Pada Suatu Hari by Alinafiah Lubis

Pada Suatu Hari

Melihat sampul buku ini membuat saya tertarik untuk membeli. Selain ada rasa penasaran mengenai suasana kota Bandung masa lampau, saya pun tertarik untuk melihat bagaimana penulis menggambarkan Bandung pada masa itu.

Buku ini mengisahkan persahabatan 3 pemuda yang tinggal di Kota Bandung dengan setting zaman Bandung di tahun 60-an. Ketiga pemuda tersebut adalah Lugud sang perantau dari tanah Medan, anak dari janda pensiunan polisi. Pemuda kedua adalah Sanusi, seorang pemuda dari keluarga yang bisa dikatakan kaya dengan adik seorang gadis bernama Naida. Pemuda ketiga bernama Wawan, pemuda yang ditinggal mati ayahnya ketika di SMA namun berhasil kuliah di kedokteran UNPAD dan dibiayai sang Ibu dengan berjualan goreng pisang.

Berlatar rumah kontrakan Lugud di Balubur Bandung, digambarkan bagaimana persahabatan ketiga pemuda ini sehari – hari. Perbedaan aktifitas ketiganya tidak lantas membuat ketiganya sulit menjalin persahabatan secara intim. Lugud yang hanya lulusan SMEA sedang mencari pekerjaan yang layak dalam perantauannya di Kota Bandung sekaligus menyimpan sedikit mimpi untuk dapat kuliah kembali suatu hari nanti, sesekali ia menulis dan mendapatkan honorarium dari tulisan yang ia kirim ke surat kabar.

Kedua sahabatnya yang lain gemar menyambangi rumah kontrakan Lugud bahkan ketika Lugud sendiri tidak berada di rumah. Bertiga mereka bersama saling berbagi hari – hari, bertukar pikiran maupun saling menyokong mimpi dan cita – cita masing – masing. Persahabatan itu pun menjalar hingga ke hubungan baik orang tua mereka. Ibu wawan maupun orang tua Sanusi sama – sama menganggap ketiganya bagai anak sendiri.

Tidak banyak konflik yang diangkat dalam buku ini sesungguhnya. Untuk saya yang lahir di era tahun 80-an, besar di tahun 90-an dan dewasa di masa kini bukan hal yang mudah untuk mengikuti kisah didalamnya. Ada beberapa kebiasaan dan gaya keseharian juga pola berkonflik yang perlu saya convert dahulu ke dalam kepala dalam pemahaman bahwa saya sedang membaca sesuatu yang terjadi dan berlaku jauh di masa lampau. Melompati banyak zaman dan era kehidupan. Bayangkan saja, pada tahun 1960 saja ayah saya masih berusia 5 tahun. Saya membayangkan sedang melompati zaman Desi Ratnasari bermain sinetron, Zaman Adi Bing Slamet jadi idola cilik, higga film – film yang dibuat oleh Benyamin S. Butuh imajinasi besar untuk mampu membuat pikiran saya ada di tahun tersebut.

Bandung dikisahkan sebagai kota yang belum ramai seperti saat ini, jalanan masih tampak lengang dan bahkan belum ada setopan (apa ya..lampu merah barangkali). Masyarakat yang memiliki kendaraan bisa dihitung oleh jari baik itu mobil, motor vespa maupun sepeda. Tetap dikisahkan bersuhu dingin dimana Bandung dikenal memiliki musim hujan yang lebih mendominasi , Bandung sudah dibandingkan dengan kota Jakarta yang kala itu sudah dikisahkan banyak nyamuk, panas dan sulit sekali air.

Ada perbedaan percakapan masa itu dan sekarang yang saya rasakan, saya menangkap betapa baiknya orang – orang masa lalu berkomunikasi satu sama lain. Berbicara sedikit namun pesan sampai dengan jernihnya, mendengar tidak banyak namun rasanya kemampuan memahami cukup tinggi. Saya fikir ini karena aktifitas berbincang masih dalam kualitas terbaik yang dilengkapi keterampilan bicara dan mendengar yang sederhana namun berfungsi dengan maksimal.

Mungkin saja ada pengaruh sedikitnya kontaminasi dari luar. Tidak seperti masa kini dimana terlalu banyak bicara dan terlalu banyak mendengar malah membuat banyak hal semakin kisruh dan sumir bahkan terkadang memicu kesalahfahaman. Pada masa itu, hiburan masih dikuasai oleh radio, walau pun bioskop sudah hadir pada masa itu tetap saja televisi bukan hiburan yang mudah di dapat. Ini digambarkan bagaimana ayah sanusi yang kaya itu berharap dapat menyaksikan siaran pertandingan persib lawan persikabo di televisi. Bukan saja tidak disiarkan, pemancarnya pun dikisahkan masih merupakan pemancar keliling (saya sedikit tidak mengerti maksudnya).

Satu yang saya rasakan janggal membaca buku ini. Mengapa jika saya sedang membaca buku dengan latar Kota Bandung justru saya tidak merasakan sedang berada di ranah sunda selama membacanya. Sedikit sekali bahkan rasanya tidak ada percakapan dalam bahasa lokal. Hal ini saya maklumi ketika di akhir saya mendapati penulis sendiri bukan merupakan orang Bandung, namun seseorang yang berasal dari keturunan Medan sana namun banyak bersepak terjang dalam karir menulis dan kewartawanan di Bandung sejak tahun 1964.

Cerita berlanjut bagaimana kehidupan ketiga pemuda tadi berubah dari waktu ke waktu. Menyelesaikan studi, mendapat pekerjaan, hingga dalam pertemuan dengan wanita sekalipun. Semuanya digambarkan sangat sederhana dan wajar. Seakan tiada yang berbeda dari semua fase itu, sama – sama sebuah fase hidup yang memang seharusnya terjadi. Tidak saya dapati konflik pelik yang dijual untuk membumbui cerita yang saya baca.

Pada masanya mendapat kesempatan sekolah sarjana pastilah tokoh – tokoh dalam buku ini orang – orang yang beruntung. Lugud seorang lulusan SMEA pun rasanya amat mudah mendapatkan pekerjaan yang bukan pekerjaan kuli. Sungguh sudut pandang versi enak pada masa zaman tersebut, yang saya yakini ada sudut cerita lain yang seharusnya diceritakan seperti kisah sulit dimasa itu.

Ketiganya berhasil mendapat pekerjaan yang terbaik, bahkan jodoh yang akhirnya didapatkan pun dikisahkan dengan amat sederhana sekali. Saya jadi sedikit kehilangan gaya jatuh cinta hingga cinta mati lalu patah hati hingga ingin bunuh diri. Sederhana sekali menggambarkan urusan hati. Konflik malah hanya saya dapati ketika Lugud yang akhirnya saya sadari bahwa dia lah sang pusat cerita. Anak rantau yang cerdas banyak ide dan berawawasan luas, dikagumi dan kerap memberikan solusi yang membangun ke sekelilingnya. Berhasil hidup baik, pekerjaan baik, kemapanan yang sempurna Lugud berkutat dengan kebingungan perasaan dipenghujung cerita. Kedekatannya dengan adik sanusi yang ia anggap adik, berharap bertemu wanita lain, hingga akhirnya kesadaran tentang perasaan yang sesungguhnya membuat cerita cinta tokoh ini menjadi satu2nya konflik yang baru diluncurkan di akhir cerita, rasanya alur cerita pun menanjak naik di penghujung cerita hingga menemukan klimaksnya lalu berakhir begitu saja. semua sederhana, sesuai dengan pada masanya.

Catatan saya :

sulit sekali menggerakan imajinasi saya ketika latar tempat silih berganti. Balubur, Cikaso, Baros, antapani, dan masih banyak lagi tempat yang disebut secara berpindah – pindah selama bercerita. Mungkin jika orang Bandung yang membacanya akan mampu menikmatinya sambil membayangkan lalu membandingkan perubahan dan perkembangan dari tempat – tempat tersebut dari masa itu hingga masa kini.

3 thoughts on “Pada Suatu Hari by Alinafiah Lubis

  1. inalilahiwainailahirojiun,,pengarang buku tersebut pada hari senin telah berpulang,,,semoga amal ibadahnya diterima disisi allah SWT.amien

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s