Salah Facebook ?

facebook

Seminggu kebelakangan selain perihal century, di media marak pula berita mengenai facebook. Terjadi beberapa kasus dimana anak gadis remaja pergi dari rumah beberapa hari atau bahkan masihbelum diketemukan hingga sekarang. Dan si anak ditengarai pergi dari rumah dengan seseorang yang ia kenal di situs jejaring sosial facebook.

Sebagaimana kita ketahui Facebook  mulai ramai dipergunakan beberapa tahun kebelakang, dan benar- benar amat ramai setahun ke belakangan ini merupakan situs pertemanan yang paling di gandrungi saat ini. Situs ini diyakini bahkan mampu menyentuh masyarakat yang awalnya awam dengan dunia maya.

Namun di balik euforia akan kehadiran jejaring yang mampu mempererat jalinan hubungan dangan teman2 lama ini, facebook pula di klaim memiliki dampak negatif.

Misalnya saja, berita hari ini mengenai pemutusan vonis pelaku pemcemaran nama baik di facebook oleh warga Bogor yang di ganjar  selama 2,5 bulan penjara. Facebook yang diakui mampu menjadi alat komunikasi efektif pun dapat menyeret seseorang ke ranah hukum. Hal ini bisa terjadi jika kebebasan berekspresi dimana facebook sangat mengakomodirnya tidak kita gunakan secara bijak. Salah – salah kata dan suasana bisa terjadi hal – hal yang kurang menyenangkan akibat terlalu bebasnya seseorang berbicara di facebook.

Facebook pun  memiliki kekuatan untuk menggerakan masyarakat untuk melakukan aksi mendukung seseorang atau pihak yang sedang mengalami keadaan yang kurang baik. Dalam hal ini kita bisa mengambil contoh dukungan masyarakat kepada Bibit & Chandra juga kasus Ibu Prita. Dimana jutaan dukungan masyarakat terkumpul dan propaganda facebook menjadi salah satu yang membuat suksesnya dukungan tersebut.

Facebook  memang dihadirkan untuk menjaga konektivitas penggunanya dengan seluruh masyarakat di dunia sesama pengguna facebook dengan mudah. Dalam hal ini saya sebagai pengguna facebook, lebih memilih facebook menjadi alat saya untuk menjalin komunikasi antara saya dan teman – teman lama. Pada awalnya tidak saya peruntukan untuk mencari kawan baru. Pun jika akhirnya saya mendapatkan teman baru itu tentunya hasil penyaringan saya sejauh apa teman baru itu bisa saya masukan ke dalam daftar teman. Dan rasanya tidak sampai 5% kategori teman seperti ini. Artinya, saya mengenal 95% list teman saya di facebook di dunia nyata.

Sayang, facebook dikesankan memberi peluang anak gadis  hilang atau pergi dari rumah. Dikatakan si anak gadis pengguna facebook itu pergi dan tidak kembali beberapa hari ke rumah karena pergi dengan seseorang yang dikenalnya di situs jejaring ini.  Kemungkinan ini dapat terjadi karena si remaja menambahkan teman – teman baru yang tidak bener – benar mereka kenal.

Siapa yang patut disalahkan? kita akui sesungguhnya teknologi serupa dengan sebilah pisau bermata dua. tajam. Bisa menguntungkan bisa merugikan. Pengguna facebook selayaknya adalah orang – orang yang memenuhi batas kriteria umur. Itu pun untuk remaja memang hendaknya didampingi oleh para orang tua. Dengan demikian orang tua bisa ikut menikmati facebook dengan hadir di list si anak. Bukan untuk mengekang, namun pastinya untuk mengawasi dengan siapa – siapa saja anaknya bergaul. Berbicara apa? mengatakan apa?

Hal seperti ini memang akan sulit di terima oleh anak remaja yang tidak memiliki keterbukaan berkomunikasi dengan orang tuanya. Sehingga facebook dijadikan alat sosialisasi yang sifatnya tersembunyi dari pengawasan orang tua.

Jika kondisi demikian terjadi , maka orang tua memang akan kehilangan akses untuk mengawasi aktivitas apa yang anaknya lakukan di dunia maya. situasi tidak terbuka ini kembali lagi ke hasil dari bentuk dan tipe pendidikan dan komunikasi dalam keluarga. Si anak remaja akan kehilangan filter. Melarang dan mencegah menggunakan tentu saja bukan solusi yang tepat. Remaja akan kehilangan kesempatan menikmati dan memperlajari perkembangan teknologi pada zamannya.

Dalam hal ini diperlukan pengawasan dan pendampingan orang tua. Hal yang tak kalah penting adalah  pemahaman tentang baik dan buruknya menggunakan teknologi perlu ditanamkan baik di sekolah maupun rumah.

Dengan pendampingan seperti ini di harapkan tidak ada lagi anak yang mudah terbujuk rayu orang yang asing lalu dengan mudah dapat diajak pergi, atau tidak terjadi percakapan buruk antara beberapa murid remaja mempergunjingkan guru sekolahnya. Setiap anak remaja berhak mendapatkan manfaat dari teknologi dan kemajuan zaman, namun sebagaimana pengguna dewasa, mereka pun perlu mengetahui resiko – resiko yang mungkin hadir dari setiap tindakan yang di ambil.

Jadi, salahkah facebook?

4 thoughts on “Salah Facebook ?

    • jiah si nokipa .. gue kira si akunorak🙂

      ho oh..kak seto bilang sih itu tanggung jawab orang tua. sama2 lah…elu juga sebagai pria dewasa jangan jadiin anak2 ABG mangsa🙂

  1. Dunia maya emang kejam.
    Dan wanita yg menjadi korbannya.
    Hati2!
    Harus punya filter sendiri.
    Jangan naif.
    Dan jgn mudah percaya sama orang baru.
    Lagian kan agak “aneh” aja kalo menambah frenlist fb kalo kita gak kenal.
    Iseng nya!
    Untuk penggunaan kata2 juga mesti bijak..salah2,malah akan menjerumuskan diri sendiri.
    Nya kitulah pokona mah..
    Dampak positif mah ga usah dikomen nya.
    Hehe kebanyakan.
    Jempol gw lecet.hahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s