi, anak itu memetik gitarnya dengan syahdu. Sebuah lagu yang saya suka sekali dengan penuh perasaan…

I don’t know why,

you said goodbye

Just let me know you didn’t go forever my love

Please tell me why, you make me cry

I beg you please on my knees if that’s what you want me to

never knew that it would go so far

When you left me on that boulevard

Come again you would release my pain

And we could be lover again

ouh, saya meratapi wajahnya sambil menikmati lagu yang ia nyanyikan. wajah mengantuk itu masih sama. Hanya sebuah lagu namun manis sekali. Ternyata ia turun dari bis di tempat yang sama dengan saya. Percaya atau tidak saya dan dia berdiri di atas zebra cross yang sama, di hujan yang sama di gelap malam yang sama. Saya masih menggenggam tangannya tadi saat sambil menyebrang. Saya tanya sudah kelas berapa sekarang? dia menjawab kelas 5 SD. Sekecil itu, benar2 anak yang hobi berada di luar rumah di malam hujan yang dingin.

Saya menunjuk bis yang mungkin ia ingin tumpangi, wajahnya mengantuk. Saat saya melepaskan genggaman di ujung jalan, ia mengatakan tidak akan langsung naik bis. Katanya ia lapar ingin membeli makan dulu.

well, saat ini kelas 5 SD berarti 2 tahun lalu saat pertama bertemu ia kelas 3 SD. Kecil, pengantuk namun ia anak yang kuat bergelantungan di dalam bis malam2. Bernyanyi dengan baik diantara orang2 dewasa yang asing. Semoga ia memiliki ibu dan memeluknya saat tiba di rumah.

Ini pertemuan kami yang kedua, di situasi yang hampir sama. Bagai sebuah dejavu pada malam yang tampak serupa. Seorang anak kecil, pengamen jalanan yang tumbuh dalam kerasnya hidup dan gelapnya malam. Namun semua itu bahkan tak mampu merusak suaranya yang lembut.

selembar uangku untuk lagumu, seuntai doaku untuk hidupmu. amin

3 thoughts on “Pertemuan kedua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s