33 Anak diperkosa karena video Ariel, betulkah?

tiga puluh tiga

Kabar dan berita mengenai perkosaan memang selalu memubat kita prihatin. Korban kejahatan perkosaan bisa siapa saja, dimulai dari wanita muda, ibu – ibu menikah, bahkan wanita tua sekalipun, dan yang lebih gila lagi adalah ketika bocah ingusan yang menjadi korbannya. Pelaku perkosaan juga bisa siapa saja. Bisa lelaki jahat diluaran sana, pelaku yang dekat dengan lingkungan kita bahkan bukan tidak mungkin pelaku berasal dari keluarga sendiri atau orang2 yang kita percayai.

Perkosaan bukan kejahatan yang ringan, hal ini bisa kita fahami ketika membayangkan beban fisik dan psikis yang teramat berat yang mungkin akan ditanggung oleh korban. Bisa merupakan sebuah trauma berat, rasa rendah diri, rasa malu yang sangat dalam bahkan bisa pula mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan hingga anak hasil perkosaan itu lahir. Sebegitu besar dampak dari perkosaan maka tentu saja pelaku perlu dikenai hukuman yang setimpal karena kejahatannya.

Saya jadi kembali teringat kisah teman saya di SD dulu. Teman SD saya diperkosa dan dibunuh. Mayatnya diketemukan di sebuah atap rumah kosong keesokan harinya. Saya sendiri masih di kelas 3 SD dan korban duduk di kelas 4 SD, di sekolah yang sama. Berita kejadian itu saya ketahui dari koran dan pembicaraan di sekolah.

Pelaku perkosaan bisa mendapat dorongan dari mana saja. Bukan hanya akibat pertukaran informasi perilaku buruk yang amat mudah aksesnya seperti saat ini. Terbukti dari zaman dulu perkosaan sudah terjadi, kala saat tontonan tidak seberagam dan se-semarak saat ini.

Menurut saya faktor terbesar pemicu tindakan perkosaan adalah dorongan dari dalam diri pelaku sendiri. Faktornya bisa apa saja, misalnya karena kebutuhan sex yang tinggi tidak terpenuhi secara normal, bisa memang akibat ketidakmampuan pelaku menyaring pengaruh buruk dari lingkungan, tontonan yang tidak wajar, dsb.

Ketika pelaku pemerkosaan adalah anak – anak remaja atau di bawah umur, menurut saya sih mungkin terjadi akibat kurangnya pendampingan orang dewasa ketika para remaja itu berada dalam fase rasa ingin tahu yang besar terhadap aktifitas sex. Pendidikan dan pengetahuan mengenai sex dan nilai – nilai yang terkait erat dalam hal tersebut tidak mereka terima dengan cukup.

Lepas dari segala faktor di atas, menurut saya tetap garis besarnya adalah ketidakmampuan si pelaku perkosaan dalam mengendalikan diri dan hawa nafsunya sehingga berpontensi dan akhirnya benar – benar merugikan pihak lain.

Beberapa hari lalu saya membaca sebuah headline berita bahwa 33 anak diperkosa akibat pengaruh hadirnya video mesum artis yang memang belakangan amat marak beredar di masayarakat.

Sungguh amat disayangkan ketika pada akhirnya perilaku kurang baik dari beberapa artis dicontoh oleh masyarakat dan secara tidak langsung memicu terjadinya kejahatan yang dilakukan oleh pihak lain. Ini terjadi mengingat bahwa perilaku para pesohor mendapat perhatian dari masyarakat. Seorang idola menjadi model perilaku yang mungkin akan dicontoh oleh para penggemarnya. Resiko para pesohor jika pada akhirnya mereka mendapat tuntutan untuk menjaga perilakunya dalam upaya membantu membentuk perilaku masyarakan yang memperhatikannya.

Namun mengatakan secara langsung bahwa peristiwa perkosaan yang terjadi pasca merebaknya video mesum artis dikarenakan pengaruh video tersebut perlu ditelaah lebih lanjut, karena ini adalah tuduhan yang amat serius.

Seperti yang sebelumnya saya utarakan, banyak dan cukup beragam pemicu seseorang melakukan perkosaan. Andaikan memang benar ada andil video ini memicu pelaku tetap tidak bisa kita mengenaralisir hal ini sebagai pemicu utama. Kita beranalogi, ketika 100 laki2 menonton video tersebut mengapa 33 diantaranya memperkosa dan sisanya tidak. Tentunya ada faktor lain yang pada akhirnya perlu kita perhitungkan.

Buat saya pelaku perkosaan itu sudah salah, kejahatan perkosaan itu sepenuhnya berada di pundaknya yang harus ia pertanggungjawabkan sendiri. Menengarai bahwa ada faktor pemicu dari video yang beredar, saya menilai tidak secara langsung menjadi kesalahan si pelaku video. Memang, pelaku video salah karena tidak memberikan contoh perilaku yang baik.

Masalahnya adalah dimana posisi para penyampai kabar mengenai video tersebut ketika kita perlu menyalahkan video tersebut?

dari mana pelaku perkosaan mendapat akses untuk menyaksikan video tersebut,dari mana si pelaku bisa mengetahui kabar berita bahwa ada video artis yang sedang marak?

Siapa yang secara langsung menunjukan dan berbagi video tersebut kepada pelaku yang akhirnya memicu ia tergiur dan akhirnya melampiaskan nafsunya dengan memperkosa?

Tentu saya yakin bukan si artis yang berniat membagi rekaman tersebut ke masyarakat luas. Penyebar pertama video tersebut bertanggung jawab paling besar untuk kondisi ini. Media yang tiada henti berbagi informasi mengenai hal ini dan akhirnya mengusik masyarakat untuk tau lebih lanjut, lebih detail. Kita juga masyarakat  secara tidak langsung membesarkan masalah ini.

Video itu memicu 33 perkosaan, maka hukumlah seberat – beratnya si artis pelaku video. wow, saya merasa si artis bukan satu2nya orang yang memilik tanggung jawab dalam menjaga moral orang2 sekitar kita. Tapi kita semua saling bertanggung jawab.

Satu2nya kesalahan si artis pelaku video adalah melakukan tindakan amoral yang tidak sesuai dengan nilai2 agama dan kesantunan budaya kita. Mereka melakukan kesalahan yang tentu saja Tuhan mereka benci. Mereka bersalah kepada keluarganya karena tidak dapat menjaga nama baik keluarga. Dan terakhir mereka bersalah karena tidak hati – hati dalam melakukan tindakan amoralnya sehingga tanpa mereka sadari telah menyebar luas di mayarakat, itu saja.

Perkara dosa itu adalah urusan mereka dengan Penciptanya, kita hanya perlu menanamkan kepada sekeliling terdekat kita bahwa perilaku seperti mereka tidak wajar, tidak sesuai untuk di contoh. Menjaga dan mendampingi para remaja untuk dapat memfilter berita video yang di blow up habis juga perlu kita lakukan.

Hal lainnya bisa kita berikan sanksi moral kepada para pelaku. Sehingga dalam rasa malunya mereka bisa memperbaiki diri. Namun bukan dengan menghakimi dengan tiada habisnya. Berilah sanksi sesuai perbuatannya. Kita gak pernah tau siapa tau dimasa depan mereka yang memperbaiki diri dan mendapatkan ampunan Tuhan atas kesalahannya. Justru malah yang sekarang kejam bereaksi malah melakukan kesalahan dimasa depan dan menghadap Sang Khalik dalam kondisi belum bertobat.

Jadi bereaksilah dengan wajar, dimana kita tetap tidak perlu hingga permisif tentang kasus ini. Semoga yang berperilaku salah bisa menyadari kesalahannya dan diberikan kesempatan memperbaiki diri dan Allah memberikan maaf kepada mereka. Siapapun berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s