Mencari Anak yang hilang karena Stres

stress

Pagi ini menonton salah satu program televisi swasta. Program bincang pagi ini memang belakangan mulai menerima pelaporan atau keluhan langsung dari masyarakat.

Pagi ini, dengan tidak sengaja mendengarkan saya mengetahui seorang bapak berbagi informasi pada acara tersebut bahwa ia kehilangan anak lelakinya yang sudah beberapa waktu ini hilang dari rumah.

Anak lelaki itu sudah dewasa, ia berumur 27 tahun. Seusia saya dan dipastikan sudah dewasa tentunya. Dari foto yang ditunjukan saya melihat sesosok lelaki dewasa sehat dan normal. Pas foto yang tampak sengaja dicetak dalam ukuran yang lebih besar itu menunjukan si lelaki berfoto dengan setelan kemeja berdasi dengan balutan jas hitam. Rambutnya dipotong pendek hanya beberapa senti sebelum dikatakan botak. Tampak sehat, tampak dewasa dan tampak berpendidikan.

Mengapa hilang? bapak tersebut mengatakan anaknya mengalami gangguan kejiwaan. Ketika ditanya apa yang mendorong kejadian tersebut si bapak kembali menjelaskan bahwa anaknya memiliki problema dalam keluarganya. Rupanya ia sudah berkeluarga, bahkan istrinya sedang hamil. Namun sayang lelaki ini masih belum mendapat pekerjaan. Menurut bapaknya si anak menyimpan stresnya sendirian. Hingga akhirnya sedikit terganggu jiwanya lalu mulai menghilang dari rumah.

hm..apa yang saya rasa ketika mendengarnya? sedih tentu saja. Melihat umur kami, saya membayangkan ia salah satu teman saya. Ketika melihat mama saya, saya pun membayangkan jika ia salah satu keluarga saya. Saya pun membayangkan perasaan istrinya yang sedang hamil.

Sungguh berat membayangkan seseorang yang penting dalam hidup kita mengalami hal seperti ini. Ditimang dikala bayi, diasuh dan dijaga ketika anak2, disekolahkan dikala mulai tumbuh besar, lalu mulai mengenal lawan jenis dan akhirnya menemukan cinta. Lalu berakhir saja seperti ini.

Sayang sungguh sayang. Hidup selama 27 tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak temali kehidupan yang sudah ia jalin sejak kecil. Cinta kasih orangtuanya serta semua harapan baik mereka.

Mengapa bisa terjadi seperti ini? bicarakan apapun masalahmu, teriakkan semua kecemasanmu. Carilah orang atau teman yang kamu percaya, lalu berkeluh kesahlah hingga puas. Terkadang kita mampu menemukan kompres penurun pikiran yang panas dari dalam diri kita sendiri, mungkin saja kita mendengarnya melalui masukan dan hiburan orang lain. Tidak seharusnya hingga berada di situasi kita tidak memiliki siapapun. Menulislah yang banyak, oretlah sebuah tulisan atau puisi tentang harapan, tentang kecemasan. Jangan pernah diam, jangan pernah membangun dunia dalam pemikiran sendiri.

Sungguh sayang ketika hidup yang seharusnya mulai memetik hasil setelah pengasuhan orang tua yang panjang berakhir seperti ini saja. Cukup mahalkah hal yang memicu stres hingga dibayar sebegini rupa? Mencari pekerjaan terkadang menjadi perkara untuk sebagian besar orang, ketidakmampuan secara ekonomi pun mampu menekan emosi jiwa setiap dari kita, tekanan dan harapan orang2 sekitar pun terkadang jadi pemberat beban hidup.

Tapi apa pantas dibayar sebegini rupa? carilah penyelesaian yang lebih baik. Carilah harapan walau setitik. Kejarlah mimpi walau melalui kesabaran yang panjang. Tetaplah gigih menjalani hidup. Besar hatilah ketika kamu sadar bahwa kamu belum mampu memenuhi harapan orang2 sekitarmu.

Tapi jangan memilih mati, jangan memilih mengunci pikiranmu sendiri sehingga pikiran sehat menjadi sulit menerobos masuk ke dalam sana. Carilah bantuan, belajarlah berbagi. Percayalah dunia memiliki keramahan tersendiri kepada setiap manusia.

kejadian ini mengingatkan saya untuk lebih rajin menyadarkan diri sendiri untuk terus menjaga hidup dan kehidupan saya pribadi. Mungkin kita bisa membantu hal – hal seperti ini dengan menjadi pribadi yang “ramah” terhadap orang lain. Pedulilah dengan sekitar, jangan karena kecuekan kita hadir banyak orang yang mengaku “tidak memiliki siapa2 untuk bicara”. Sensitive lah dengan sekitar, jangan sampai kita menjadi bagian dari lingkungan yang turut serta melakukan penekanan sosial kepada individu lain yang mengakibatkan seseorang membayar terlalu besar dari yang kita bayangkan.

Mari  mejaga hidup kita masing2, mari saling menjaga hidup kita dan sesama disekitar kita. Jangan pernah merasa sendirian dan menderita sendirian. Keluarlah lalu teriakan isi hati kepada dunia. Lalu hembuskan nafas dan hiduplah kembali dengan baik menjalani segalanya yang masih panjang terbentang.

semoga ketemu ya pak, semoga bisa disehatkan ketika nanti tiba waktu bertemu, semoga bisa menikmati waktu hidup ke depan, dan semoga pada akhirnya memperoleh kehidupan yang indah dan bahagia. amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s