Sepeda – Hadiah Seorang Ayah

sepeda

Siang tadi saya duduk di sebuah angkutan umum menuju ke suatu tempat. Tempat duduk favorit saya adalah duduk di pojok dan me-rileks-kan kaki saya terutama jika angkutan itu kosong. Lain halnya jika penuh, saya lebih suka duduk di dekat pintu.

Dari depan sebuah pasar tradisional tidak jauh letaknya dengan tugu kujang, naiklah sebuah keluarga ke dalam angkutan yang penumpangnya hanya saya itu. Sebuah keluarga kecil,seorang anak laki – laki berusia sekitar 4 tahun,  sang ibu wanita berkerudung yang sederhana memegang seplastik es alpuket dan sang ayah yang mengangkat sebuah sepedayang nampaknya masih baru.

Saya baca suasana hati si anak yang riang dan ceria. Kemungkinan dikarenakan sepeda yang sedang di pegang sang ayah adalah miliknya. Si ibu yang saya perkirakan hatinya sedang puas dan merasa senang karena sudah membelikan anak kesayangannya sebuah sepeda. Sang ayah tampak sedikit lebih kalem, tenang dan seperti sedang memikirikan sesuatu. Orang2 macam ini agak butuh konsentrasi tinggi untuk dapat membaca isi hatinya.

Saya selalu merasa iri sekaligus senang jika melihat anak dibelikan sepeda. Mengapa? seperti yang pernah saya posting di blog ini, saya belum pernah punya sepeda satu pun seumur hidup saya. Begitu pula dua kakak saya. Entah alasannya apa, kala itu saya tidak terlalu mengetahui kondisi keuangan orang tua saya. Yang saya tahu alasan terbesar adalah takut main sepeda ke jalan mengingat rumah nenek saya ada di sisi jalan raya besar dan kami memang sering menyaksikan kecelakaan baik antar kendaraan maupun anak menyebrang jalan atau mengejar layangan tertabrak.

Tapi sudahlah, tidak perlu dibahas lagi mengenai saya yang tidak pernah dibelikan sepeda. Orang tua saya mungkin akan merasa tidak enak mengingatnya. Untung saja banyak teman saya yang memiliki sepeda, sehingga banyak yang bisa saya pinjam sepedanya🙂

Kembali ke keluarga kecil itu. Saya mencuri dengar percakapan sang ibu kepada anaknya yang duduk di pangku.

Ibu : “tos gaduh sapedah, sing bageur nyia”

Anak : diam

Ibu :”heuh..kumaha,bageur moal? kudu rajin ngaos nya. Tos sholat magrib terus ngaos”

Anak : agak merengek

Ibu : “eh, kumaha ieu teh,moal tulus wae? hayu pak urang wangsulkeun weh deui”

Anak : memegang tangan ibunya, dan akhirnya mengangguk

hm, walau saya yakin si ibu memang ihlas membelikan anaknya sepeda namun orang tua kan seringnya begitu. Memberikan syarat2 lain agar sang anak menurut. Sang ayah hanya diam, saya membaca lelaki yang sederhana dan tampak lelah dan banyak pikiran itu memang lelaki yang pendiam. Tangannya tak lepas memegangi jok sepeda selama di dalam angkutan agar sepeda itu tetap berdiri tegak. Matanya menerawang ke sepanjang jalan yang dilalui.

batin saya merasakan, uang yang digunakan untuk membeli sepeda berwarna merah itu adalah hasil jerih payahnya. Ia mungkin senang dapat menyenangkan hati anak dan istrinya, namun gurat2 lelah dari wajahnya agak menyamarkan ekpresi seharusnya.

Memang seperti itulah orang tua. Mereka bekerja keras membanting tulang memikirkan keluarga. Ingin membahagiakan anak dan istri. Apalah arti peluh, semua rasanya mungkin sirna dengan senyum ceria dari anak yang matanya masih putih polos dan berbulu mata panjang.

Sambil turun dari angkutan umum itu, saya berdoa semoga sang ayah senantiasa diberikan kemudahan dalam pekerjaannya dan dimudahkan rizkinya. amin.

Saya gk punya sepeda? tidak apa2. suatu hari saya akan membelinya sendiri dan mengajak suami saya yang masih entah siapa untuk bersepeda dipagi hari. Saya pun akan menabung untuk membelikan anak2 saya sepeda nanti🙂

4 thoughts on “Sepeda – Hadiah Seorang Ayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s