Cinta dan Tahun baru

Pagi ini aku bangun amat terlambat, semalam aku tidur amat larut. Setengah tergesa aku memasukan semua benda – benda yang memang harus berada di dalam tas untuk aku bawa.  Ah tidak, dinding kamar  menunjukan waktu sudah hampir pukul setengah tujuh pagi, burung hiasan jam dinding itu  bergerak – gerak  seakan mengataiku bodoh mengapa aku harus tidur larut dimalam yang keesokan harinya aku harus bekerja.

Aku menggapai sebuah handuk basah yang menjuntai di atas tempat tidur, seterlambat apapun aku harus menyimpan kembali handuk basah itu ke sebuah rak yang sudah disediakan ibuku di satu pojokan  terbuka tepat di sebelah dapur. Kalau tidak entah seberapa panjang ceramah tentang kebersihan kamar akan aku dapat sepulangnya  sore nanti.

Jalanan komplek sudah mulai tampak ramai, beberapa mobil sudah bergerak keluar dari garasi pemiliknya. Satu mobil berisi sepasang suami istri yang akan pergi bekerja. Mereka tidak tampak mengobrol, dari balik kaca mobil aku melihat wajah mereka datar. mungkin sedang berdoa agar di perjalanan mereka tidak terjebak oleh kemacetan kota kembang yang memang sudah mulai dipenuhi seiring telah dimulainya liburan akhir tahun. Tapi sama sepertiku, hari ini tetaplah hari bekerja. Ada satu presentasi yang harus aku lakukan hari ini. Presentasi yang sudah menghabiskan banyak waktuku seminggu ini. Berharap waktu dapat kembali sehingga aku bisa mengubah keputusanku dimasa lalu yang menyetujui teamku mengerjakan proyek ini.

Jalanan amat padat hari ini, hampir semuanya terlihat mobil – mobil berplat ibu kota. Tidak puaskah mereka memenuhi kota kelahiranku ini di setiap akhir pekan? mengapa hingga akhir tahun seperti ini mereka masih saja serakah ingin menguasai setiap ruas jalan kota ini. Lagipula kantor macam apa yang berbaik hati sudah meliburkan pegawainya di hari dimana aku masih harus bekerja, juga dua orang dalam mobil tadi bekerja? Sebanyak inikah orang – orang yang sudah mengambil cuti? atau mereka – mereka yang libur panjang karena merayakan Natal? Yang jelas aku semakin gelisah, aku akan benar – benar terlambat.

Angkutan yang aku naiki mengerem mendadak ketika di depan kami ada satu sepeda motor yang melambat tiba – tiba. uh dasar pengemudi sekarang mengapa mereka merasa aman untuk memegang kendali motornya dengan tangan kiri sedang tangan kanan mereka memegang sebuah telepon genggam? menjengkelkan.

Telepon genggam, aku jadi teringat tentang semalam. Proses pembuatan presentasiku hampir saja usai ketika sebuah sms masuk ke telepon genggamku.

malam ini mau kemana? temenin aku lagi yuk…

Huft, pendek namun membuatku berpikir panjang untuk membalasnya. Aku masih terus berkutat dengan laptopku di kamar yang entah bentuknya sudah seperti apa itu. Tissue berserakan, spidol warna-warniku yang aku gunakan untuk menandai daftar hal – hal yang perlu aku ingat untuk besok. Kamar yang sudah lama tidak aku bersihkan, belakangan aku pulang benar – benar untuk tidur.

Lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we’re in love in every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

Suara dering Hpku membuatku tersadar bahwa hari sudah mulai malam. Ku lihat nama itu tertera di layar, si pengirim sms tadi. Mau tidak mau aku mengangkat  walau aku masih belum tau apa jawabanku untuk ajakannya tadi.

Belakangan ini si penelepon, Ilham namanya memang sudah bebarapa kali jalan denganku. Pertama ia mengajakku untuk pergi bersama ke acara pernikahan kawan kami, lalu beberapa kali aku pun menghabiskan akhir pekanku dengannya. Sudah  2 film bulan ini yang aku tonton dengan Ilham bulan ini.

Menyenangkan menerima ajakan Ilham disaat – saat akhir pekanku yang terkadang aku bingung dengan cara apa aku melewatinya. Ia datang ketika aku tidak berhubungan dengan lelaki manapun. Sudah lama aku tidak merasakan seseorang datang menjemputku untuk sebuah kencan, tiba – tiba berada di depan kantorku sesaat setelah aku bilang jam kantorku hampir usai. Ilham sedikit membuatku bersemangat.

Namun hingga hari ini keyakinan untuk memberikan kepastian kepada lelaki ini untuk berani menawarkan sesuatu yang aku tau akan ia tawarkan belum bulat aku rasakan Ilham adalah lelaki yang dicintai sahabatku dimasa lalu. Beberapa tahun lalu, tepat ketika kami sama – sama berkuliah di satu perguruan tinggi yang sama. Ilham berada di fakultas yang lain. Sahabatku benar – benar – benar jatuh cinta kepada lelaki ini, namun perasaannya bertepuk sebelah tangah. Butuh waktu cukup lama aku dan kawan – kawanku menghibur sahabatku itu untuk menerima kenyataan ini.

Namun saat ini, beberapa tahun sejak saat itu justru Ilham datang menghampiriku. Menawariku sebuah hubungan, menghujaniku dengan banyak perhatian. Ia mendadak memenuhi inbox ponselku. Ilham, lelaki ini tidak tau bahwa aku masih ragu.

Aku sibuk menerka – nerka apakah ini baik menerimanya? apakah ini baik membuka hati untuk lelaki pembuat patah hati sahabatku ini? Ilham tidak tau bagaimana wanita yang ia buat patah hati itu bersedih, menitikkan air mata karena dirinya. Lalu aku mulai membayangkan apa yang akan terjadi jika akhirnya Ilham menjalin hubungan denganku.

Dikala sahabatku mengatakan belum mampu menemukan lelaki lain yang mampu membuatnya melupakan Ilham.

Warna lampu hijau tanda deretan mobil ini mambuyarkan lamunanku. Selepas lampu merah ini, aku harus turun tepat didepan sebuah jalan kecil. Ada temanku dengan motornya menungguku disana. Sadar bahwa aku tidak boleh terlambat pagi itu, temanku akhirnya menjemputku dijalan kecil itu dengan motornya untuk memotong jalan. Entah jam berapa aku akan tiba kalo memang terus mengikuti jalur yang di depannya nanti masih ada 2 lagi lokasi rawan macet.

Aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebelum pukul 3 sore ini. Aku ingin pulang dan bersiap pergi malam ini untuk menikmati saat – saat pergantian akhir tahun. Akhirnya aku menerima ajakan Ilham, tiada pilihan lain. Hingga malam tadipun ketika ia meneleponku aku tidak dapat memberikan alasan yang kuat untuk menolaknya. Terlebih aku memang ingin pergi, ia lelaki yang menyenangkan.

——

Waktu sudah menunjukan pukul setengah lima sore. Aku sudah berada di kamarku yang tampak sedikit lebih rapi dibandingkan semalam. Ku buka lemari bajuku. Ini adalah scene klise dimana para wanita kerap mengacak – ngacak isi lemarinya memilih apa yang paling ia anggap pantas untuk dikenakan saat kencan.

Setengah jam berlalu, namun aku masih menghabiskan waktu dengan lemariku. Padahal aku pulang cepat agar aku punya waktu untuk tidur sejenak. Malam tahun baru, tengah malam, begadang, aku takut tidak mampu melewatinya dengan lancar kalau 2 malam ini aku sudah kurang tidur. Namun hingga pukul setengah 6 sore aku masih balum dapat memutuskan. Tempat tidurku penuh dengan baju. Dengan celana, juga dengan beberapa helai kerudung warna – warni. Memadu padankan pakaian bukan hal mudah jika kita bukan seorang ahli mode terutama jika kita memiliki bakat tidak percaya diri yang akut. Hey, padahal ini bukan pertemuan pertama kami.

Ada suara ibuku mempersilahkan seseorang masuk. Rupanya Ilham memenuhi janjinya untuk menjemput setelah magrib. Aku hampir selesai berdandan. Hanya menyapukan bedak tipis, sedikit pelembab bibir dan memastikan gigiku dalam keadaan bersih.

Aku suka warna bajuku malam ini, aku berharap Ilham akan merasakan yang sama. Baju hijau dengan kerudung kuning kehijauan. Agar aku tampak ceria di suasana malam ini, setidaknya hatiku begitu. Ilham, mungkinkah ini kesalahan? sahabatku, hatinya, kencan kita? tak semuanya mampu aku pikirkan saat ini. Mari kita berkencan.

Ilham sedang berbasa basi dengan ibuku, setelah menyapanya aku pergi ke ruang makan mencari kunci rumah. Sungguh aku tidak yakin akan pulang cepat, setidaknya lewat tengah malam aku bari tiba di rumah. Agar tidak mengganggu istirahat orangtuaku sebaiknya aku membawa kunci sendiri. ehm, sungguh gugup. Ini kencan pertamaku hingga melewati tengan malam.

Ilham masih dengan baju kerja lengkapnya, sebuah kemeja putih bergaris biru muda digulung. Seakan menandakan jam kerjanya telah usai. Wajahnya lelah namun tetap antusias. Kami pun pergi berputar – putar entah mau kemana. Bandung tampak sepi untuk ukuran malam tahun baru. Beberapa tempat kami kunjungi, beberapa jalan kami lalui hampir tidak banyak tempat yang mencolok. Minimal menurut pandangan kami.

Ilham tampak bingung rupanya ia hanya berani mengajakku pergi tanpa sempat memikirkan akan mengajakku kemana. Tapi tidak apa, perjalanan berputar – putar ini, lampu – lampu jalan, penjual terompet sepanjang jalan, hingga jemariku yang menggenggam kuat jaketnya, aku menikmati semuanya.

Akhirnya kami tersesat di sebuah mall di suatu jalan yang amat terkenal di kota kembang ini. Setelah tidak merasa cocok dengan mall sebelumnya yang kami lewati. Disana  sudah mulai tampak ramai, kami berputar – putar mall. Ilham sesekali bertanya apa aku baik – baik saja. Sesungguhnya selain aku kedinginan, aku khawatir. Khawatir jika ada yang menemukan kami berdua disini. Khawatir kabar aku keluar bersama lelaki ini sampai pula ke telinga sahabatku, Anita. Ya Anita menjadi hiasan dalam benakku sepanjang malam ini. Ia selalu ada, berada di tengah – tengah diantara kami. Aku sesungguhnya tidak merasa hanya berdua. Aku terhantui oleh Anita.

Malam makin larut, kami menikmati kopi kami masing – masing di suatu tempat yang cukup terkenal menyediakan kopi. Tempatnya sempurna. Lantai dua, kami di pojok dan mata kami bebas memandang ke segala penjuru. Di taman itu kami menyaksikan penampilan konser purwacaraka. Lampu – lampu gantung sekeliling cafe membuat malam itu semakin bercahaya, lengkap dengan kembang api disekitar panggung.

Sekilas aku melihat seseorang melintas menyerupai Anita. Hampir aku memuntahkan kopi yang baru saja aku teguk. Ia melihat ke arah kami, ia melihat aku dengan pematah hatinya. Ia melihatku dengan bajuku yang mencolok. Sungguh menyesal aku menggunakan baju ini. Bagaimana menjelaskan ini semua kepada Anita.

Anita, Anita, Anita..hanya nama itu yang ada di benakku. Suara Ilham yang melanjutkan obrolan kami mulai terdengar samar – samar. Resolusiku? hah, aku menjawabnya semampuku. Kapan aku berniat menikah? hm, kapanpun itu yang jelas setelah aku menjelaskan malam ini kepada Anita.

are you allright?

Pertanyaan Ilham membuyarkan lamunanku. Tangannya mengucek – ngucek kepalaku. Wajahku yang sedari tadi tampak tak berair tampaknya berubah menjadi kemerahan. Ia menajamkan tatapannya, aku makin tak kuasa melawan semua warna semu kemerahan yang terpedar di wajahku. Perlahan aku mengalihkan pandangan, menghindari tatapannya yang amat menusuk. Aku hanya mampu mengatakan kata “dingin”. Lalu ada sebuah tangan yang menggenggam jemariku.

Jangan malam ini Ilham, ini mendekati saat yang aku tunggu. Namun kesempurnaan ini tak akan sempurna sebelum aku menjelaskan kepada Anita. Jangan membuatku menikmati ini, sungguh wajah Anita menguasai benakku. Apa yang akan ia kata? aku, sahabatnya sang penghibur masa – masa patah hatinya justru malam ini menghabiskan malam bersama lelaki ini. Cinta Anita. Cinta masa lalunya dan sungguh aku tidak yakin tentang hati Anita dimasa kini.

10 ..9..8..7..6..5..4..3..2..1…..happy new year….!!! semua bersorak sorai riuh, gegap, gempita. Suara terompet bersahutan. Beberapa orang berpelukan dihadapan kami. Ilham berbisik lembut :

selamat tahun baru, Dwi

Lelaki ini merangkul aku. Entah apa yang akan ia rasakan dalam rangkulan itu. Hatiku yang meletup – letup apa perdebatan dalam benakku yang panjang.

selamat tahun baru, Ilham

Lirih aku ucapkan kata – kata itu dalam hatiku, arti dari sebuah anggukan dan senyuman membalas ucapan happy new year tadi. Kami pun menghabiskan kopi kami, sesekali kami bertukar kopi. Bertingkah layaknya remaja. Namun akhirnya keriuhan selesai, kami pun bersiap pulang. Ilham pergi mengambil motornya, aku menunggunya ditengah keramaian.

hai dwi, tadi gue liat elu di starbuck ama Ilham. Lu jalan sama dia ya? sejak kapan?

sms dari Anita, tercekat aku membacanya. Berdiri kebingungan jawaban apa yang tepat untuk sebuah sms lewat tengah malam ini.

gue bisa jelasin ke elu say, besok kita ketemuan ya…

pasti saat ini Anita sedang membaca sms yang baru saja aku kirim.

🙂 gk , gue cuma tanya takutnya tadi salah liat. Gak apa2 wi, jangan gak enak ama gue. kenapa lu gak cerita dari awal?

Ilham masih antri mengeluarkan motornya, aku masih berkutat dengan sms-sms anita.

pokoknya besok gue jelasin ya nit, gue ke rumah lu, ok.

sungguh selain malam itu dingin aku marasa diriku begitu buruknya.

Ya ampun wi..santai aja lagi. gue gk apa2. jangan besok ok. pagi2 gue terbang ke Singapur. Lu inget temen chatting gue yang dari Australia? besok gue janjian ama cowo itu disana. Dia ada acara dengan teman2nya. Jangan anggap gue gila ya..walau belum pernah ketemu gue merasa lain dengan cowo ini. Dwi, gue dijalan neh mau pulang. kita ketemu Minggu ya.

ah, angin apa ini yang menghampiri dadaku? Anita baik – baik aja. Hanya aku yang membesar – besarkan masalah ini. Temanku yang satu itu kadang memang gila. Ketika ia menyukai sesuatu ia akan melupakan yang lain. Dan mungkin ia melupakan Ilham. Apakah sms tadi adalah restunya? restu Anita?

Ilham menjemputku, ia mengantarkan aku pulang. Malam amat dingin walau sebuah jaket aku kenakan. mendadak aku mendekatkan tubuhku ke punggung Ilham, tidak hanya jaketnya yang ku genggam, tanganku ia tarik hingga melingkari pinggangnya. hm..aroma tubuh ini, dingin ini, juga sms Anita menetramkan sesuatu di dalam dadaku.

Kami melaju kencang di jalanan, sesekali aku mengencangkan pelukanku. Aku memeluknya dari belakang. Cahaya lampu jalanan membantu kami bertatapan, sesekali ada mata yang melirikku memantul dalam bayangan kaca spion hitam itu. Ilham, banyak kata yang aku tunggu dari mulutmu. Saat ini, aku tidak bisa menunggu lagi.

Ilham memperlambat motornya setelah mendekati rumah aku. Tiba – tiba sulit rasanya berpisah dengannya. Kami berbincang sejenak di halaman rumahku.

Angin mulai menusuk dadaku, sekejap ada sebuah tangan yang menarik jemariku. Ilham menatap jauh ke dalam mataku. aku tak mampu mengelak dari tatapannya. Lalu bersinaran semua kembang api dilangit, bercampur cahaya lampu dan juga bintang. Dadaku bergemuruh, laksana deru ombak yang melawan kerasnya tiupan terompet disepenjuru dunia yang merayakan detik – detik pergantian tahun.

sebuah kecupan mendarat tanpa pertanda, bibir lembut menyentuh bibirku yang hampir beku. Ilham mengatakan ia jatuh cinta, cinta malam ini. Aku.

Aku membuka hatiku untuk satu cinta lagi. Cinta berganti cinta seirama dengan tahun berganti tahun. Anindita Dwi Sekar Utami, selamat tahun baru.

Jumat, 1 Januari 2010

25 thoughts on “Cinta dan Tahun baru

  1. Hmm..
    Nice..
    Gw suka cerpennya..
    Menyentuh!
    Dan latarnya bandung..
    Kota kelahiran gw.

    Dwi itu nama kakak gw.
    Hmm pasti mikir kalo kakak gw yg pertama namanya “eka” dan adik gw “catur”

    salah salah..

    Itu komen pertama.
    Yang kedua..bentar, baca lagi..

  2. Hahahaha..

    *berusahamenahantawa*

    heh ko ada sedikit..
    Sedikiiiit kemiripan sama acara malem taun baru gw.
    Ditemani kopi starb*cks ukuran medium..
    Hmm juga pas banget sama kostum yg gw pake kaos hijau army dan kerudung kuning bunglon..
    Edaaan..keturunan mama lorentz jangan2..
    Hihi..

  3. Ko gw jd kangen stengah idup yah sama “seseorang” gara2 baca cerpen ini..

    Asa katajong tuh da..
    Beberapa ada kemiripan..
    Tentang orang yg bkin gw jatuh cinta, ternyata orang yg ngecewain sobat gw dulu..

    :((
    nonjok!

    Haha jadi curcol gini.

    Baiklah..
    Semoga diberikan yg terbaik..
    Amin..

  4. Klimax..
    Haha anggeur..

    Overall gw suka cerpennya..
    Anda berbakat jadi penulis😉

    tetaplah produktif..
    Semangat

    Lucky I’m in love with my bestfriend..
    ….

    Kesel!
    Sebel!
    Kangen sekali!
    Senang betul!

    Lho?!

  5. wedew…baca ceritanya..jadi beasa muda oy…hahaha, dah lama kugabaca cerpen model beginian lagi dek…dah berganti bacaan dengan children are from heaven…cara mendidik anak…

    bagus ceritanya…mengingatkan masa dulu pulang kuliah dibonceng sama ayahnya anak-anak…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s