That’s All – Tami “Pepeng” Ferrasta

4691_1141917875727_1460856929_361057_3230412_n Buku ini boleh jadi bukan buku pembuka jendela dunia yang sarat akan informasi alam jagad yang luas. Boleh dibilang, ini hanya buku pembuka jendela isi pikiran seorang Tami “Pepenk” Ferrasta. Dengan membukanya, lanjut menelusurinya, pembaca melalui pikiran seorang Tami yang terangkum apik dalam buku ini justru akan disiapkan untuk dapat menghadapi jagad hidup yang amat luas ini, termasuk segala ketidakpastian didalamnya yang tidak terpisahkan bagai matahari dan bulan.

Tami adalah seorang gadis muda riang dan energik dan modis, anak dari keluarga diplomat yang kerap mewakili bangsa Indonesia di negara – negara di dunia. Dia didik dengan pikiran terbuka gaya barat, namun tetap memegang teguh nilai – nilai keindonesiaan-nya. Tami tumbuh menjadi seorang yang gaul, banyak teman, dan gaya dengan cara berpakaiannya sepulangnya ia ke tanah air ketika sang ayah selesai melaksanakan tugas diluar sana.

Tami hidup dengan begitu banyak pengaruh dari kehidupan orang – orang sekitarnya. Ada kemampuan Tami untuk menyerap setiap energi positif dari orang – orang sekitar seperti para neneknya, orang tua, mertua dan tak lupa adalah suaminya sendiri, Mas Pepeng (pemandu kuis JARI2 di RCTI beberapa tahun lalu). Pelajaran – pelajaran melalui contoh tingkah laku hidup para inspirator tadi mampu akhirnya membawa seorang Tami menjadi wanita yang kuat menjalani hidup dengan segala kejutannya.

Tami menikah dengan seorang Pepeng yang ramai, seru, serius sekaligus galak juga tegas. Hari – hari awal pernikahan mereka tak luput juga menjadi bumbu yang indah dari buku yang memang sudah tampak indah dari melihat covernya ini. Di tahun pernikahannya yang kesekian tahun, sang suami, Mas Pepeng dianugrahi penyakit oleh Sang Khalik. Tampak disini Tami muncul menjadi seorang wanita yang pembelajar, berguru pada ketentuan hidup. Ia tidak serta merta menjadi seorang yang kuat namun dipastikan semakin kuat dari hari ke hari.

Mas Pepeng tidak pula luput dari proses penguatan tadi. Ditengah sakitnya, ia mampu membangun persepsi terhadap keadaan tebarunya. Ia mampu menjadi pasien yang baik sekaligus dokter yang hebat bagi diri dan penyakitnya. Tak lupa pula ia akhirnya menjadi salah satu guru kehidupan seorang Tami Pepeng Ferrasta. Kecerdasannya dalam menelisik sisi – sisi ketentuan hidup yang ia terima, mampu mengkristal sehingga setiap penghuni rumahnya mampu menangkap spirit – spirit hidup yang mungkin saja keluarga lain tidak lagi memiliki.

Hebatnya, spirit Mas Pepeng yang dengan bening digambarkan oleh seorang Tami melalui kepahaman yang ia simpulkan melalui buku ini dapat menggerakan spirit  para pembaca buku terutama yang juga menghadapi masalah yang sama. Ada ajakan untuk merasa sehat dalam situasi kesakitan, ada ajakan untuk merasa lapang diantara kesempitan hidup, ada ajakan pasrah dan tawakal diantara kegundahan hati. Buku ini menyegarkan hati para pembaca yang mungkin sedang sakit, para pembaca yang mungkin sebagai pendamping yang sakit.

Ada  satu rasa yang muncul setelah membacanya, yaitu penerimaan yang tulus ikhlas akan kehidupan apapun yang dijalani. Tak lupa muncul semangat untuk terus memandang masa depan dengan sukacita, dengan keyakinan akan hadirnya kemampuan dan kekuatan untuk menghadapi setiap gores hidup yang telah Sang Khalik torehkan dalam kanvas takdir bagi setiap diri kita.

********************************************************************

4691_1141922035831_1460856929_361069_4877619_n Terimakasih kepada pemberi buku ini. Saya mendapatkan buku ini ditengah – tengah jarangnya saya berkunjung ke toko buku. Seorang kawan di facebook memberikan saya kesempatan untuk memperoleh dan memiliki buku ini melalui tangannya.

Buku ini sebuah penyegaran bagi saya yang memiliki bapak  yang sedang sakit. Seorang bapak yang dari keadaan sehatnya amat aktif, memegang kendali akan hidupnya menjadi orang yang “diperintahkan” Sang Khalik untuk sementara berdiam dulu di rumah. Hampir 1 tahun ini beliau total berada di rumah. Naik turun kondisi kesehatannya berubah – ubah setiap saat. Butuh energi besar ternyata untuk menjalani ini. Bukan hanya bagi yang sakit, namun bagi para teman hidup si sakit.

Buku ini menghibur ketika rasa takut menyelimuti hari – hari saya. Kelelahan hati merasakan sakit yang diderita sang bapak lebih menggerogoti saya daripada bapak saya sendiri. Juga muncul rasa takut berlebihan, bagaimana jika datang waktu dimana saya menjadi anak yang gak mampu berbuat apapun lagi?! pikiran – pikiran sempit itu menggerogoti dari dalam tanpa saya sadari. Buku ini pun mengingatkan saya, bahwa yang sedang saya dan keluarga hadapi hanyalah bagian dari hidup yang seharusnya memang tidak dijalani sendiri, namun dijalani oleh segenap keluarga. Disinilah arti keluarga kembali ditunjukan. Keluarga bukan lagi tempat dimana kita berbagi makanan, tempat hidup dan kenangan. Namun keluarga juga menjadikan kita orang2 yang butuh berbagi takdir hidup, menjeritkan kelemahan, dan mengakui bahwa kita membutuhkan kegiatan “saling sentuh”, bahkan tidak malu untuk mengakui bahwa kita membutuhkan orang lain.

Bapak saya mengidap Diabetes melitus, 1 tahun ini kesehatannya amat drop sekali. Sakit fisik gak lebih berbahaya dari sakit psikologis maupun sakit pikiran dari sakit pisik tadi. Mungkin tampak terlalu cengeng, namun memang berat bagi kami keluarga yang terkenal sehat dan belum sekalipun ada riwayat penyakit serius diantara keluarga. Uang mungkin membantu proses penyembuhkan pisik, namun kekayaaan hati dan sensitivitas rasa amat membantu proses penyehatan yang sakit sekaligus seluruh anggota keluarga.

Terima kasih kepada teman – teman yang pernah mambantu mendoakan, memberi spirit juga menghibur hati dikala rasa putus asa itu hadir. Saya hanya orang yang akan berlari sembunyi dan menangis dikala bapak mengeluhkan sakitnya. Namun kembali berhadapan dengan wajah yang teramat tegar dan menenangkan seakan mampu mengendalikan setiap keadaan bahkan ketika kebingungan melanda.

Ketika menulis ini, bapak saya dalam keadaan sehat. Kembali ke mesjid, mulai membaca buku, mencari teman ngobrol, dan sedikit rehat dari sakitnya. Semoga tidak akan kembali drop seperti waktu – waktu belakangan ini, amiin.

5 thoughts on “That’s All – Tami “Pepeng” Ferrasta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s