Numero Uno

hana bin uno

Seperti apa rasanya menjadi seseorang di urutan pertama? mungkin hanya para juara yang tau rasanya🙂

Seperti apa eforia dalam diri menjadi sang numero uno dalam suatu hal, mungkin para pemenang kontes atau lomba yang tau rasanya.

Dalam hidup, rasanya cukup jarang saya merasakan bagaimana rasanya menjadi nomor satu dalam suatu hal yang besar. Selain menjadi nomor satu di kelas ketika nilai kalkulus dan mikro ekonomi dibagikan, mungkin hanya ketika berada di bangku sekolah dasar saya merasakan bagaimana rasanya menjadi nomor satu. sisanya?? hmm….hi3..entahlah..hidupnya tidak banyak yang special.

Sore tadi saya berbincang kembali dengan seorang kawan sekolah dasar dulu. Bertemu kembali di facebook setelah belasan tahun tidak berjumpa dan mendengar kabarnya membuat saya punya kesempatan kembali untuk berinteraksi.

Ada yang lucu dengan kawan yang satu ini. Setiap terjadi perbincangan baik itu melalui chatting di YM ataupun via telepon serupa sore tadi, ia kerap mengungkit – ungkit ranking saya ketika di sekolah dasar dulu.

Heloooo…ranking 1 di SD rasanya tidak terlalu istimewa. jutaaaaan umat manusia banyak yang mengalami hal yang sama. Rasanya bukan miss universe yang terpilih hanya satu dari seisi wanita di dunia setiap tahunnya. Saya pun tidak mengenangnya secara berlebihan. Seusia ini, rasanya itu sangat biasa aja. Saya banyak melihat orang lain berprestasi jauh lebih hebat dari itu.

Baiklah, sebenarnya ada alasan untuk dia mengungkit perkara ini. Karena kawan yang satu ini memang saingan berat saya kala itu🙂 saya ingat di kelas satudan dua  ranking saya satu maka ia juara dua. ketika ia juara satu saya lah yang kedua. begitu hingga seterusnya, dan ranking ia melorot hingga kemana sedang sejak kelas 3 saya selalu ranking 1 hingga kelas 6 tak terkalahkan🙂

Kondisi kompetitif  saat itu ternyata bisa menjadi bahan guyon di masa kini. saya baru tau sejak saya menyadari betapa kawan yang ini sering mengungkit hal tersebut. Rupanya setelah saya tanyakan tadi sore ia menjawab memang trauma kekalahannya amat membekas (lebay ya kawan saya ini :p ).

Saya jadi bicara panjang lebar dengannya, betapa amat mudah sekolah zaman itu (bukan zaman batu). Saya bahkan tidak merasa ada beban yang terus terbawa hingga sekarang. seperti apa ketika saya membuat PR, apa saya kesulitan? apa saya terbebani tugas yang amat banyak? tidak ingat sama sekali. yang saya ingat hanya nilai saya memang selalu bagus namun saya tumbuh menjadi anak ceria yang masih banyak kesempatan bermain dan berkegiatan.

Coba bayangkan jadi anak sekolah dasar zaman sekarang. Ingin juara tentu saja prestasi pun harus selangit karena teman yang lain pasti gk kalah prestasi. PR yang banyak, lingkungan yang kompetitif membawa anak2 menghabiskan waktunya untuk sekolah dan les. Jika tidak maka mungkin akan tertinggal. Mungkin saja kalo support biasa2 aja seperti kala saya SD dulu, saya pun belum tentu layak jadi nomor satu di sekolah.

yaaah, walaupun kaliber SD setidaknya saya pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi nomor satu. Dan terimakasih kepada kawan saya yang tiada henti untuk mengingatkannya🙂 terimakasih dan mohon maaf, lupakanlah trauma itu, hi3🙂

2 thoughts on “Numero Uno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s