Seperti apa sih Kawah Putih Itu? (ketika keinginan kita tidak selalu terpenuhi)

rotation-of-cheese294

Akhir minggu lalu, dengan beberapa orang kawan wanita saya berangkat menghadiri pernikahan seorang kawan baik di kota Subang. Pergi dari Kota Bogor sekitar pukul setengah 4 pagi. Cukup pagi untuk pergi ke sebuah pernikahan, namun mempertimbangkan bahwa kami berniat menghadiri acara akad nikahnya, maka kami sepakati untuk berangkat sepagi mungkin dan sholat subuh di perjalanan.

Selesai acara disana, kami semua melaju menuju kota Bandung, salah satu kawan ingin mengunjungi tempat Wisata Kawah Putih. Tanpa tau medan jalannya, saya termasuk yang menyetujui ide tersebut dengan mempertimbangkan bahwa kami menggunakan kendaraan sendiri dan mengukur bahwa hari masih cukup siang bila hanya untuk sekedar jalan – jalan. Melajulah kami ke tempat tujuan dengan seisi mobil yang gak tau jalan. Hanya bermodal rambu jalan dan sesekali (maksudnya sering kali) bertanya sepanjang jalan.

Melewati Dzuhur, kami tiba di kawasan setia budi yang cukup macet. Entah bagaimana sampai disana, karena saya tidur sepanjang jalan. Setelah melalui jalanan macet, berhasil pula kami masuk ke tol menuju Soreang. Jalanan masih saja macet sekeluarnya kami di pintu tol Kopo. Sedang kawan yang menyetir sudah mengeluh lapar, beberapa kawan lagi sudah mulai gelisah belum sholat Dzuhur. Ketika kami beristirahat di sebuah tempat makan. Melihat langit mulai mendung, waktu sudah menunjukan pukul 3 sore. Saya melihat kawan yang menyetir sudah mulai lelah atau seperti itu yang saya bayangkan, Dan juga tau beberapa kawan sudah lelah berada di mobil karena jam 3 sore berarti sudah hampir 10 jam kami berada di dalam mobil. Mulailah untuk memberi pilihan lain kepada salah satu kawan yang teramat ngotot ingin tiba di kawah putih. Saya memberi pilihan untuk main saja di dalam kota Bandung, bisa jajan makanan, beli oleh – oleh, keluar masuk FO atau bahkan main – main ke mall. Apapun lah yang lebih ringan dan gak sibuk cari jalan seperti saat itu. Namun kawan tersebut masih saja terlihat ingin melanjutkan niatnya. Mungkin benar – benar berharap hingga sempet terfikir kawan tersebut tidak memperhitungkan kondisi kawan yang lain.

Melajulah kami selanjutnya kearah Ciwideuy dengan terus bertanya sepanjang jalan serta bantuan telepon sana sini dari mulai kawan hingga keluarga saya yang tinggal di Bandung. Dalam perjalanan ini, saya mewakili kawan – kawan yang lain memutuskan bahwa apabila jam 5 sore kami masih belum tiba di tempat tujuan maka kami harus memutar arah dan menghabiskan waktu di tempat lain. Setidaknya masih ada kawan – kawan lain yang berhak juga memilih waktunya untuk digunakan untuk acara menyenangkan yang lain daripada menghabiskan waktu dalam perjalanan yang sudah mulai tidak kalkulatif lagi.

Merangkak naik ke arah Kawah Putih setibanya di daerah Ciwideuy, kami dihadapkan dengan situasi yang amat memusingkan. Macet di pinggiran tebing dari kedua arah dengan jalan yang sempit, kondisi jalan yang tidak  begitu sempurna, kelokan yang amat tajam, bis – bis besar yang sedang berusaha turun dan tidak mendapat jalan, motor – motor yang banyaknya bagai rombongan raron. Suasan tampak membingungkan, semua pengendara mengatur kendaraannya sendiri – sendiri. Beruntunglah kawan saya yang di belakang stir mobil cukup piawai walau ia seorang wanita. Saat itu berfikir entah membela apa saya ada disana dan terjebak dalam situasi yang menyulitkan bergerak itu. Mungkin hanya agar salah satu kawan saya itu tidak kami kecewakan juga menghindari yang bersangkutan akan merengut sepanjang pulang nanti, walau kami yang lain harus sedikit berkorban waktu.

Setelah melalui simpul – simpul macet di sepanjang kelokan tebing tadi tiba juga kami di daerah kawah putih. Sedikit terlewat sedikit karena kawan saya yang menyetir dan saya yang duduk di depan tidak hafal jalan masuk yang ternyata telah kami lewati.

Ada kenyataan pahit setibanya di pintu gerbang Kawah Putih, waktu telah menunjukan pukul 17.05, kami tidak diizinkan masuk karena gerbang di tutup pukul 17.00 dan dengan pertimbangan tidak ada penerangan di dalam sana, petugas pintu masuk tidak mengizinkan kami masuk. Kawan saya yang ngotot masuk sudah mulai menangis dan meminta saya melobi pihak gerbang agar diizinkan masuk. Maka turunlah saya dari mobil dan pada akhirnya kami tidak masuk*. Wah sudah terbayang tuh bagaimana reaksinya. Pastilah makin bercucuran air mata kawan saya tadi, tapi hal – hal seperti ini tidak dapat kita hindari begitu yang saya ucapkan pada kawan saya tersebut. Ada hal – hal yang berada di luar kendali kita, ada keadaan – keadaan tertentu dimana kita tidak cukup terpuaskan. Lucu dan kasian juga melihat kenapa kawan saya sampai menangis seperti itu. Jika ia boleh menangis karena keinginannya tidak terpenuhi berarti kami yang lain di dalam mobil juga boleh menangis karena lelah dan kehilangan waktu kami untuk merasakan suasana kota Bandung dengan cara yang lebih menyenangkan dari sekedar duduk di mobil berpuluh – puluh jam. Apalagi kawan kami yang menyetir mungkin boleh menjerit histeris karena pegal – pegal menyetir begitu lama tanpa ada pengganti.

Hikmah dari kejadian ini, kadangkala ketika kita ingin mencapai keinginan kita kita tetaplah harus memperhatikan kepentingan juga kebutuhan orang lain yang terkait dalam proses pencapaian tadi. Dan sebaliknya ketika kita dihadapkan dengan keinginan orang lain, hendaklah kita berusaha membantu mewujudkannya jikalau kita mampu. Dan kedua hal tadi akan sama – sama menyenangkan untuk dilakukan ketika kedua belah pihak saling merasakan posisi pihakn lain dan saling bertoleransi. Setidaknya bertoleransi terhadap keinginan diri sendiri.

Setiap dari kita tentu saja kerap berharap apapun yang kita inginkan akan terwujud. Siapa yang berharap kebalikan dari hal tersebut? Tapi pada kenyataanya tidak setiap apa yang kita inginkan akan berjalan berdasarkan apa yang kita inginkan. Bisa saja yang terjadi semua persis seperti yang kita harapkan, bisa juga sedikit sesuai seperti yang kita inginkan tapi tidak sepuas yang kita bayangkan, ada juga yang sama sekali tidak sama dan sempurna mengecewakan kita bahkan juga bisa saja malah melebihi apa yang kita harapkan.

Pilihan – pilihan situasi tadi sering terjadi dalam kehidupan sekeliling kita, baik itu terhadap kita sendiri juga terhadap orang lain. Ada yang kecewa karena cita – cita tidak tercapai, ada yang jodoh harapan sesuai bayangan tidak jadi milik kita, ada yang berharap mendapatkan lebih dari orang lain tetapi mendapatkan sesuatu yang amat kurang, ada yang berharap kaya ternyata tidak pernah merasa cukup kaya, dan sebagainya.

Hal – hal tersebut sama terjadi pada setiap orang, yang membedakan hanya bagaimana tiap orang tersebut menanggapi ketika ketidaksesuaian keinginan dengan kenyataan terjadi pada orang tersebut. Saya pun kadang juga sedikit kalah dalam menanggapi kenyataan ketika kenyataan tidak begitu berpihak pada diri saya. Tapi pada dasarnya setiap orang dari kita berhak mendapatkan waktu untuk mampu belajar dari segala kejadian dalam kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s