Pasar Tradisional

pasar anyar bogor

pasar anyar bogor

Hari Jumat lalu, tepat 2 hari sebelum lebaran tiba saya diminta ikut kepasar bersama ibu, tante juga nenek saya. Mendengar kabar bahwa lebaran tahun ini akan bergeser satu hari dari kalender semula, wanita – wanita di keluarga saya yang bertanggung jawab di divisi masak – memasak memutuskan untuk berbelanja kebutuhan dapur pada hari Jumat. Maka pergilan saya pagi jam 7 di hari itu.

Pasar tampak ramai, ramai melebihi ramai biasanya.angkutan umum sulit menembus jalanan karena banyak pedagang sayuran yang menjual sayurnya di sepanjang sisi jalan.

Saya berjalan mengikuti ketiga wanita 2 generasi ini, terutama nenek saya yang sebetulnya sudah terlalu sepuh untuk pergi ke pasar. Namum ternyata tenaga dan semangatnya melebihi siapapun, bahkan yang muda sekalipun. Satu per satu sayuran mereka beli, sesekali mereka bertiga berbelanja di penjual yang sama namun di waktu lain mereka belanja sendiri – sendiri secara terpisah. Semua itu bergantung kepada kebutuhan dapur masing – masing dan menu yang akan di buat.

Sebenarnya, cukup jarang saya ikut ibu saya ke pasar tradisional, namun jika melihat pasar amat padat seperti hari itu rasanya pantas saya ikut. Setidaknya saya aktif memperhatikan ketiganya dari belakang sehingga tidak ada tangan – tangan copet jahil yang  jahat. Atau sesekali memberhentikan becak, motor bahkan angkot juga orang2 lain sehingga nenek saya bisa berjalan tanpa kesulitan. hihi, seperti bodyguard aja.

Takjub melihat pasar, membayangkan berapa transaksi keseluruhan yang dilakukan antar pelaku pasar dalam satu hari itu. Pastinya uang yang cukup besar. Sesekali saya ingin tahu harga asli suatu barang jika mendengar ibu saya ataupun pembeli yang lain terbelalak mendengar harga yang cukup tinggi. Kesimpulannya adalah cukup mahal juga ya untuk makan enak di hari raya itu??!

Hari itu hampir 4 jam saya berada di pasar, jenuh mengikuti keluarga saya yang memperlama waktu belanja dengan tawar menawar yang tiada berujung. Belum lagi memilih – milih barang. bahkan ketika ada di sesi membeli ayam kampung saya terpaksa harus cari kamar mandi umum untuk muntah karena tidak tahan dengan debu2 kandang ayam yang tersebar angin.

Makin siang suasana pasar makin menggila. semua kendaraan, pembeli dan penjual saling tumpuk di jalan. sulit maju, sulit mundur. Benar – benar suasana yang lucu tapi melelahkan. Walau kami berempat lelah tapi seperti biasa sepanjang waktu belanja kami sisipi dengan humor sehingga sesekali kami senyum – senyum kecil bahkan tertawa.

oh pasar, oh Indonesia..jika melihat situasi seperti itu saya jadi curiga jangan2 uang masyarakat itu banyak. apa inilah berkah ramdhan, semua orang dimudahkan rizkinya sehingga semua bisa bersukacita menyambut hari lebaran.

indonesia, selamat lebaran ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s