Penjualan Anak – Sisi Lain Potret kemiskinan

anak & ibu

di doa ibuku, namaku disebut..di doa ibu ku dengar….ada namaku di sebut…

Boleh jadi itulah lagu terindah yang menggambarkan hubungan seorang anak dengan ibunya. Anak lahir ke dunia dan menjadi kesayangan ibu yang telah melahirkannya dengan pertaruhan nyawa. Anak lahir ke dunia yang umumnya langsung mendapat peluk kasih sang ibu dan lantunan suara adzan sang ayah.

Bagaimana jika si anak mendapatkan kondisi ibu yang tidak sesuai bayangan? Mendadak tanpa dimintai pendapat ia telah dipindahtangankan oleh si ibu ke tangan yang lain. Jika ia tau apa yang sedang terjadi mungkin si anak akan berteriak :

“ibu, mengapa kau memberikan aku kepada orang lain?”

hanya terdengar suara lirih si ibu, itu pun sayup jauh terdengar karena tidak diteriakan dari lubuk hati.

“ibumu miskin sayang….”

Kemarin siang, dan juga siang ini saya disuguhi berita di televisi mengenai aktivitas penjualan bayi atau anak oleh keluarga miskin kepada pihak lain. Berita yang kemarin terjadi penjualan janin bayi yang masih berada di dalam perut. Dengan sejumlah uang janin yang masih berada dalam perut itu sesungguhnya sudah menjadi milik orang lain. Sang ibu butuh uang untuk hutang dan kontrakannya, dan si anak yang belum terlahir pun  menjadi aset yang mampu menyelamatkan orang tuanya.

Siang ini hadir pula berita mengenai kampung miskin dimana ada beberapa ibu disana yang pernah memberikan anaknya pada orang lain. Baiklah, si ibu tidak mengatakan itu menjual dan saya pun sepakat kata menjual terlalu kasar. Dengan dalih tidak memiliki uang, uang kontrakan yang menunggak sedangkan suami hanya sebagai buruh kasar dan sakit si ibu dalam keterdesakannya memutuskan memberikan anaknya kepada pihak lain, dan tentu saja si penerima akan memberikan uang ungkapan terimakasih, yang keluarga itu butuhkan.

Kondisi yang membuat batin siapapun merasa miris.Ternyata masih banyak keluarga yang terjebak dalam kemiskinan dan bahkan mereka tidak mampu mengendalikan kemiskinan mereka. Tampak begitu sukar mencari jalan keluar dari lubang kemiskinan tersebut hingga solusi paling muskil pun terpaksa dilakukan.

Program keluarga bencana nampaknya tidak mampu menghalangi kondisi ini. Para ibu yang rata – rata memiliki tingkat pendidikan rendah ini tidak memilih alat KB sebagai pencegah kehamilan. Efek negatif alat KB yang mengganggu fisik ibu dijadikan alibi untuk tidak memilih KB sebagai jalan keluar. Tampak disini mereka tidak memiliki akses terhadap informasi mengenai alat – alat KB pilihan. Saya fikir dengan mampu memilih alat KB pun akses mereka untuk mendapatkan  pelayanan kesehatan yang layak akan sedikit rumit, mengingat tiada uang sekaligus tiada jaminan kesehatan masyarakat miskin akibat tidak terdaftarnya status kependudukan mereka secara legal.

Keadaan yang memprihatinkan, kondisi yang mampu merepresentasikan betapa buruknya kondisi kemiskinan yang terjadi di masayarakat kita. Kemiskinan tidak hanya memicu tumbuh kembangnya kriminalitas yang umumnya kita temui dalam keseharian. Kemiskinan ini pun mulai merangsek jauh lebih dalam, merusak sisi kemanusiaan mereka. Setidaknya membekap sisi kemanusiaan yang seharusnya bisa jadi satu2nya harta yang mereka miliki dalam diri. Karena kemiskinan itu, bahkan seorang ibu pun mengebiri nalurinya. Memisahkan diri dari sang buah hati demi secuil uang yang mampu menyelamatkan mereka sekeluarga.

Kembali mengingatkan betapa kemiskinan akan menjadi PR kelam yang amat amat panjang yang harus diperhatikan oleh para pengurus negeri ini.

Tidak ingin menghakimi, tidak ingin mengatakan apa yang seharusnya menjadi pilihan. Saya belum pernah ada di posisi itu, dan mudah2an tidak akan pernah. Tidak ingin mengatakan benar dan salah walau hati saya mengatakan pilihan mereka keliru. Satu celah disini, mungkin  pemerintah juga masyarakat  mampu, bisa memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat dengan menciptakan lapangan pekerjaan dan iklim usaha yang lebih baik. Tidak pula melupakan peningkatan pelayanan serta transfer informasi kesehatan yang mampu menyentuh masyarakat hingga ke masyarakat akar rumput yang terbelenggu oleh kerasnya rantai kemiskinan.

6 thoughts on “Penjualan Anak – Sisi Lain Potret kemiskinan

  1. Hahaha..
    Lieur atau tidak lieur, pokona gw mah 2 atau 3 anak cukup.
    Boleh dong lebih dari yg disarankan pemerintah.
    Nenek gw yg paling patuh sama pemerintah, padahal jamannya nenek gw dulu belum dianjurin KB kali yah.
    Tapi anaknya 2.
    Si babeh jeung uwa.
    Jadi weh sepi.
    Hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s