Uje Meninggal di Usia Muda

Semacam dejavu ketika saya akan menulis di blog ini perihal kematian di usia muda. Rasanya baru kemarin saya menulis tentang maut yang hobi datang tiba-tiba tak pandang usia ketika tersiar kabar akan kematian Aktor sekaliguss wakil rakyat Adjie Massaid.

Kali ini, saya menuliskan kembali peristiwa mati muda dari seorang da’i yang beberapa tahun kebelakang cukup dikenal di Indonesia. Wajahnya familiar di acara-acara televisi. Dialah Ustadz Jeffry Al-Bukhori.

Dikabarkan meninggal dunia dini hari Jumat, 26 April 2013 di Jakarta setelah mengalami kecelakaan tunggal di motor gedenya. Ustadz yang dikenal masyarakat luas dengan sapaan Uje ini akhirnya tak tertolong nyawanya dan mengakhiri cerita hidupnya di usia ke-40 tahun.

Kabar ini tentu mengagetkan. Beliau tampak muda, sehat, dan aktif. Meninggal pada usia yang menanjak matang, almarhum meninggalkan seorang istri dan 4 anak-anak yang masih kecil-kecil.

Maut mungkin memang seperti itu. Mengejutkan dan tak pandang usia. Cabut maka cabutlah. Allah memanggil maka makhluk berpulang.

Uje mungkin sudah dengan urusan dirinya sekarang. Bersiap menjalani kehidupan lain setelah kematian itu sendiri dan menuju masa pertanggungjawaban kisah2nya ketika hidup.

Sepertinya Uje termasuk hamba yang beruntung. Dipanggil Allah SWT di usia muda tatkala ia sudah dan sedang merapihkan kehidupan dan dirinya sendiri. Sering bercerita bagaimana ia menghabiskan masa remaja dan segala kenakalannya, Uje tersentuh hidayah dan membalikan segala cerita hidupnya dan menjalani hidup dengan lebih soleh bahkan ikut aktif menggiatkan aktivitas keagamaan kepada jemaah dan kawan2nya.

Jikalau dan semoga iya, taubatan Uje akan masa remajanya diterima oleh Allah SWT dan segala ibadah dan aktivitas keagamaan serta jalan hidupnya sebelum kematian dihitung oleh Allah sebagai tumpukan amal, rasa-rasanya Uje adalah makhluk yang beruntung. Diberi kesempatan memperbaiki diri, memiliki keinginan untuk mengajak pada kebaikan lalu dipanggil oleh Allah sebelum kemungkinan-kemungkinan dosa dan khilaf lain yang mungkin terjadi ia lakukan. Semoga dosa2nya terhapuskan, dan amal2nya menjadi jalan kebaikan bagi almarhum.

Jalan panjang bagi sang istri yang dititipkan empat anak kecil dalam pengasuhannya yang sekarang seorang diri. Entah lautan sabar macam apa yang sebaiknya ia genggam. Tapi sebagaimana layaknya kita orang beriman, sebaik-baiknya duka tentu saja duka yang menjadikan kita lebih dekat dan yakin akan kebesaran Allah SWT.

Kepergian ayah, suami yang begitu tiba-tiba tentunya akan membuat dunia sejenak terasa terhenti. Mungkin adakalanya terasa berputar dengan terbalik. Tapi manusia yang masih hidup bagaimanapun sakitnya sebuah kehilangan, langkah kaki harus terus melangkah ke depan.

Semoga dikuatkan hati dan imannya Istri Uje, Dibesarkan hati anak-anaknya yang kini yatim. Dimudahkan rizkinya hingga mereka tumbuh besar nanti.

Kematian seseorang akan selalu menjadi pengingat bagi kita akan kematian itu sendiri. Kita sesungguhnya adalah milyaran manusia yang sedang mengantri untuk berpulang ke haribaan ALLAH SWT.

Blogpost ttg Adjie Massaid : http://akuiniobenk.wordpress.com/2011/02/06/tatkala-maut-tiba/

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s