PRIHATIN bin WATIR (bagaimana seharusnya unjuk aksi?)

 

bakar

Bakar, bakar, bakar!!

bakar, bakar!!!!

 

Beberapa menit yang lalu, saya melihat tayangan televisi mengenai aksi sejumlah anak sekolah terhadap pemutaran film 2012. Jika tidak salah dengar anak – anak sekolah itu berasal dari Kota Bogor. Tapi saya tidak terlalu memperhatikan dimana tepatnya sekolah itu di Bogor.

Aksi anak – anak sekolah itu dalam rangka protes terhadap pemutaran film 2012 di bioskop. Tidak aneh jika film ini menjadi polemik, dan memang sah – sah aja jika memang ada pihak2 yang mengemukakan pendapat mereka. Namun yang menjadi keprihatin saya dari tayangan tadi, mengapa aksi yang dilakukan di sekolah dan didampingi oleh para guru itu dalam bentuk pembakaran beberapa DVD? Ada aktivitas bakar – bakar dengan oleh anak – anak itu beserta gurunya sambil teriak2 bakar! bakar!.

Duuh, miris pisan. Pak guru, Bu guru jangan dicontohin unjuk aksi dengan bakar2an dong… udah mah yang di televisi juga banyak contoh begitu. Masa iya sekarang sama guru sekolah juga dicontohin begitu?

Watir, gimana kalo pesan yang ternanam di benak mereka adalah memang seperti itulah cara kita mengungkapkan pendapat agar mendapat perhatian? Sampe besar nanti malah jadi berfikir itulah langkah yang dipilih mereka kalo mau unjuk suara.

Kenapa gak diajarin bikin tulisan, lukisan, gambar, puisi atau karya lain? Cari media lain, toh goalnya tetap yaitu mengemukakan pendapat atau pandangan yang berbeda. Mereka berkarya sekaligus juga mereka mengemukakan pendapat bahkan ketidaksetujuan…duuuh, miris pisan.

Memang sih untuk orang yang tidak siap menonton 2012 bisa jadi cukup mengganggu. Bisa resah, bisa salah persepsi bahwa kiamat bisa diprediksi oleh manusia dan akan terjadi dalam waktu dekat. Khawatir akan terjadi keresahan masal maka ada himbauan untuk tidak menjadikannya tolak ukur. Himbauan saja cukup, tetapi melarang rasanya berlebihan. Karena seharusnya setiap indivisu sudah memiliki filternya sendiri. Setiap penonton akan mencerna juga kok apa itu nyata apa fiksi?

Saya juga nonton, tetapi tidak meyakini sebagai tolak ukur kiamat. Terasa jelas kok kalo itu hasil buatan manusia. Mungkin kiamat yang sesungguhnya hanya Allah yang tahu seperti apa. Tidak terjangkau nalar manusia.

Jadi mengapa harus sampai mengajak anak2 SD itu aksi dengan cara bakar2an dan bakar dvd2 itu? iya kalo lagi acarapersami pramuka..api unggun itu indah, tapi di aksi anak2 imut itu akan berfikir itulah standar umum untuk berpendapat, dengan ada aksi bakar2an. ah sayang sekali melihatnya…

 

8 thoughts on “PRIHATIN bin WATIR (bagaimana seharusnya unjuk aksi?)

  1. parah tuh guru2…
    bukan mengecilkan profesinya..
    cuma untuk beberapa oknum yang seperti itu, mungkin bukan muridnya yang perlu pendidikan, namun gurunya..
    yaa.. semoga aja mereka menyadari bahwa cara yang mereka “ajarkan” tadi kurang tepat, dan segera di koreksi..
    sebab kalau tidak………… *tak terbayang masa depan anak2 SD tadi..*

    • cieh…pak tiar…hihi…iyah tadi mah senewen liatnya..tapi sekarang udah beberapa menit mah gue ge tenang. hihihi…

      iyah jangan dulu dikenalin ama yg enggak2..kan mereka mah masih lugu. takut nelen bulat2 suatu contoh…gimana yg terjadi di masa yg akan datang kalo untuk angkat suara aja selalu gitu

  2. Hmm..
    Naon nya?
    semua guru bakar ajah!
    Euh gw ge atuh dibakar..
    Da sarua guru..
    Haha.. Komen yg aneh..

    Yah..baiklah..
    Hayu kita bakar ayam sajah..
    Alternatip selain sate..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s