Jika Aku telah tiada – remember me

lampu jalanan

malam sudah mendekati pukul 9 malam, tapi jalanan malah tampak ramai. Lalu lalang orang – orang menyebrang jalan, pengendara – pengendara yang melaju penuh ketidaksabaran. Semuanya berwajah lelah. Para pekerja dengan tulisan rindu rumah dan tidur di keningnya. Lelah.

Suara – suara peluit sialan itu bersahutan dengan klakson – klakson yang ditekan pengemudinya yang cerewet. Suara para calo bersahutan, silih berganti dengan peluit yang mereka tiup sendiri.

Aku duduk sendiri di angkutan umum berbemper rendah dengan lampu yang temaram. Mencari kenyamanan dalam angkutan yang tak kunjung berangkat. Sesekali mengintip facebook yang sudah seharian ini aku anggurkan, lalu beralih memperhatikan supir yang tampak temperamen di usianya yang masih muda. Aku mengeluarkan novel yang baru beberapa lembar saja aku baca. Cahayanya cukup di dalam sana, untuk membaca.

Angkutan pun melaju, ku tutup novel yang baru saja kubuka. Melayang ke film remember me yang tadi ku tonton. Mengapa pemeran utamanya mati begitu saja? Mati muda bisa terjadi pada siapa saja, apakah akan juga terjadi padaku?

Sepanjang perjalanan, tak henti lamunanku melayang. Lampu – lampu jalanan itu, mengembalikan banyak peristiwa dan masa lalu. Sesaat hadir pikiran sendiri, bagaimana jika nanti aku telah tiada?

Seperti apakah orang – orang akan mengingatku?. Cukup baikkah untuk diingat? Apa cara yang akan mereka buat untuk mengenang? pertanyaan – pertanyaan itu muncul begitu saja. Aku terperangkap dalam lamunan sepanjang jalan.

Lampu – lampu sepanjang jalan itu membawaku ke orang – orang yang pernah buat aku kesal. Saat itu pula aku memaafkan mereka. Aku teringat teman – temanku, akankah mereka membicarakan aku yang telah tiada hingga waktu yang lama, hingga waktu yang tiada batasnya, seakan aku selalu saja ada seperti saat aku hidup.

Aku teringat pada semua obsesiku, pada sesuatu, pada seseorang dan pada beberapa hal. Hatiku mendadak melepaskannya. Terlepas dengan mudah, seirama dengan nafas yang ku hempas dengan lega disaat yang sama. Aku lepaskan semua yang bukan milikku, aku lepaskan semua yang tidak selaras dengan takdirku, aku lepaskan semua yang mengganjal hidupku. aku memaafkan, dalam malam yang temaram.

Teringat semua gelak tawa, teringat semua senyuman, teringat semua celotehan. Apakah kebaikan yang nanti kutinggalkan cukup untuk membuat banyak orang tersenyum. Tersenyum mengenangku hingga mereka lupa, lupa aku pernah ada.

Aku teringat pada mimpiku, apa saja mimpi itu?, sudahkah tercapai?, apa yang sudah kuperbuat selama hidup untuk mengejarnya. Kumatikan koneksi internet dari hpku. Menunduk aku menutup tas yang tak lelah ku jinjing seharian. Mimpiku apa? hatiku ragu menjawabnya, aku sungguh tidak tau. Aku belum tau, aku tidak tau.

Ratusan orang berderet rapi, berjajar dari kiri ke kanan dan dari depan ke belakang. Semua orang – orang yang ku kenal. Banyak sekali, untuk orang semacam aku. Ada yang tersenyum, ada yang datar, dan ada pula yang muram. Semua berbaris seirama zaman dimana mereka hadir.

Akankah ku di ingat? cukup baikkah aku selama ini pada kalian? siapa saja yang masih merasa kesal padaku?. Aku mencari orang – orang dalam barisan yang bermuka masam. Adakah? bencikah padaku? masih marahkah? demdamkah kalian yang kutinggalkan? Disana, dalam barisan itu aku melihat orang – orang yang memunggungiku. Kalian kenapa? tidak suka kah? masih saja dalam pelarian pergi dariku. Siapapun kalian, aku tidak akan lupa mengucap terimakasih. terimakasih  pernah ada atau selalu ada.

Lampu – lampu jalan ini, jalanan malam ini, menjebakku dalam sebuah lamunan. Mendadak merasa hidup bisa saja menjadi begitu singkat. Sesaat aku pasrah. Ingin berdamai, berdamai dengan diri sendiri, dengan kenyataan, dengan kebencian. Tidak, aku tidak pernah benar2 membenci orang. zero, orang yang ku benci itu gk ada.

Aku melanjutkan lamunanku, lamunan aneh itu menjeratku hingga malam beranjak merengkuh jalan. Angkutan umum itu terhenti tepat dihadapan beberapa ojek. Kata telingaku baru saja bibirku mengatakan kata kiri dan angkutan itu pun terhenti.

berakhir sudah lamunanku, beralih ke belakang boncengan ojek setiaku. menengadah ke langit yang gelap. Hidup bisa saja amat singkat, dan jika suatu hari saat hari itu datang, ingatlah aku. seseorang yang pernah ada dan hidup.

4 thoughts on “Jika Aku telah tiada – remember me

    • hahahaha bagus wik, walaupun saat nulisnya gk ke pikir kesana.

      tobat apa wik? tobat banyak makan apa tobat sering main di kakus?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s