Penipu di Sekeliling Kita

telepon penipuan

Beberapa hari lalu ada orang tua murid saya yang bercerita bahwa 2 minggu sebelumnya beliau hampir saja mengalami penipuan.

Dari yang beliau kisahkan kepada saya, modusnya sih relatif sama dengan modus – modus penipuan umum yang mungkin saja pernah kita dengar kisahnya menimpa orang lain.

Banyak jalan menipu seseorang. Modus penipuan mendapatkan undian yang mengharuskan kita mentransfer uang salah satunya. Namun yang terjadi pada keluarga murid saya itu penipuan versi telepon dari suatu pihak yang mengabarkan bahwa salah satu anggota keluarga kita mengalami kecelakaan atau sakit dalam kondisi kritis dan membutuhkan penanganan yang memerlukan dana yang cukup besar saat itu juga.

Ibu itu sedang berada di suatu apotek. Apotek langganan yang sebenarnya tidak terlau jauh dari kompleks tempat beliau tinggal. Kebetulan sore harinya beliau harus pergi ke Jakarta untuk mendapat pembekalan sebelum esok pergi umroh ke Tanah Suci bersama seorang pembantu rumahnya dan ibu mertua.

Berderinglah telepon genggamnya, seorang lelaki yang mengaku sebagai guru sekolah anaknya yang di SMA mengabarkan bahwa anak bungsunya itu mengalami kecelakaan motor di dekat pom bensin saat dibonceng temannya ke tempat fotokopi. Sang ibu sontak kaget,beliau lemas seketika dan sedikit histeris mendengar kabar yang buruk seperti itu.

Seorang yang mengaku gurunya meminta sang Ibu menelepon ke rumah sakit (dokter) yang menangani anak lelakinya yang mengalami pendarahan di otak. Ketika menelepon dokternya, sang dokter mengatakan bahwa sangat diperlukan alat/obat dalam waktu setengah jam ini. Jika tidak maka si anak akan “lewat”. tentu saja ibu itu makin kalut. Beliau memohon dokter tersebut untuk mendahulukan menyelamatkan anaknya . Namun dokter itu bersikeras ia membutuhkan alat yang amat penting yang harus dibelinya di kimia farma. Lalu dokter itu memberikan no telepon petugas di kimia farma.

Si Ibu kehabisan pulsa telepon dan meminta apotek untuk menelepon ke Kimia farma. Petugas kimia farma itu mengatakan alat yang dibutuhkan oleh dokter untuk menyelamatkan si anak seharga 24 juta rupiah. si ibu diminta untuk mentransfer saat itu juga. Bahkan saat menawarkan diri untuk pergi ke rumah sakit pun tetap didesak untuk membayar via ATM dengan alasan waktu sudah tidak akan cukup. Dan Apotek sudah akan tutup.

Beruntunglah saat itu si ibu tidak sendirian. Di sekelilingnya ada orang – orang apotek dan pembeli lain yang turut mendengarkan. Mereka pun mengingatkan bahwa bisa saja ini adalah penelepon penipuan. Apalagi ada perintah transfer dana saat itu juga. Lalu ada yang menyarankan untuk menelepon si anak yang saat itu seharusnya memang berada di sekolah. Sebuah ide yang pastinya akan keluar dari seseorang yang berfikir tenang. Si Ibu yang tidak terpikir menelepon anaknya (karena ia sudah membayangkan si anak sudah terkapar, untuk apa di telepon? ) mencoba menelpon.

Tau siapa yang jawab? ya anaknya yang sehat wal afiat. Sedang berada di sekolah, di jam istirahat dan sedang tidur2-an. Legalah sang ibu walau lemas dan kalutnya tidak langsung begitu saja surut. Si ibu pun tidak jadi tertipu uangnya puluhan juta.

Setelah kejadian, jika kita fikir ulang akan banyak kejanggalan2. tentu saja kejanggalan2 ini tidak akan kita sadari, karena kelemahan diri kita sudah terbidik. kalut memungkinkan kita untuk tidak berfikir jernih dan rasional. Tindakan selanjutnya mungkin saja lebih didasari emosi dan kepanikan.

1) masa iya apotik tutup siang hari

2)memang dokter yang sedang menangani pasien akan menerima telp langsung keluarga korban ya? memang di RS gk ada pegawai administratif?

3)Petugas apotek kimia farma terlebih dahulu menyebutkan harga alat baru bertanya jenis alat yang dibutuhkan (terbalik ya)

4) dipikir kembali suara dokter dan petugas apotek hampir mirip

5) Guru yang menelepon sempat menanyakan no HP anak yang celaka dan bertanya oprator apa (hello…kalo emang celaka pastilah HP ada di anak itu atau di TKP. kenapa tanya? mau di blok ya biar gk bisa dihubungi…? )

6) sebelum terjadi kejadian itu, ada penelepon lain yang menghubungi rumah dan diterima oleh anak wanitanya. mengajukan beberapa pertanyaan kros cek data2 keluarga dan dilayani dengan baik karena di kira dari pihak kelurahan/kecamatan berkaitan kartu keluarga.

7) ketika disampaikan tabungan si ibu di bank mandiri tidak mencapai sejumlah uang yang diminta dan menawarkan tabungan yang di bank bukopin. Pihak penipu bukannya memberikan alternatif pembayaran malah meminta si ibu mengirim uang berapapun yang ada di tabungan bank mandiri. (helooooo..?)

Fiuh, untung saja penipuan kali ini gagal. Dan ini bisa terjadi pada siapa aja. Dan korbannya bisa siapa saja, baik kalangan biasa maupun dari kalangan terdidik. Kebetulan si ibu ini adalah lulusan teknik sipil ITB yang baru saja pensiun dari kantornya.

Pertanyaan saya, darimana di penipu itu mendapatkan data keluarga detail mulai dari HP ibunya, No Telp Rumah, hingga kondisi sekolah anak? Dari mana ia mencuri data tersebut? saya jadi bertanya,sejauh mana keamanan penyimpanan data diri kita di negara ini? saya jadi mengingat2, apakah saya pun mengumbar terlalu banyak informasi tentang diri saya sendiri di wilayah umum?

Bagaimana kabar berkas2 kita yang sudah tidak terpakai di instansi2 tertentu? jika mengenai data seharusnya oleh instansi tersebut dihancurkan di mesin penghancur kertas. Namun saya curiga jika mereka bebenah kantornya tumpukan2 kertas itu akan dijual dikilo tuh.

Sepertinya kita perlu lebih hati2 lagi. kejadian ini kembali mengingatkan kita untuk lebih waspada. Setidaknya berpikirlah tenang dan meminta pendapat orang lain. Sehingga minimal ketika kita kalut ada pihak lain yang akan membantu kita untuk berfikir jernih. Dan jangan lupa kros cek kepada yang bersangkutan. Jika telepon anggota keluarga kita mati, coba hubungi orang lain yang kira2 sedang berada di dekatnya.

Semoga kita semua terlindung dari berbagai macam modus penipuan ini. amin

10 thoughts on “Penipu di Sekeliling Kita

  1. ada yang lebih unik lagi

    “cuma pengen berbagi pengalaman supaya tidak tertipu. kemarin, ada orang ngaku dari kelurahan mau minta sumbangan 20 ribu,saya tanya “kantor kelurahan rumah saya di mana,pak?” dijawab “halah,sampeyan orang sini gak tau kantor kelurahane dewe”, saya tanya lagi “dimana,pak?” dijawab “dibelakang rumahe sampeyan kene lho”, tak jawab “wong kelurahane di pasar kok”, eh orangnya kabur. hahahaha.”

    dikutip dari
    http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3941513

  2. iya itu modus lama mba Dina….
    Jaman sekarang info mudah didapat dari internet…
    Coba liat blog2 orang… banyak banget yang nyantumin data diri dan keluarganya lengkap. Klo dah tau satu gampang ditelusuri…
    So, untuk yg sering internetan mendingan ga usah nyantumin data yang terlalu lengkap… setidaknya u meminimalisir kemungkinan tadi. Untuk data yg ada di pihak luar itu diluar kekuasaan kita.
    Klo kasus diatas bisa ditebak… Org itu bisa aja milih no rumah secara acak trs cari info dgn cara nelpon org rmh td + sebagian cari di internet. Atau org itu masuk ke situs sekolah, liat daftar murid, cari alamatnya, trs nanya no rumah dari 108 atau cari di yellow pages. Udah gitu hubungi org rumah dgn berpura-pura sbgai petugas u cari info lainnya. Gampang kan mba Dina… ga perlu org profesional, org amatiran jg bisa. So, be carefull for our personal data🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s