Payung dan Hujan

umbrella

umbrella

Payung, boleh jadi ini adalah salah satu barang yang cukup wajib dimiliki oleh orang – orang yang tinggal di kota Bogor. Sebagai kota hujan, kota kelahiran saya ini punya kebiasaan hujan yang datang tak terduga, bahkan di masa kemarau sekalipun.

Saya mulai rajin memastikan ada payung di dalam tas kemanapun saya pergi, yaitu sejak berkuliah di Institut Pertanian Bogor. Selain payung untuk menangkal hujan yang datang tiba – tiba, tidak jarang si payung  juga saya gunakan untuk menangkal terik matahari di belantara kampus yang luas dan panas. Maka tak aneh jika payung – payung kami cepat rusak, ibarat gelas retak yang kadang diberi panas kemudian diberi dingin. Ketika akan pergi, selain dompet dan HP, payung menjadi barang yang diperiksa keberadaannya kemudian di dalam tas. Dan saya cukup yakin, sebagian besar warga kota hujan ini akan sama seperti yang saya biasakan.

Tapi ada hal yang terkadang menjadi lucu, payung2 itu seringkali bagai hiasan hujan saja yang dipakai oleh wanita, anak2 juga sebagian lelaki di tengah bogor yang tengah diguyur hujan. Karena jika hujan teramat deras seperti malam ini, payung hanya mampu melindungi wajah, sebagian rambut juga dada saja. Sedang bagian tubuh yang lain tidak akan luput dari air yang jatuh dari langit dengan derasnya.

Malam ini pun saya pulang dalan keadaan 3/4 basah. Payung yang saya gunakan hanya mampu menjamin wajah saya dan rambut untuk tidak basah, juga beberapa berkas yang saya peluk dalam dekapan. Beberapa hari belakangan ini selama ramadhan, setelah hari – hari gerah dan lembab, setiap mendeketi buka puasa, langit kota Bogor akan memuntahkan airnya secara merata. Malam ini saya berbuka puasa di warung tenda setelah hujan sore mulai mereda. Namun siapa nyana ternyata hujan malam segera berlanjut. Dan parahnya tenda2 itu bocor dimana – mana, kami yang makan di meja panjang – meja panjang itu pun seperti makan malam dibawah langit langsung, merasakan tetesan air hujan yang langsung turun ke bumi. Salah satu teman saya malah memasang payungnya di dalam tenda :p.

Bogor, Hujan dan payung bagai trio yang sulit dipisahkan dengan kehidupan kami warga Bogor. Walau saya salah satu orang yang mengidap phobia hujan (deras, angin, petir, halilintar) namun saya tetap mencintai hujan di kota ini. Selain hujan2 ributnya, masih ada hujan2 ramah, romantis dan syahdu yang dikeluarkan langit sewaktu – waktu. Dikala sore dan senja yang saya sukai, hujan2 syahdu kerap membuat hati dan warga kota ini terasa hangat. semua orang tampak bergegas, semua orang tampak terbiasa dengan hujan. Dan sesekali, semua itu tampak indah.

oh hujan, izinkan saya mengucapkan selamat datang pada flu.

2 thoughts on “Payung dan Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s